HMINEWS.Com – Kamis 27 september 2013, Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) Komisariat Fakultas Syariah dan Hukum UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta mengadakan Latihan Kader I selama tiga hari di  Ponggok Dua, Jetis, Bantul. Pada Latihan Kader I kali ini diikuti oleh 35 orang peserta, dengan jumlah pemandu 5 orang.

Yang unik, dari ketiga puluh lima peserta tersebut, empat orang di antaranya adalah mahasiswa asal Thailand. Menurut Ketua Komisariat Fakultas Syariah dan Hukum, Hikamul Ibad, hal itu membuat lk1 ini berbeda, di samping jumlah peserta yang memang lebih banyak dari training-training yang diselenggarakan sebelumnya.

“Latihan Kader I kali ini berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya karena pada tahun ini jumlah peserta naik dua kali lipat. Selain itu pada LK1 ini terdapat empat mahasiswa yang berasal dari Thailand. Harapan saya kader yang sudah lulus di LK 1 nantinya dapat bisa berporoses di HMI, bisa menjadi mahasiswa muslim yang kritis dan dapat membawa perubahan ke arah yang positif,” kata Hikamul Ibad.

Keikutsertaan empat mahasiswa Thailand tersebut menandakan bahwa HMI tidak sekedar menghimpun mahasiswa dari Indonesia, sebagaimana terjadi hal yang sama puluhan tahun lalu, yaitu keikutsertaan mahasiswa Malaysia, Anwar Ibrahim.

“Motivasi mereka ikut LK1 ini adalah ingin mengetahui lebih banyak tentang HMI, menjadi mahasiswa Thailand yang berbeda dengan mahasiswa Thailand yang lain, dan ingin belajar tentang ilmu keorganisasian,” lanjut Ibad.

Selain keikutsertaan 4 mahasiswa dari Thailand, Latihan Kader I HMI Komisariat Fakultas Syari’ah dan Hukum UIN Sunan Kalijaga kali ini juga diikuti oleh sedikitnya 7 kader akhwat. Keberadaan 7 kader akhwat ini diharapkan menjadi awal yang baik bagi komisariat dalam proses perkaderan, mengingat selama ini di lingkungan HMI Cabang Yogyakarta, HMI Komisariat Fakultas Syari’ah dan Hukum dikenal sebagai Komisariat yang minim dengan kader akhwat.

Menurut Asnan Ashari selaku ketua panitia, LK1 kali ini relatif stabil dan tidak ada kerumitan, dan panitia cukup solid. Persoalan tidak ada panitia akhwat yang menjadi juru masak juga dapat mereka atasi.

Peserta mengaku terkesan dengan pelaksanaan LK1 tersebut, sebagaimana dituturkan salah seorang peserta, Elsa Finda Rahmawati.

“Sangat mengesankan sebab banyak perasaan yang bercampur baur menjadi satu; ada rasa bosan, mengantuk, melelahkan, kebahagiaan, kebersamaan. Tapi di samping itu ada banyak manfaat yang kami rasakan yaitu kita diajari untuk berani mengungkapkan pendapat, berani mengambil keputusan dan lain-lain,” akunya.

Menurutnya, hari pertama merupakan yang paling berat dijalani karena belum terbiasa, tetapi setelah itu mereka bisa menikmatinya.

“Walaupun disuguhi makanan hasil mal praktek masak oleh kakak-kakak panitia, tapi masakannya enak juga,” tuturnya.