Hari Kesaktian Pancasila ditetapkan jatuh pada tanggal 1 Oktober, karena terbukti Pancasila tetap bertahan setelah dirongrong sedemikian rupa pada 30 September atau lebih tepatnya dini hari 1 Oktober 1965 oleh kelompok yang ingin mengganti Pancasila melalui pembunuhan tujuh jenderal Angkatan Darat yang dianggap sebagai benteng Pancasila.

Ada sebutan lain untuk menamakan Gerakan 30 September (G30S/ PKI) dengan sebutan Gerakan September Tiga Puluh (Gestapu) atau Gerakan Satu Oktober (Gestok). Namun dalam pembahasan ini kita akan mengurai Pancasila dengan predikat saktinya itu.

Kesaktian yang Dimitoskan

Benarkah Pancasila itu memang sakti dan bertuah? Kita hanya tahu demikianlah yang selama ini didengung-dengungkan pemerintah dan sejumlah pihak yang menganggap Pancasila itu bertuah dan bisa mendatangkan kualat bagi siapa saja yang tidak setuju terhadapnya. Sebelum menyatakan setuju atau tidak setuju dengan sakti tidaknya Pancasila, terlebih dahulu diperjelas di sini bahwa cara-cara mengkampanyekan kesaktian Pancasila itu sama persis seperti, misalnya, pengkeramatan hutan.

Masyarakat sering menakut-nakuti warganya agar tidak merambah hutan lindung atau tempat-tempat tertentu agar tidak kualat, diganggu roh nenek moyang atau dedemit berupa jin atau genderuwo penunggu situs tersebut. Sebenarnya tujuan rasional dari larangan merusak hutan adalah agar hutan tetap lestari sehingga tidak mengakibatkan kekeringan, tanah longsor atau banjir jika musim hujan. Tetapi begitulah, orang-orang tua kita lebih sering menakut-nakuti kita daripada memahamkan kita dengan penjelasan yang rasional.

‘Kesaktian’ Pancasila itu ibarat keramatnya hutan bagi penduduk desa itu. Pancasila ‘sakti’ karena merupakan konsensus atau kesepakatan bersama semua elemen bangsa untuk bersatu di atas keragaman, untuk saling menahan diri dan menenggang perbedaan, dan untuk tidak saling memaksakan antara satu dengan yang lain sesama elemen bangsa, mayoritas ataupun minoritas.

Pancasila bukanlah kitab suci, tetapi kita pun tahu bahwa kitab suci memerintahkan agar kita mematuhi konsensus yang kita buat, dan para pendiri bangsa ini menamai konsensus tersebut dengan sebutan Pancasila. Pasti akan berbeda jika antara Sukarno, Yamin dan kawan-kawannya tidak bersepakat dengan penamaan itu, sebagaimana Nabi Muhammad dan umatnya menyepakati Piagam Madinah yang mengakomodir kelompok selain Islam sebagai bagian yang sejajar.

Kesaktian Pancasila itu terletak pada semua elemen bangsa. Selama semua elemen itu masih mau terus hidup berdampingan, maka selama itu pula kesaktian menempel pada Pancasila. Tetapi sebaliknya jika masing-masing hanya ingin kelompoknya yang memegang kendali, melanggengkan kekuasaan seraya menegasikan kelompok lain dengan senjata Pancasila, maka itu berarti kesaktian Pancasila sedang digunakan untuk menimbulkan malapetaka.

Selama ini dalih menegakkan Pancasila sering digunakan untuk menindas kelompok lain, sementara pada saat yang sama rezim yang berkuasa sedang menginjak-injak dan menodai seluruh sila, negara tidak hadir menyelesaikan permasalahan warganya, membiarkan pengerukan sumber daya alam oleh asing atau bahkan dengan sengaja mengobralnya. Itulah hal-hal yang menggerogoti kesaktian Pancasila.

Begitulah seharusnya kita membangun kesadaran bersama, menguatkan ingatan akan kesepakatan yang telah kita setujui sejak awal bangsa ini didirikan, dan yang paling penting adalah tidak menjadikan Pancasila itu sebagai kedok untuk memutlakkan kekuasaan penyelenggara negara terhadap rakyat, atau untuk berbuat sebebasnya tanpa peduli pada sesama, apalagi untuk saling meniadakan.

Akhirnya dengan pemahaman seperti itu kita bisa ucapkan sebagaimana perkataan Sosiolog Profetik kita, Kuntowijoyo: “Selamat Tinggal Mitos, Selamat Datang Realitas.”


@fathur_bekasi