HMINEWS.COM

 Breaking News

Ali Jaka 3

Ali Jaka 3
October 18
12:53 2013

Awal bulan Mei. Jakarta kembali bergeliat dinamis. Warna merah, biru, dan sebagian putih, mewarnai jalan Sudirman, Thamrin hingga Medan Merdeka. Warna-warna itu bergerak bagaikan sapuan kuas di atas kanvas yang memanjang berkilo-kilo meter. Mobil-mobil dan bus yang biasa menjadi penguasa jalanan Ibu Kota, kali ini terpaksa tersingkir dan hanya mampu merangkak. Suara dari pengeras suara dengan lantang keluar.

“Kawan-kawan! Rapatkan barisan. Jangan terprovokasi. Ingat, tuntutan kita sederhana. Naikkan upah sekarang juga!!,” kata seorang orator.

Dua ratus meter di atas massa menyemut itu, sebuah heli lewat membisingkan telinga. Di dalamnya tiga orang pria, plengak-plengok melihat ke bawah mereka. Yang seorang pilot, dua yang lainnya, bos besar berusia 60 tahun, dan seorang CEO berumur 40 tahun. Mereka itulah pemilik perusahaan real estate raksasa dan pemimpin puncak dari PT. Pigland Tbk. Rupanya pagi itu mereka hendak menuju kantor pusat PT. Pigland yang berdiri megah di bilangan Rasuna Said.

CEO yang berpakaian jas hitam dengan dasi biru itu mulai mengoceh. “Buruh di sini memang nggak tahu diri,” katanya sambil menoleh ke bawah dari kursinya di heli itu. “Syukur mereka dikasi kerjaan sama pengusaha. Coba kalau pengusaha pindah ke Vietnam, mereka bisa apa?” lanjutnya. Bos besar dengan jas biru tanpa dasi tidak menyahuti ocehan CEO kesayangannya itu. Dia terus saja mengawasi buruh-buruh yang bergerak ritmis di bawah mereka.

Dari sekian banyak CEO-CEO perusahaan miliknya, hanya George Sudibyo yang paling sering diajak mendampingi dirinya jika sedang berada di Indonesia. Maklum, dalam sebulan dia dengan teratur membagi waktu. Sepekan di Singapura, sepekan lagi di Hongkong, sepekan lainnya di Shanghai, barulah sepekan berikutnya di Jakarta.

Meskipun dia kelahiran Surabaya, tapi familinya masih banyak yang tinggal di Cina daratan. Kakeknya, pertama kali datang ke Indonesia, jauh sebelum kepulauan ini bernama Indonesia. Saat itu, di Cina daratan terjadi perang candu. Berbekal nekat dan informasi alakadarnya bahwa sepupunya ada yang menetap di Surabaya, maka kakeknya pun berlayar menuju Surabaya. Hanya dalam sebulan setelah tiba di Jawa, kakeknya sudah menemukan sepupunya itu. Ternyata sepupu kakeknya itu merupakan pengusaha yang menekuni usaha perdagangan beras. Usahanya berkembang hingga sepupu kakeknya itu telah memiliki 10 toko beras dan 2 kilang penggilingan padi.

Pertama kalinya, kakeknya membantu sebagai juru bayar terhadap para petani yang menjual beras ke pabrik sepupunya. Dengan cepat, kakeknya sudah menguasai seluk beluk bisnis beras dan menguasai pula sifat dan kelemahan para petani. Para petani itu, jika tiba saatnya panen, tiba-tiba nafsu konsumtif mereka melonjak drastis. Beli ini, beli itu. Yang tidak seharusnya dibeli pun, dibeli hanya untuk bersenang-senang. Bahkan yang menyedihkan, para petani itu tidak segan untuk berutang.

Demikianlah, kakeknya melihat celah bisnis yang bagus. Dia pun menawarkan pinjaman uang yang bisa dibayar atau dicicil setelah panen dengan cara dipotong dari harga jual panenan, tapi dengan syarat, para petani itu harus membeli barang yang dibutuhkan tersebut ke dia. Dan syarat berikutnya adalah jaminan sawah, tanah dan rumah para petani yang mengutang tersebut. Para petani melihat tawaran tersebut suatu yang bagus bagi jalan keluar bagi mereka. Banyaklah di antara para petani itu yang meminjam uang kepada kakeknya. Mereka meminjam untuk konsumsi barang-barang seperti baju, lemari, sepeda, dan peralatan dapur. Semua barang-barang itu dipasok oleh kakeknya juga. Ibaratnya, kakeknya yang menyediakan uang, kakeknya pula yang menyediakan barang. Para petani cukup menyiapkan stamina untuk kuat mencicil dan menyediakan kolateral berupa tanah, rumah dan sawah. Tiba-tiba sejumlah besar petani telah tergantung hidupnya kepada kakeknya. Satu per satu aset pare petani berpindah tangan kepada kakeknya.

Tanpa pernah belajar jadi bankir, kakeknya yang tamatan ELS pun tidak, telah menerapkan fungsi dan cara kerja bank dalam menjalankan bisnis. Di samping itu, kakeknya dengan cerdik memompa hasrat konsumtif para petani, supaya terus berbelanja kepadanya. Singkat cerita, aset kakeknya meluas kemana-mana. Pabrik, sawah, armada angkutan, toko, dan orang-orang yang menggantungkan hidup dengan suka cita, baik sebagai babu, jongos, centeng, administratur, backing polisi, kuli, hingga pejabat yang kartu trupnya ada di tangan kakeknya, sudah menjadi satu kesatuan organik yang selalu siap menjadi tulang punggung usahanya,

Dari kakeknya, kemudian diturunkan ke ayahnya, lalu sekarang kepada dirinya sebagai generasi ketiga. Semua aset, semua arsip, semua tradisi, semua reputasi, semua rahasia, semua jaringan, semua resep, semua amanat kakeknya, semua-muanya kini berada di genggamannya. Dia bertanggung jawab menjaga warisan dan amanat itu. Laiknya seorang pangeran bertanggung jawab menjaga warisan kerajaan. Tidak juga itu, tapi warisan itu harus dikembangkan, dan jangan pernah runtuh. Hanya ketika masa-masa perang, usaha yang dirintis kakeknya itu mengalami kemerosotan yang parah.

Beberapa pabriknya ada yang terbakar. Tidak diketahui secara pasti, apakah dibakar para serdadu untuk taktik bumi hangus, atau memang terbakar tanpa sengaja. Namun dengan kelihaian dan ketajaman intuisi kakeknya dalam melihat mata angin perubahan, akhirnya usahanya tersebut selamat hingga sekarang. Saat itu, kakeknya dengan cerdik membangun hubungan dengan salah seorang komandan tentara republik. Dia dengan suka rela memainkan fungsi perdagangan klandestein guna mengatasi suplai logistik pasukan maupun rakyat pada umumnya. Beberapa kapalnya yang masih tersisa, mengimpor barang-barang dari Penang dan Singapura. Sesekali dia juga menyelundupkan bahan bakar dan senjata kepada kaum Republikan. Pada saat yang sama dia juga mengapalkan hasil-hasil bumi lokal seperti kopra, lada, kedelai, jagung, cengkeh, dan kopi ke Penang dan Singapura untuk kemudian masuk ke dalam sistem perdagangan internasional. Mengingat saudara-saudaranya ada yang berbisnis di Penang, Singapura dan Hongkong, dia mengaktifkan hubungan famili itu menjadi poros yang mengembangkan bisnisnya secara kuat. Demikianlah zaman berganti, tantangan juga berganti, tapi usahanya tidak pernah surut. Bahkan setelah masuk zaman normal, ketika kaum Republik memenangkan peperangan, bisnisnya tak ada kerikil yang dapat menghambat lajunya lagi. Pemerintah suka sekali menunjuk perusahaan kakeknya untuk menangani proyek-proyek besar.

Di heli itu, owner PT. Pigland Tbk tersebut terkenang wajah kakeknya yang teguh. Sama seperti raut wajahnya. Teguh, kening lebar, rambut memutih, dan botak yang menginvasi sebagian rambut di kepalanya.

Heli itu bergerak turun perlahan menuju helipad yang tersedia di puncak sebuah gedung jangkung. Meraung-raung  memekakkan telinga. Debu-debu beterbangan. Pohon-pohon berkibar-kibar akibat dorongan angin yang dihempas-hempaskan oleh baling-baling helikopter berwarna perak tersebut.

Dua orang laki-laki turun tergopoh-gopoh dari dalam heli. Jas mereka melambai-lambai terkena terpaan angin. Beberapa orang pengawal pribadi, atau lebih tepatnya, jongos keamanan pribadi, telah menunggu dengan sigap. Potongan rambut mereka cepak, tinggi atletis, raut wajah keras seperti karang, beringas, tapi ketika menerima tips yang kadang-kadang jumlahnya 100 dollar, wajah beringas itu tiba-tiba sumringah dan ayu, seolah menyampaikan pesan kepada si pemberi tips: saya akan selalu setia kepada tuan, kapan pun.

Entah kapan CEO dan pemilik PT. Pigland Tbk pernah berdinas di militer, anehnya para jongos itu mengangkat tangan ke kening masing-masing seraya memberi hormat secara militer. CEO dan lelaki botak pemilik PT. Pigland hanya menatap sekilas untuk memastikan apa benar para jongos itu masih orang-orang yang sama. Kemudian mereka menuruni anak tangga dan akhirnya tiba di depan sebuah lift khusus yang menghubungkan helipad dengan sebuah ruangan besar yang menjadi kantor bos besar tersebut.

Beberapa orang telah menunggu dengan siap di jejeran kursi yang mengitari sebuah meja besar. Tampaklah di sana, Meiliana, Vice President untuk Corporate Communication dan Pengawasan Citra Perusahaan. Gadis itu sibuk menyiapkan data di laptopnya. Ada juga, Musdiono yang dirinya lebih suka dipanggil Pak Dion daripada Pak Mus, karena menurutnya nama Dion lebih keren, memberi kesan internasional, ketimbang Mus, yang terkesan lokal dan udik. Musdiono adalah Direktur PT. Security Andalan, mitra kerja PT. Pigland Tbk untuk upaya pembebasan lahan yang akan disulap menjadi Superblok baru di Jakarta. Sebetulnya tidak tepat 100 % jika disebutkan PT. Security Andalan sebagai mitra bagi PT. Pigland. Karena antara PT. Pigland dan PT. Security Andalan tidak dalam posisi sejajar. Seringkali PT. Security Andalan menempatkan diri sebagai piaraan sekaligus perusahaan suruhan bagi PT. Pigland. Lagi pula setiap ada order dari PT. Pigland, jarang sekali terjadi penandatanganan MOU atau SPK. Toh setiap bulan PT. Security Andalan menerima aliran dana dari PT. Pigland Tbk, ada atau tidak ada order. Bagi PT. Pigland sendiri, keberadaan PT. Security Andalan yang terikat secara moral kepada mereka, merupakan keuntungan tersendiri. PT. Pigland mendapatkan benteng dan nama baik di kalangan para pemuda pengangguran yang direkrut melalui PT. Security Andalan secara outsourching. Banyak dari pemuda-pemuda tersebut ditempatkan sebagai Satpam, petugas parkir, driver perusahaan, office boy, cleaning service, dan aneka pekerjaan mengandalkan otot lainnya. Pemuda-pemuda tersingkir dari arena pertarungan ekonomi tersebut, tentu saja senang dengan kesempatan yang diberikan oleh PT. Pigland. Sedangkan PT. Security Andalan hanya bertugas melatih kedisiplinan khas tentara kepada pemuda-pemuda yang rata-rata tidak hanya sampai lulus SMP-SMA tersebut.  Begitu mereka direkrut oleh PT. Security Andalan, jangan harap ada pilihan untuk keluar sebelum mencapai 10 tahun batas kontrak kerja. Jika sebelum masa ikatan kerja 10 tahun itu diakhiri sepihak oleh rekrutan tersebut, maka sama halnya dipandang desersi. Dan apabila desersi, nyawa terancam.

Demikianlah, baik PT. Pigland Tbk maupun PT. Security Andalan, mendapatkan surplus tenaga buruh yang murah dan pasti. Beratus-ratus milyar telah direguk oleh PT. Security Andalan dari jasa suplai buruh murah ke berbagai perusahaan, baik di lingkungan grup PT. Pigland Tbk maupun mitra-mitra perusahaan PT. Pigland sendiri. Pendeknya, sistem outsourching benar-benar memberikan keuntungan yang tak tertara bagi PT. Security Andalan maupun PT. Pigland Tbk.

Bos besar dan CEO PT. Pigland Tbk masuk ke dalam ruangan. Musdiono, spontan bangkit member hormat secara militer. Meiliana juga berdiri sembari membungkukkan badan. Bos besar dan CEO PT. Pigland Tbk mengambil tempat duduknya masing-masing. Rapat pun dimulai.

“Selamat siang. Sebagaimana yang sudah saudara-saudari ketahui, kami ingin mendengar secara langsung laporan perkembangan upaya pembebasan lahan untuk Superblok Permata Pigland yang sedianya dapat diselesaikan akhir akhir bulan ini. Sebab, jika upaya pembebasan lahan itu tersendat, maka rencana akan mempengaruhi rangkaian rencana berikutnya. Sekarang saya silahkan saudari Meiliana melaporkan terlebih dahulu,” ujar CEO PT. Pigland membuka rapat secara langsung. Memang gaya rapat orang-orang PT. Pigland selalu to the point. Mereka pantang buang-buang waktu untuk basa-basi yang tidak perlu. Mereka menyadari betul pentingnya waktu, barang semenit pun.

Baik, Pak Goerge,” sambut Meiliana. “Perkembangan terakhir terkair upaya pembebasan lahan memang tersendat di lokasi 101.” Meiliana menunjukkan titik lokasi pada layar infocus. Selain lokasi 101, yang lain nyaris tidak ada hambatan berarti. Sebagian tinggal dibayar saja. Namun ada kehawatiran, pemilik lahan 101 ini dapat mempengaruhi pemilik lahan-lahan lain.”

“Apa sih masalahnya?” tanya Soe Kiat, Bos besar agak penasaran.

“Lokasi 101 dengan luas 1000 meter milik seorang bernama Haji Maih. Sudah dicoba untuk membujuk yang bersangkutan supaya melepas tanah tersebut, tapi orang ini tidak bergeming. Terakhir kita sudah minta Pak Dion, pimpinan PT. Security Andalan, membereskan masalah tersebut. Mungkin kita perlu mendengarkan laporan langsung dari Pak Dion,” ujar Meiliana panjang lebar seraya mengalihkan pandangannya kepada Musdiono. Semua mata beralih menuju Musdiono.

“Begini, Pak. Saya sudah mulai tangani masalah pembebasan lahan 101 tersebut, begitu email Ibu Mei kami terima. Saya sudah ketemu langsung pemilik tanah. Orangnya memang rada-rada keras kepala. Biasalah, orang Betawi. Tapi jangan hawatir, bisa dibereskan, Pak,” kata Musdiono dengan maksud menenangkan hati Bos besar sembari cari muka.

“Gini, Mus,” Soe Kiat angkat bicara. “Masa lu nggak bisa bereskan masalah sekecil itu?” tekan Soe Kiat.

“Saya usahakan secepatnya, Pak!” jawab Musdiono. Dalam hatinya ngedumel, “Ini Pak Soe Kiat, mentang-mentang Bos, dari dulu, nggak pernah panggil saya dengan nama Dion.”

“Ok. Kalau gitu, paling telat seminggu ini, kami tunggu goodnewsnya dari Pak Dion,” ujar Goerge Sudibyo, CEO PT. Pigland Tbk seraya hendak mengakhiri rapat. Hanya saling tatap antara Soe Kiat dengan Musdiono maupun Meiliana, itu pertanda bahwa masalah tersebut harus selesai secepatnya. Dengan cara apapun. Sebab, blueprint Superblok tersebut telah dibuat, dan lahan 101 tepat menjadi lokasi gedung landmark Superblok Permata Pigland. Sungguh aneh, jika landmark tidak bisa dibangun, padahal justru landmark itu sendiri yang menjadi ikon dari design Superblok tersebut.

Akhirnya hati Musdiono sedikit terobati tatkala CEO PT. Pigland Tbk menyebut namanya dengan Pak Dion. Entah kenapa, setiap kali orang memanggilnya dengan Dion, rasa pedenya berkibar dan jiwa mudanya kembali hidup. Sedangkan jika orang memanggilnya Pak Mus, dia merasa seolah orang udik di pedalaman Jawa Tengah.

(Syahrul Efendi Dasopang)

Keterangan: foto Antara

About Author

Redaksi

Redaksi

Related Articles

0 Comments

No Comments Yet!

There are no comments at the moment, do you want to add one?

Write a comment

Write a Comment

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.