Kristian Morville

Berikut alasan sejumlah aktivis yang pernah keluar masuk organisasi yang akhirnya memilih HMI MPO sebagai tempat menempa diri. Dikutip dari disertasi Ph.d.-afhandling Kristian Morville dari Det Humanistiske Fakultet, KØbenhavns Univestitet (Universitas Kopenhagen).

Disertasi tersebut diberi judul “German Minds, Medina Hearts” (Otak Jemarn, hati Madinah), tahun 2004 dengan studi kasus HMI MPO Cabang Yogyakarta.

Perlu diketahui, dalam penelitiannya Kristian Morville, meski mampu menyewa rumah mewah untuk menginap, pada akhirnya memilih untuk melihat lebih dekat dengan cara tinggal bersama sejumlah kader yang menjadi ‘objek’ penelitiannya.

Sebagaimana diungkapkannya sendiri, ia tak segan-segan untuk tinggal di kamar kontrakan dan tidur di lantai beralaskan kasur tipis yang membuat badannya pegal-pegal, memakai pakaian murah sebagaimana yang dipakai kader HMI MPO, makan makanan yang sama dengan yang mereka makan, bersendal murah sebagaimana mereka kenakan.

“I wanted to live the way they do, sleep on the same hard floors as they do, eat in the same inexpensive food stalls as they do, wear the same cheap flip-flops as they do, and share in on the same discussion as they taken up by.”

Selain itu Kristian Morville berhasil mengidentifikasi dua karakteristik yang khas HMI MPO, yaitu kritis dan independen. “Critical reflection and independency are fundamental intellecetual ideals, that one never fully arrive at but has to strive for continually throuhgout ones life, and most young people are not aware of the importance if such grand concepts; they usually have to be made aware of their importance, and this is where HMI MPO comes in.” (73)

Pada halaman 75, tertulis pengakuan Puji, seorang mahasiswi Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY):

“Awalnya saya anggota IMM. Saya ikut diskusi mereka, tetapi tidak merasa cocok karena back-ground pesantren saya. Mereka tidak pernah menyentuh satupun isu keagamaan dan isinya datar-datar saja, maka saya tinggalkan. Tahun berikutnya saya mencari-cari (organisasi) dan akhirnya ketemu HMI MPO. Pada waktu itu saya punya keinginan menggebu mendalamkan pemahaman keislaman saya, aspek ritual dalam Islam yang telah saya pelajari selama di pesantren. Tetapi begitu saya masuk, HMI MPO tidak pernah menyuguhkan hal itu. Kami tidak shalat berjama’ah, dan saya sangat kecewa, tetapi kemudian saya menyadari bahwa saya telah cukup tahu bagaimana aspek ritual tersebut. Tetapi, saya menemukan makna di balik ibadah ritual tersebut yang saya cari selama ini, dan HMI MPO menyediakan itu.” (75)

Soema, mahasiswi UIN Yogyakarta dengan latar belakang pendidikan pesantren pun merasa nyaman di HMI MPO. “Saya bergabung dengan PMII di akhir tahun pertama kuliah, karena secara kultural merekalah yang paling dekat dengan saya, tetapi saya tidak merasa nyaman dengan mereka. Seperti tidak ada ikatan yang mempersatukan kami bersama. Mereka menjadi sangat liberal, sepertimana mereka tidak peduli moral publik. Saya tidak suka dikontrol, tetapi saya juga tidak suka dilepaskan tanpa panduan moral sebagaimana terjadi di PMII. Hanya setelah saya datang ke HMI saya mendapatkan sense of responsibility. Saya tidak selalu setuju dengan alumni HMI MPO, dan kadang-kadang ingin meninggalkan organisasi ini, tetapi terus saya menyadari ada banyak hal saya tidak fahami; sesuatu hal yang hanya dapat saya pelajari di HMI (MPO). (75)

Ammy, seorang mahasiswi UMY juga yang pernah meninggalkan HMI MPO dan bergabung dengan KAMMI, namun kemudian kembali ke HMI MPO:

“Saya tidak tahu menahu tentang HMI dan waktu saya masih di SMA. Tetapi saya dikasih pamflet organisasi ketika saya datang ke universitas dan seorang teman berbicara tentang HMI MPO dan mengajak saya bergabung dalam basic training. Saya bayangkan HMI MPO sangat religius dan setelah itu saya mendaftar untuk training (LK1) pada permulaan semester 3.

Training mencakup sejumlah materi keagamaan, tetapi mereka membuat saya sangat bingung, khususnya ketika saya gabung berdiskusi tentang Tuhan. Setelah itu saya sangat kebingungan tentang eksistensi Tuhan, ada atau tidak, kemudian saya tinggalkan HMI MPO dan masuk KAMMI. Tetapi KAMMI tertalu ekstrem dan terlalu eksklusif. Semua yang kami bicarakan semata masalah agama. Diskusi intelektual tidak diizinkan, dan ada batasan ketat tentang bagaimana kami berhubungan dengan teman laki-laki. Saya sering berbeda pandangan dengan teman KAMMI, dan saya merasa bahwa kami menghabiskan waktu terlalu banyak untuk diskusi keagamaan, maka setelah satu tahun saya putuskan kembali ke HMI MPO.”