Jum’at (04/10/2013) sekitar pukul 10.30 seorang lelaki berbadan agak tinggi, berkulit gelap membawa anaknya yang masih kecil, mendatangi kantor Lazis Dewan dakwah di komplek Menara Dakwah Jl. Kramat Raya No 45 Jakarta Pusat. Lelaki yang memakai songkok putih bersama anaknya tersebut mengenalkan dirinya bernama Nur Muhammad, setelah kami mempersilakannya untuk duduk, ia langsung menceritakan maksud kedatangannya.

Dengan logat berbeda dengan logat orang Indonesia pada umumnya, ia menuturkan bahwa ia adalah seorang Muslim Rohingya warga asli Myanmar. Ke Lazis ia hanya sekedar ingin berbagi cerita bahwa dirinya benar-benar sedang mengalami kebingungan “apa yang harus ia lakukan” intinya ia berharap Lazis Dewan dakwah tempat yang ia datangi bisa memberikan solusi bahwa ia sedang membutuhkan.

Penulis menanyakan “dari mana tahu Lazis Dewan dakwah” ia menjawab sebenarnya ia tak tahu, harus kemana ia jalan, tidak hanya lembaga seperti Lazis, jalan serta alamatnya saja ia tidak tahu menahu, ia sampai di Lazis juga hanya “kebetulan” menurutnya, diantar oleh tukang ojek setelah ia bertanya-tanya sebuah lembaga yang memungkinkan bisa dijadikanya tempat sharing untuk orang yang membutuhkan. Diantarlah ia sampai Lazis Dewan Dakwah. “Saya juga nggak tahu kenapa kok saya diantarkan oleh tukang ojek di sini,” tuturnya.

Ia mengaku sudah 4 bulan di Indonesia, dan ia tidak sendiri. 4 bulan silam ia nekat bersama muslim lainya menyeberang ke Indonesia setelah ia bersama rombonganya singgah di Malaysia.

Sebenarnya mereka berstatus sebagai pencari suaka, mereka nekat menggunakan jalur laut, tanpa visa tanpa pasport dan hanya mengandalkan kartu tanda pengenal yang dikeluarkan pihak UNHCR. Penulis menanyakan alasan kenapa ia meninggalkan negaranya dan dijawabnya bahwa di negara tempat ia tinggal kondisinya kacau, sengsara. Alasan mendasar ia meninggalkan negerinya karena konflik yang sampai sekarang belum terselesaikan dengan baik.

Mereka sebenarnya ingin mencari perlindungan ke negara-negara yang mempunyai UU Perlindungan Suaka, seperti Australia, Selandia Baru dan lainnya (seperti penulis pernah baca dalam penelitian Human Right Watch yang disampaikan di Hotel Grand Cemara, Menteng, Jakarta Pusat, Senin, 24 Juni 2013).

Menurut peneliti hak-hak anak di HRW, Alice Farmer, saat ini tercatat ada sekitar 2.000 anak migran gelap dari total 9.226 imigran asing ilegal yang masuk ke Indonesia. Data HRW di bulan Februari 2013 mencatat kebanyakan pengungsi dan pencari suaka ini berasal dari Myanmar, Afganistan, dan Iran, atau Negara Negara lainya yang mempunyai latar belakang konflik di negerinya. Mereka ingin mendapatkan Perlindungan Suaka dan berharap dapat membangun suatu kehidupan baru.

Nur Muhammad, sebagaimana para pencari suaka lainnya, mengaku di Indonesia hanya singgah, menunggu diberangkatkan lagi ke tempat tujuan. Senekat itu mereka lakukan tanpa memikirkan keselamatan dan keamanan diri dan keluarganya, dengan bahaya yang mengancam sewaktu-waktu seperti tenggelam jika perahu yang mengangkut mereka rusak atau diterjang badai di laut. Ia mengaku masa masa menunggu seperti ini masa masa sulit baginya.

Saat penulis menyakan tempat akhir yang menjadi tujuannya, ia hanya menjawab dan berharap jika di Indonesia memang tempat yang layak atau memungkinkan, barangkali ia akan lebih memilih di Indonesia, tapi kecil kemungkinan baginya karena di Indonesia sendiri nasib para imigran ilegal belum bisa terjamin dengan baik dengan belum adanya UU Perlindungan Suaka yang diadopsi. Indonesia juga belum meratifikasi konvensi pencari suaka tahun 1951.

Dari situ pihak Lazis Dewan Dakwah belum bisa berperan banyak membantu, hanya sekedarnya meringankan beban yang ia pikul, dengan memberikan bekal secukupnya untuk pulang kembali ke kota Bogor tempat ia dan keluarganya singgah. Karena itu sudah seharusnya negara lebih serius mengurusi permasalahn ini.

Permasalahan yang mendera para pencari suaka tujuan Australia yang singgah di Indonesia memang begitu kompleks. Di tempat asal mereka tidak mempunyai harapan, di Indonesia sering diperas oknum penipu dan teramat banyak kasus pencari suaka tenggelam di laut, dan terakhir negara tujuan mereka itu, Astralia, kini sedang berusaha mengusir mereka sejak dari Indonesia sebelum mereka benar-benar sampai di negeri kanguru, yang para penghuninya itu pun sebenarnya adalah para pendatang haram yang menggusur penduduk Aborigin, penghuni asli negara benua tersebut.

Robith al Islamy
Mantan Pengurus HMI MPO Cabang Bekasi, kini bekerja di LAZIS Dewan Da’wah