“Kalau kita begini terus, aku pulang saja! Mana cukup belanja satu juta sebulan. Dapat apa uang segitu! Belanja harian saja sudah habis,” kata istri laki-laki muda itu. Anak-anak mereka sudah tidur. Laki-laki itu tertunduk. Dia sebetulnya tidak tahan harga dirinya dibanting begitu rupa. Habis mau nambah berapa lagi, gajinya juga Rp. 1,3 juta. Sementara istrinya tidak mau memahami keadaannya itu.

“Nih, ambil saja!” Tiba-tiba istrinya meletakkan uang 1 juta itu di hadapannya. Terbayang betapa susahnya dia mengumpulkan 1 juta rupiah itu dalam 25 hari kerja. Sebetulnya, jika tidak mempertimbangkan nasib anak-anaknya, sudah sejak lama dia berniat memulangkan perempuan itu ke orang tuanya. Namun terbayanglah di matanya bagaimana pilunya nasib buah hatinya, jika tumbuh dan dewasa tanpa belaian dua orang tuanya secara lengkap. Sementara istrinya, sama sekali tak memperhitungkan hal itu. Perempuan itu begitu ambisius dalam mengejar materi. Istrinya itu berhasrat sekali hidup layaknya kelas menengah, punya mobil, rumah yang besar, dan duit yang terus menerus tersedia.

“Aku besok sama anak-anak pulang saja. Aku tidak mau hidup miskin. Sudah 5 tahun kita lalui, hidup kok begini terus. Memang saya nggak bisa kaya tanpa kamu?” kata istrinya ketus.

“Ok. Silakan kau besok pulang.” Laki-laki malang itu tak mampu melanjutkan ucapannya. Luka hatinya sangat dalam. Dihina sebagai laki-laki dan ayah, disudutkan karena ketidakberdayaan secara ekonomi.

Dia tinggalkan perempuan berhati kasar itu. Dia pergi ke rumah temannya untuk meredakan luka hatinya. Kepingin sekali dia hendak menampar mulut istrinya yang lancung, tapi dia berusaha sadar diri jangan sampai tangannya menghantam pipi seorang perempuan. Dia tak sanggup lakukan perbuatan itu, karena dia ingat ibunya yang juga perempuan.

Malam itu dia benar-benar tidak dapat memejamkan mata. Bayangan-bayangan peristiwa selama 5 tahun hidup bersama, muncul silih berganti. Mulai dari pertama berjumpa dengan perempuan itu. Waktu itu tampaklah kesan baginya bahwa perempuan itu cocok sekali dengan impiannya. Ada kesan tegar dalam sorot mata perempuan tersebut. Dia pun berpikir, sekiranya hidup bersama, susah senang bukanlah sesuatu yang berat bagi perempuan tersebut. Demikianlah dia menduga-duga waktu itu.

Kemudian muncul pulalah bayangan saat mereka di pelaminan. Dirayakan demikian megahnya. Seluruh kerabat meramaikannya. Lantas lahirlah anak-anak mereka yang lucu. Setiap hari, sebelum berangkat ke kantor di Jakarta, senantiasa dia antarkan terlebih dahulu anak-anaknya ke TK. Tidak hanya itu, dia pun selalu memandikan anak-anaknya. Menghandukinya, memakaikan baju seragam TK, menyisiri rambut anak-anaknya, sampai mengantarkan dengan mobil tuanya ke TK anak-anaknya. Dia tidak pernah lupa bagaimana indahnya ketika kedua buah hatinya duduk melambaikan tangan kepada Ibu mereka dengan mengucapkan, “Daaa….Ibu. assalamu’alaikum!!”

Kini dia merasa adegan-adegan semacam itu di hari-harinya yang akan datang sudah tidak ada lagi. Perempuan yang telah melahirkan anak-anaknya yang manis itu, telah menghancurkan cerita dan menggantikannya dengan cerita lain: seorang ayah yang terhina dan dipaksa pisah dengan permata-permata hatinya.

“Om, kok belum tidur?” tegur Ali Jaka. Ali Jaka melihat lelaki itu menatap ke langit-langit kamar tidur bagaikan orang yang sedang menerawang.

“Nggak apa-apa,” jawab lelaki itu sembari menoleh ke Ali Jaka. “Ayahmu belum pulang, Li?” tanyanya balik.

“Belum, Om. Biasanya pulang jam satu malam.”

“Kok, gitu?”

“Ya. Lagi banyak kerjaan katanya.”

“Ohh.”

Tidak berapa lama kemudian, suara mobil menderu memasuki garasi rumah. Seorang laki-laki berusia 40 tahun, muncul dari balik pintu depan. “Assalamu’alaikum!”

“Wa’alaikum salam!”

“Hei, kompek. Datang kau rupanya. Sudah lama?” tanya laki-laki itu.

“Baru,” jawab laki-laki yang baru bertengkar dengan istrinya itu. Mereka berdua adalah kawan karib sejak sama-sama aktif pada sebuah kelompok mahasiswa. Kelompok mereka, 20 puluh tahun yang lalu merupakan kelompok yang paling menonjol melancarkan protes-protes kepada pemerintah dan perusahaan-perusahaan tambang.

Kini, masing-masing melakoni nasib dan hidupnya. Meski terpaut lima tahun antara mereka berdua, namun persahabatan mereka tidak terpisahkan oleh umur yang berjarak. Nasib saja yang berbeda. Konrad, ayah Ali Jaka, telah menikah sejak usia 20 tahun. Namun ketika melahirkan Ali Jaka, istri Konrad meninggal dunia akibat pendarahan hebat. Maklum, ketika itu, persalinan istrinya dilakukan di rumah seorang dukun kampung. Belum sempat diantar ke rumah sakit yang jaraknya puluhan kilo meter dari desa, istrinya telah menghembuskan nafas terakhir. Konrad sangat menyesal tidak sempat menolong nyawa istrinya. Yang dia syukuri, anak laki-laki yang dilahirkan istrinya, selamat dan kini sudah kuliah. Sejak itu dia tidak kunjung mencari pengganti istrinya.

“Man, kau tidurlah duluan. Besok pagi kita ngobrol,” pinta Konrad kepada sohibnya itu. Astaman yang mendengar saran Konrad, berjalan menuju kamar tidur. Kamar tidur itu, selalu menjadi tempatnya jika bermalam di rumah Konrad. Sedangkan Ali Jaka dan ayahnya, Konrad, sejak balita sudah tidur sekamar. Meskipun Ali Jaka telah dewasa, tetap saja dia tidak bisa pisah kamar dari ayahnya.

Astaman tetap tidak bisa memejamkan mata. Terbayang di matanya, kedua permata hatinya. Dia belum siap menjalani hidup seperti Konrad. Apalagi antara Konrad dengan dirinya berbeda. Konrad ditinggal mati istrinya. Sedangkan dia calon yang akan ditinggalkan hidup istrinya. Ah..hidup ini sangat memalukan jika cerai hanya gara-gara persoalan ekonomi. Tapi mau apa lagi. Itulah kenyataan yang sedang dia hadapi.

Selama ini dia tak pernah bayangkan, perceraian terjadi gara-gara ekonomi. Apalagi jika dia bandingkan dengan rumah tangga yang dibina oleh kedua orang tuanya yang jauh lebih susah dari rumah tangganya, tapi tak pernah dia mendengar pertengkaran meledak antara kedua orang tuanya. “Apa karena Ibu dan Ayahku tak mengecap perguruan tinggi yang mengajarkan sikap liberal?” batinnya. “Kurang sengsara apa, Ibu. Kadang kami harus makan nasi aking. Tapi nggak ada protes. Wajah Ibu tetap seteduh pohon beringin. Ibu…anakmu rindu memeluk wajah welas asihmu.”

Semalaman penuh dia mengenang perjalanan hidupnya. Mulai dari kecil hidup di pelosok Jawa. Kuliah di Bandung, lalu bertemu seorang gadis sekampus yang kemudian menjadi istrinya. Hingga kokok ayam bersahutan menandakan subuh telah datang, matanya tetap menyala. Jiwanya lelah. Dia mencoba menyegarkan pikirannya dengan menunaikan shalat Subuh. Setelah itu tetap saja dia tidak bisa tidur.

Pagi sudah menyapa. Mbok Sita telah menghidangkan sarapan di meja makan. Ali Jaka sudah siap dengan sendok dan garpunya. Demikian pun dengan Konrad, ayah Ali Jaka. Astaman dengan tenang melangkah untuk bergabung ke meja makan. Buah-buahan segar terdiri dari semangka, pepaya, rambutan, dan manggis telah dari tadi menunggu tangan-tangan yang siap menyantapnya.  Segelas susu coklat di hadapan masing-masing dari orang-orang yang mengitari meja itu telah tersedia. Nasi, gule asam ikan baung hasil tangkapan Konrad seminggu sebelumnya, mengepul di hadapan mereka. Udang goreng dan sambal goreng teri medan tidak kalah sedapnya merayu-rayu selera makan.

Sebetulnya mereka sedang makan siang apa sarapan? Begitu kira-kira dugaan heran orang Jakarta yang tidak mengenal gaya makan Konrad yang berasal dari Tapanuli. Bagi orang Tapanuli, pagi, siang, atau malam, jika makan, ya tetap makan dalam porsi besar. Semua waktu jika tiba saatnya makan, ya makan besar, selama bisa dipenuhi.

Ayah dan anak itu seperti beradu kuat menyantap hidangan. Tapi tidak dengan Astaman. “Hei, Man! Ada apa denganmu? Kenapa kau tak santap gule baung, tu? Biasanya kau yang duluan menyambarnya, jika ada gule baung,” tanya Konrad kepada sahabatnya, Astaman.

“Nggak apa-apa, Rad,” jawab Astaman singkat.

“Ada masalah apa, kau?”

“Ah, kau tak perlu tahu.”

“Woi! Sejak kapan pula aku tak perlu tahu dengan masalahmu, Man? Mana boleh.”

“Ah…sudahlah, Rad.”

Konrad memandangi sahabatnya itu dengan tajam. Dia dapat menangkap ada masalah serius yang membebani Astaman.

“Om, Ayah. Ali duluan, ya.” Tiba-tiba Ali Jaka menyela.

“Sepagi ini? Tumben kau ini,” jawab Ayahnya.

“Ya. Aku mau ada urusan dengan calon pembimbing skripsi.”

“Ya, sudah. Hati-hati ya, Nak.”

“Sip. Assalamu’alaikum!”

“Kum salam.”

Selepas Ali Jaka meninggalkan mereka, kembali Konrad bertanya kepada Astaman. “Man, cobalah kau cerita. Ada masalah apa rupanya, kawan?”

“Begini, Rad. Istriku memutuskan pulang ke orang tuanya. Sebetulnya dia sudah berkali-kali menguatarakan hal itu, tapi selalu dapat kuurungkan niatnya. Kalau ada masalah sedikit, selalu saja dia mengancam pulang. Selama ini memang aku sengaja merendahkan hati untuk menghalangi niatnya. Bagaimana pun aku lebih baik menanggung rasa sakit hati ketimbang melihat anak-anakku menghadapi kenyataan pahit berpisah dari ayahnya. Tapi tadi malam aku sudah panas, Rad. Dia betul-betul merendahkanku hanya karena uang pemberianku tak cukup bagi dia. Aku persilahkan saja dia pulang seperti keinginannya itu,” ujar Astaman panjang lebar.

“Jadi istrimu itu sudah pulang?” tanya Konrad bermaksud memastikan.

“Pulang atau tidak pulang, aku tak peduli.”

“Bagaimana dengan anak-anakmu?”

“Mereka ikut ibunya.”

“Kenapa tidak ikut kau saja?”

“Aku ini tak tega jika anak-anak nanti bertanya dimana Ibu mereka. Kalau aku, karena sering bepergian, anak-anak tidak terlalu heran jika aku tak ada. Mungkin nanti saatnya, anak-anak aku tarik ke sini.”

“Kau sudah yakin dengan keputusanmu itu?” tanya Konrad.

“Lagi pula aku sudah muak, Rad. Kayak aku tak bisa cari yang lebih baik dia pikir. Kupikir selama ini aku sangat setia, Rad. Persoalan kami hanya soal duit. Aku akui aku miskin, Rad, sehingga tak bisa memberinya uang berlebih. Tapi, tak pernah juga kami terancam kelaparan.”

Konrad dengan cepat menghubungi nomor istri Astaman. “Hallo! Asslamu’alaikum!”

“Wa’alaikum salam,” jawab istri Astaman. “Siapa ini?” sambungnya.

“Ada Astaman, Bu?” tanya Konrad berpura-pura.

“Nggak ada.”

“Saya Konrad, temannya Astaman. Ibu ada di rumah?”

“Nggak. Saya lagi menuju stasiun.”

“Emang, mau kemana, Bu?”

“Mau jalan-jalan sama anak. Pulang ke rumah neneknya.”

“Apa masih pulang lagi ke rumah di Bekasi?”

“Lho, kenapa tanya?”

“Nggak apa-apa kok, Bu. Soalnya saya ada proyek dengan Astaman. Tadi saya pikir Astaman ikut juga menyusul Ibu ke rumah neneknya.”

“Nggak. Dia tetap di Bekasi, kok. Saya dan anak-anak saja yang pulang.”

Astaman tidak menyangka jika Konrad sekonyong-konyong menghubungi istrinya. Timbul rasa ngilu jika mengingat sikap istrinya tadi malam. “Kau nggak usah bela-belain hubungi istriku, Rad. Sudah kubilang, mau pulang atau tidak, aku sudah biarkan. Yang penting, anak-anak aman dulu.”

“Aku turut prihatin, Man. Semoga jalan keluar tidak lama datang menghampirimu, kawan,” hibur Konrad.

“Terima kasih perhatianmu, Rad. Aku dalam waktu dekat ini, mengambil S2 ke Medan saja. Sekalian melupakan dia. Kebetulan telah lama aku menaruh minat studi antropologi terkait objek kajian Mandailing. Kudengar di Unimed ada seorang professor yang siap membimbing mahasiswa S2 dalam kajian budaya Mandailing.”

“Kenapa pula kau tertarik dengan objek studi semacam itu?”

“Rad, biar bagaimana pun, meskipun aku lahir di Jawa, ibuku juga Jawa, tapi kan ayahku Mandailing. Aku mau memahami akarku sendiri.”

Konrad pun sebetulnya menyimpan hasrat untuk melanjutkan studi. Namun karena kesibukannya sebagai pengusaha, hasrat itu dia tepiskan. Usahanya di bidang alat-alat kesehatan dan farmasi belum sepenuhnya mapan, tetapi keuntungan yang dia raih sudah lebih dari cukup untuk membiayai dirinya dan putranya, Ali Jaka.

“Aku mau membantumu, Man. Aku tahu problemmu adalah soal uang. Aku ini kawanmu. Kupikir tak ada salahnya kau sambil kuliah di Medan, menyambi pula sebagai prinsipalu untuk perusahaan. Bagaimana? Kau mau, Man?” tanya Ali Jaka.

“Kau serius, Rad?” tanya Astaman balik.

“Ah…kau kayak tak kenal aku saja. Kapan aku tak serius padamu, Man?”

“Baiklah. Aku terima usulmu.”

Akhirnya mendung yang menggelantung di raut wajah Astaman, perlahan-lahan sirna, berganti setitik demi setitik sinar cerah. Betapa tidak, dia tidak saja akan menggenapi hasratnya untuk S2 antropologi, tapi juga sekalian bisa cari duit lewat bisnis alat kesehatan di tempatnya nanti yang baru.