Politik berasal dari kata Yunani yakni polis yang berarti negara-kota. Walalupun menurut bahasa Yunani namun arti negara-kota sangat digandrungi oleh manusia. Negara kota pada zaman Yunani konon identik dengan aroma kepentingan.

Untuk mengatur masyarakat dalam sebuah negara dibutuhkan yang namanya wewenang atau sering diidentikan dengan kekuasaan. Berbicara tentang kekuasaan pastilah berbicara penguasa dan rakyat.

Masyarakat Yunani kuno menggunakan kekuasaan demi mengkoordini masyarakat untuk tujuan bersama, seperti kesejahteraan dan keamanan. Dalam perspektif masyarakat kekuasaan saat itu adalah dari rakyat, oleh rakyat dan untuk rakyat.

Pola kekuasaan dari rakyat, oleh rakyat dan untuk rakyat disampaikan oleh Aristoteles dengan nama demokrasi. Politik demokrasi ternyata  mulai dikembangkan oleh Aristoteles pada masa 3 abad sebelum masehi.

Politik kekuasaan biasanya timbul dari keinginan manusia mengarahkan komunitasnya menuju suatu tujuan. Tanpa ada kekuasaan memang keteraturan pemerintahan manusia akan sulit dicapai, bahkan mungkin mustahil.

Politik kekuasaan dalam bingkai kehidupan umat atau kemasyarakatan identik dengan sosok pemimpin atau penguasa. Pemimpin ataupun penguasa seharusnya berjalan selaras bersama kepentingan umat. Mungkin hal tersebut tercermin dari awal dicetuskannya politik.

Pada masa lalu politik banyak dimanfaatkan oleh pihak kepentingan. Politik digunakan pemimpin untuk mengatur dan membina rakyatnya. Mulai dari pendidikan, ekonomi, hukum, budaya, agama, semua berjalinkelindan dengan politik.

Politik Kekuasaan Sengkuni

Politik kekuasaan ini sangat terkenal baru-baru ini. Banyak orang yang membicarakan hebatnya gaya Sengkuni karena mampu menghancurkan karir seorang politisi yang malang melintang bak ksatria Pandawa pada masanya.

Politik kekuasaan Sengkuni mungkin hanyalah sebuah teori dalam bingkai politisi itu sendiri, dan nyata dalam tindakan praktis. Pengaruh Politik kekuasaan Sengkuni tidak bisa hilang begitu saja. Walaupun penggunannya sudah mencapai tujuannya. Karena Politik macam ini telah merasuk dalam hati seorang manusia menjadi kreatif, visioner, tak terbendung, namun dalam wilayah kebencian, dusta, dan kelicikan.

Allan Mustafa Umami
HMI Koorkom UII, Yogyakarta