ilustrasi (foto desain oleh Aloysius Garry Iryawan, net)

Diskursus mengenai peran pemuda dalam proses transformasi sosial merupakan pembahasan yang tak bertepi dan tidak akan pernah ada habisnya. Dalam lintasan sejarah yang panjang, pemuda telah banyak mengukir sejarah peralihan peradaban dari tatanan sistem kehidupan yang satu menuju tatanan sistem kehidupan yang lain. Gairah perjuangan pemuda selalu hidup dan menghidupkan romantika perjuangan dan juga perubahan di segala penjuru dunia.

Pemuda lah yang menggagas perubahan, mendobrak kebuntuan, dan menemukan solusi atas tantangan negara bahkan dunia. Pemuda adalah mereka yang gagah, berani, kuat dan selalu terdepan dalam mengambil peran perjuangan, hingga Sayyidina Ali ra. pernah mengungkapkan bahwa, “Tidak dikatakan pemuda yang gagah berani orang yang membanggakan kebesaran leluhurnya, akan tetapi dikatakan pemuda yang gagah adalah pemuda yang berani mengatakan inilah saya.”

Sejarah juga telah mencatat dengan baik bagaimana peran pemuda di arena dakwah ketika generasi awal umat ini melakukan pergolakan pemikiran. Pemuda senantiasa menjadi tombak utama yang mendampingi Rasulullah SAW dalam menghadapi kerasnya badai penghalang dakwah. Ketika terjadi Bai’at Aqabah yang kedua, generasi Islam yang umurnya masih belia turut menyaksikan, mereka adalah Mu’adz bin Jabal yang usianya kala itu belum genap dua puluh tahun, abu al-Yassar Ka’b bin Amru Al-Anshari yang genap berusia dua puluh tahun. Demikian pula ketika terjadi perang Badar yang merupakan konfrontasi pertama antara umat Islam dan kaum kafir Quraisy dan Allah menyebutnya sebagai Yaumul Furqon. Generasi muda para sahabat yang turut serta dalam pertempuran itu diantaranya adalah Umair bin Abi Waqqas yang menemui syahid, Ali bin Abi Thalib, dan Ma’mar bin Hubaib. Begitu pula dengan Muhammad Al-Fatih dengan usianya yang baru 21 (dua puluh satu) tahun dia telah mampu memobilisasi dan memimpin pasukan untuk merealisasikan sebuah bisyarah dari Rasulullah SAW akan takluknya kota Konstantinopel.

Sosok perkasa seperti generasi awal Islam ini akan selau ada di sepanjang zaman dan senantiasa menghiasi dan mewarnai lembaran sejarah. Sebut saja Nelson Mandela dari Afrika Selatan juga memberikan sebuah catatan sejarah yang sangat mengagumkan. Tokoh anti-apartheid ini rela meninggalkan kehidupan normalnya dan lebih memilih untuk mewakafkan dirinya untuk bangsanya yang terjajah oleh orang kulit putih. Dan tentunya kita semua sama-sama mengenal Ir. Soekarno, seorang yang lebih memilih berkorban untuk Indonesia, bermimpi akan menjadi Presiden Indonesia, meski saat itu “Republik bernama Indonesia” belumlah lahir. Dan masih banyak tokoh-tokoh muda lainnya yang telah dan akan menjadi saksi lahirnya perubahan-perubahan besar yang menyertai suatu negara ataupun dunia.

Dengan modal semangat yang membara dalam jiwa yang dimiliki oleh para pemuda masa kini, bukan tidak mungkin kalau saat ini mereka pun akan bangkit mengukir prestasi mengambil tongkat estafet kepemimpinan abab 21. Ketertindasan di bawah rezim tirani sistem kapitalisme seharusnya menjadi spirit yang membangkitkan gelora dan semangat juang di kalangan pemuda, hingga mampu berdiri dan berteriak lantang serta memberontak untuk menggagas sebuah perubahan. Perubahan yang bukan hanya mengganti rezim yang satu dengan rezim yang lainnya, tetapi perubahan yang sifatnya revolusioner untuk menggagas negara yang paripurna yang mengganti rezim dan sistem sekaligus. Cukuplah romantika sejarah reformasi yang terjadi di bawah tetesan keringat pemuda-pemuda negeri ini yang kini tengah menuai kegagalan menjadi sejarah yang terkubur. Dan sudah saatnya para pemuda menghapus impiannya untuk berharap pada reformasi, karena harapan itu hanya sebatas fatamorgana belaka.

Kini saatnya telah tiba, pemuda harus mencari format baru arah perubahan menuju “Negara yang Ideal”. Format gerakan itu haruslah berupa gerakan massif yang berlandaskan pada sebuah ideologi. Tatkala sosialisme komunis tumbang dan kemungkinan untuk bangkit dari kuburnya semakin sirna serta kekuatan kapitalisme yang semakin rapuh akibat keserakahan yang merendahkan manusia pada taraf yang hina di bawah kehidupan hewani, maka Islamlah satu-satunya harapan untuk mewujudkan perubahan sejati.

Para pemuda harus tampil mengambil bagian dari arus perubahan ini, dan bangga menjadi pejuang Islam yang senantiasa bersuara lantang menyuarakan tegaknya kebenaran dan keadilan dengan segera. Semangat perjuangan dan pengorbanan yang dilandasi dengan sikap keistiqomahan harus selalu dipertahankan agar bisa meraih perubahan yang hakiki. Dan, perubahan yang hakiki hanya bisa diukir dengan perjuangan yang jelas dan terarah serta kebenaran metode perjuangannya tidak terbantahkan. Wallahu a’lam bi ash-shawab.

Muzakkir Mahmud
Mahasiswa UNTAD, Kader HMI MPO Palu