Rayu Santi-Santi
karya WS Rendra

Ratap tangis menerpa pintu kalbuku
Bau anyir darah mengagu tidur malamku

Oh tikar tafakur
Oh bau sungai Tohor yang kotor
Bagaimana aku bisa membaca keadaan ini?

Di atas atap kesepian nalar pikiran
Yang digalaukan oleh lampu-lampu kota yang bertengkar dengan malam
Aku menyerukan namamu,
Wahai! Para leluhur Nusantara!

Oh Sanjaya, Leluhur dari kebudayaan tanah
Oh Purnawarman, Leluhur dari kebudayaan air
Kedua wangsa mu telah mampu mempersekutukan budaya tanah dan budaya air,
tanah, air

Oh Resi Kuturan,
Oh Resi Nerarte,
Empu-empu tampan yang penuh kedamaian
Telah kamu ajarkan tatanan hidup yang aneka dan sejahtera
Yang dijaga oleh dewan hukum adat

Bagaimana aku bisa mengerti bangsa phising dari bangsaku ini?

Oh Kajau Lalido,
Bintang cemerlang tanau Bugi
Negarawan yang pintar dan bijaksana
Telah kamu ajarkan aturan permainan di dalam benturan-benturan keinginan yang berbagai ragam dalam kehidupan
Ade, Wicara, Rabang, dan Wali
Ialah adat, peradilan, Yurisprudensi, dan pemerincian perkara
Yang di jaman itu, di Eropa, belum ada
Kode Napoleon 2 abad lagi baru dilahirkan

Oh lihatlah wajah-wajah berdarah dari rahim yang diperkosa
Muncul dari puing-puing tatanan hidup yang porak-poranda
Kejahatan kasat mata tertawa tanpa pengadilan
Kekuasaan kekerasan kaki tangan penguasa berak dan berdahak di atas bendera kebangsaan
Dan para hakim yang tak mau dikontrol korupsinya,
Berakrobat jumpalitan di atas meja hijau mereka

Oh Airlangga, Raja tampan bagai Arjuna,
Dalam usia 17 tahun kau dorong rakyat di desa-desa adat untuk menyempurnakan keadilan hukum adat mereka yang berbeda-beda
Dan lalu kau perintahkan, agar setiap adat mempunyai 40 prajurit adat
Yang menjaga berlakunya hukum adat, sehingga hukum adat menjadi adil, mandiri, dan terkawal
Baru kemudian sesudah itu,
Empu Baradah membantumu menciptakan hukum kerajaan
Yang mempersatukan cara-cara kerjasama antar hukum adat yang berbeda-beda
Sehingga penyair Tantular berseru, Bhinneka Tunggal Ika

Tetapi lihatlah di jaman ini,
Para elit politik hanya terlatih untuk jalan-jalan di pasar
Tersenyum dan melambaikan tangan, sok egaliter!
Tetapi egalitarianisme tidak otomatis berarti demokrasi

Dengan puisi ini aku bersaksi;
Bahwa hati nurani ini, mesti dibakar tidak bisa menjadi abu
Hati nurani senantiasa bisa bersemi, meski sudah ditebang putus di batang
Begitulah, fitrah manusia ciptaan Tuhan, yang maha Esa