Anak muda itu dengan gesit menunggangi trail Kawasaki-nya. Menerobos jalanan macet dari Pasar Rebo, melewati TB Simatupang, berkelok ke kiri menuju Lenteng Agung, seterusnya lurus menuju Depok, kampusnya di Fakultas Hukum UI. Banyak pengendara mobil memaki-maki gara-gara nyaris menyerempet trailnya. Bukan karena takut menabrak anak muda tersebut. Mereka lebih hawatir jika mobil-mobil kreditan mengkilap itu tergores. Tapi anak muda itu tidak peduli. Sekali gas ia melesat meninggalkan orang-orang kantoran yang dilanda stress itu.

Kali ini tanpa sengaja, akhirnya stang motornya menyenggol kaca spion sebuah sedan berwarna metalik. Di dalamnya seorang gadis bermata sipit, berusia 22 tahun, dengan cepat menghentikan mobilnya. Kaca jendela mobilnya ia turunkan. Anak muda itu dengan sportif ikut berhenti. Ia meminta maaf atas ketidaksengajaannya itu. Rupanya gadis itu tidak terima minta maaf begitu saja. Soalnya kaca spion mobilnya retak dan sebuah goresan besar menggaris gagang spionnya.

 “Apa katamu!? Minta maaf? Tidak semudah itu,” hardik gadis itu. Orang-orang di belakang mereka mulai ribut. Suara klakson beradu kencang.

“Ok. Lebih baik kita selesaikan di pinggir jalan,” kata anak muda itu dengan tenang. Ia dengan pelan-pelan menuntun motornya ke tepi jalan. Demikian juga gadis itu. Lalu turunlah gadis dengan tubuh semampai berkulit kuning langsat dibalut rok hitam setinggi lutut dengan blaser dengan warna sepadan.

“Hei! Kau taruh dimana matamu. Kenapa kau senggol mobilku?” serbu gadis itu sambil berkacak pinggang dengan tidak sabar.

“Sorry, Non. Tadi mataku saya taruh di kaca spion mobilmu. Makanya stang motorku mengarah ke situ,” jawab anak muda itu  dengan lembut, tenang, tapi rada menantang. Matanya tajam menusuk mata gadis itu.

“Kurang ajar, ya. Kau menantangku?”

“Saya sudah kelebihan ajaran. Aku tidak menantangmu. Kalau aku menantangmu, tentu aku tidak meminta maaf tadi. Dan kalau aku kurang ajar, aku tidak perlu repot-repot meladenimu sepagi ini. Kau bisa kutinggalkan di situ, dan aku ngebut,” jawab anak muda itu santai.

Baru kali ini gadis itu bertemu dengan seorang yang dingin, kukuh, sableng, namun agak nakal. Akan tetapi rasa nakalnya tidak biasa. Kenakalannya bertanggung jawab.

“Aku minta rugi,” kata gadis itu ketus.

“Apa yang merugikanmu?” balas anak muda itu.

“Hei. Kaca spion mobilku telah kau rusak. Dan kau harus ganti itu!”

“Enak saja. Kau yang merugikanku. Kau telah menyita waktuku terbuang percuma. Coba sekiranya kau tidak berada di jalan itu, aku bisa lebih mulus mengendarai motorku. Dan aku bisa tiba tepat waktu ke kampus. Dan perlu kau tahu ya, kerugian immateril yang menimpaku gara-gara kau di jalanan ini, jauh lebih besar ketimbang hanya sepotong kaca spion mobilmu. Sebetulnya aku berniat menuntut ganti rugi atas hal itu, tapi mengingat kau seorang gadis, aku urungkan niat itu,” ujar anak muda itu dengan sorot mata tajam menghunjam.

Rambut ikalnya sebahu, yang sedikit awut-awutan karena tidak di sisir, dengan jaket jins salju yang tampaknya sudah sebulan tidak pernah ketemu Rinso, membuat nyali gadis itu menciut. Apalagi ia sendirian pula.

Dengan perasaan kesal, ia memalingkan diri. Ia langsung masuk ke dalam mobilnya. Untuk melampiaskan rasa dongkolnya, pintu mobilnya ia hempaskan. Sekali lagi ia mencoba menatap anak muda itu. Alis anak muda yang tebal, memancarkan pesona kejantanan yang membuat dirinya terhanyut. Untunglah gadis itu pintar menguasai diri sehingga tidak ketahuan bahwa diam-diam ia menaruh rasa tertarik kepada anak muda tersebut.

Sepeninggal gadis itu yang telah menyita waktu perjalanannya menuju kampus, ia pun kembali mengendarai motor trailnya. Suaranya yang keras, meraung-raung membelah menuju Margonda Raya. Bagi sopir-sopir angkot jurusan Rambutan – Depok, tingkah anak muda yang satu ini di jalanan, bukan barang baru. Mereka selalu berpapasan dengan dia. Apalagi jika sore hari, anak muda itu suka nongkrong bersama mereka di terminal Depok sambil bermain kartu.

Motor trailnya yang tinggi, membuat gayanya laksana sedang menunggang kuda Arab. Motornya sengaja diberi warna hitam putih belang-belang layaknya seperti Zebra. Bagi sopir angkot temannya yang kepingin mencicipi garangnya motor itu, dia biarkan saja. Asal tanggung jawab menungganginya dengan baik.

“Li, emang lu di UI ngapain aja, sih?” tanya Johan, sopir angkot teman main kartunya. Maklumlah, Johan Simorangkir, hanya sampai merasai SMP. Dia pikir kuliah itu seperti SMP, jika hari Senin, harus apel bendera dulu. Masuk kelas ramai-ramai, tertib, dan tidak boleh sembarang masuk. Diabseni satu per satu oleh ketua kelas, dan pakai seragam sekolah.

“Gua lihat lu banyakan nongkrong di sini. Lu nggak takut distrap sama guru?” tanya Johan polos dengan penasaran.

“Distrap apaan? Nggak ada acara strap-strapan,” jawab Ali Jaka.

“Lalu kalau bolos, diapain dong sama Kepala Sekolah, lu?”

“Gini, Han. Unversitas itu sistemnya beda sama sekolah. Kita anak mahasiswa yang nentuin. Bukan dosen atau rektor. Kita mau lulus cepat, bisa. Mau mahasiswa abadi, juga bisa. Di situ ada namanya SKS. Gua mau bilang apa ya sama lu. Habis lu bandinginnya sama SMP, sih. Mana nyambung, Han,” terang Ali Jaka pada sohibnya itu.

“Apa tuh SKS?” tanya Johan.

“Sistem Kejar Setoran,” jawab Ali Jaka. Dia tidak sedang bermaksud meledek Johan, tapi supaya alam pikiran Johan dapat nyambung membandingkan dengan dunia sopir angkot.

“Wah, kayak sopir angkot, dong,” kata Johan gembira karena merasa dapat memahami.

“Iya,” jawabnya pendek.

“Pantesan lu cocok di sini.” Maksud Johan, Ali Jaka merasa cocok bergaul dengan mereka, sopir-sopir angkot yang selalu kejar setoran.

“La iya.”

Johan cengengesan. Kini ia merasa derajatnya tidak lebih rendah dari Ali Jaka. “Sama-sama kejar setoran ternyata kita…” katanya. Selama ini ia berpikir, kalau orang sudah kuliah, pasti kelasnya sudah beda dengan dirinya yang cuma tamatan SMP. Sedikit-dikitnya, orang kuliahan nantinya akan jadi manager.

Manager, menurut bayangan Johan, orang yang memberi gaji dan mengatur sopir-sopir seperti dirinya. Pakaiannya necis, dan bermobil, seperti Bu Tarni, manager perusahaan yang memiliki armada angkot tempatnya bekerja sebagai sopir. Kini pandangannya tentang orang kuliah itu, diam-diam ia koreksi. Orang kuliah ya…orang kejar setoran juga seperti dirinya.

“Han, gua cabut dulu, ya,” kata Ali Jaka, sembari berdiri dari tempat ia duduk dari tadi. “Hei, bos. Gue cabut, ya,” katanya lagi kepada sopir-sopir angkot yang juga ikut nongkrong di situ.

Tempat nongkrong mereka itu ialah sebuah meja kayu besar selebar satu meter kali dua meter dikitari empat kursi panjang dari papan. Di samping tempat nongkrong itu, tante Surmin membuka warung kopi dan rokok. Konsumennya adalah sopir-sopir angkot.

“Buset lu, Li. Baru gua pesanin kopi, udah cabut aja, lu,” ujar salah seorang sopir dengan maksud bergurau.

Ali Jaka sudah paham gaya tersebut sehingga ia merasa tidak perlu menanggapinya. Ia dengan tenang naik ke atas trailnya dan langsung hidupkan mesin. Bruuumm!! Motor itu mengaum. Dia pun melaju meninggalkan mereka. Kali ini tujuannya menuju Fakultas Hukum UI. Ada kabar melalui SMS yang dikirimkan temannya. Prof. Jonky baru saja pulang dari Leiden, Belanda, sekarang sedang mengisi stadium general di kampus. Prof. ini seorang ahli hukum agraria terkemuka, mempunyai informasi yang lengkap tentang sejarah landreform di Indonesia, konlik agraria, hingga data-data mengenai manipulasi oleh berbagai perusahaan dan kroni rezim Orde Baru. Ali Jaka merasa sayang sekali jika melewatkan waktu tanpa sempat berkenalan dengan Profesor yang terkenal suka keluyuran ke berbagai lokasi konflik agraria tersebut.

Setibanya di kampus, tanpa membuang waktu, ia buru-buru menuju ruang auditorium. Ratusan orang dengan tekun menyimak ulasan Prof. Jonky. Ali Jaka sudah tidak kebagian tempat duduk. Akhirnya ia memutuskan berdiri saja. “Konflik agraria di Indonesia akan tetap menjadi bom waktu. Jika suatu waktu disulut, maka akan dapat meledak menjadi malapetaka bagi integritas bangsa ini. Pada masalah inilah sebenarnya bermuara segala harapan rakyat akan mendapatkan kehidupan yang lebih adil dan pemerataan yang lebih efektif. Hanya dengan menyiagakan tangan-tangan negara yang represif, sehingga konflik agraria dapat diulur untuk tidak meletus. Pertanyaannya, diulur sampai kapan?”

Itulah beberapa materi studium general yang disampaikan oleh Prof. Jonky. Beberapa pertanyaan yang diajukan oleh hadirin, dia layani dengan tuntas. Sampai kemudian stadium generale itu ditutup oleh moderator, dan orang-orang bubar dengan teratur.

Ali Jaka kemudian menemui Prof. Jonky. Ia menyalaminya dengan hangat. Tapi karema Prof. Jonky sibuk meladeni koleganya yang lain, maka dia cuma dengan dingin membalas sapaan Ali Jaka. Padahal Ali Jaka ingin sekali berbincang-bincang dengan Profesor tersebut. Akhirnya Ali Jaka meninggalkan Prof. Jonky yang sedang sibuk menyambut kolega-kolega kampusnya itu. Betapa tidak, sudah setahun ini, Prof. Jonky meninggalkan UI dan diminta oleh Universitas Leiden untuk mengajar dan meneliti di sana.

Ali Jaka berjalan menuju taman. Dia duduk sambil memesan segelas kopi di kantin. Makalah stadium generale Prof. Jonky kebali dia baca. Di makalah itu tertera biodata Profesor Jonky sekaligus nomor telepon dan email. Dia berpikir, suatu waktu dia dapat menghubungi profesor tersebut terkait masalah konflik agraria di Indonesia.

“Hai, Li! Lu kan nyari referensi buat skripsi, Lu? Minta aja sana Prof. Jonky. Dengar-dengar dia semingguan berada di Jakarta,” kata Winny dengan maksud membuka percakapan dengan Ali Jaka. Sebab sudah seminggu Winny tidak melihat batang hidung Ali Jaka di kampus. Ali Jaka yang diajak bercakap-cakap oleh Winny, cuma memandanginya sekejap, lalu matanya kembali tertuju kepada makalah Prof. Jonky.

Winny mencoba duduk di atas batu dekat Ali Jaka, lalu mulutnya kembali bersura, “Nah, di makalah itu ada emailnya. Lu bisa deh email ke dia. Prof. itu nggak pelit, kok. Siapa saja yang punya urusan dengan dia, pasti dilayani.”

“Kok lu tahu, Win?” tanya Ali Jaka.

“Secara gue pernah min referensi ke dia. Tahu nggak, lu. Gue dikirimin langsung bukunya dari Leiden.”

“Oh, ya?; ngomong-ngomong, Prof. itu tinggal di Jakarta, dimana, ya?” tanya Ali Jaka.

“Biasanya di rumah kerabatnya di Pondok Pinang. Lu sms dia deh,” jawab Winny.

Ali Jaka manggut-manggut. Kemudian tangannya menari lincah menekan huruf-huruf dan angka-angka di HP-nya. Akhirnya terkirimlah pesan ke Prof. Jonky. Tidak berapa lama, sms-nya dibalas. “Silakan datang ke Pondok Pinang. Persis di seberang Mesjid Pondok Indah, di tepi kali. Tanya saja, rumah Pak Kadirun.”

Ali Jaka berbinar-binar. Di benaknya tersimpan rencana untuk menjumpai Prof. Jonky besok sore. Tak lupa ia berterima kasih kepada Winny. “Win, gue terima kasih, ya,” ucapnya.

“Benar, kan? Sms lu dibalas?” Winny bukannya bilang, ya, tapi menanyakan soal sms.

“Ya.”

“Li, gue ada keperluan lagi, nih. Entar lu cerita ya, jika ketemu Prof. Jonky.”

“Siip.”

“Daa..!” Winny cabut meninggalkan Ali Jaka.

“Da,” jawab Ali Jaka.