HMINEWS.COM

 Breaking News

Mobil Murah untuk Siapa?

October 02
18:41 2013

kemacetan (foto: tvberitacom)

Berita program mobil murah pemerintah menjadi kontroversial, karena banyak kalangan masyarakat yang mempertanyakan tujuan program mobil murah ramah lingkungan tersebut. Sejauh mana petingnya mobil murah yang dicanangkan seharga Rp76-100 juta oleh pemerintah, yang telah sah melalui Peraturan Pemerintah Nomor 41 Tahun 2013 untuk program mobil murah dan ramah lingkungan (LCGC/low cost green car).

Banyak implikasi dari Program Mobil Murah Ramah Lingkungan ini. Pertama dari aspek ekonomi apabila masyarakat menengah kebawah dapat memiliki mobil murah kemungkinan akan berdampak pada bertambahnya jumlah rakyat miskin karena pengeluaran yang bertambah, padahal jumlah rakyat miskin pada bulan maret tahun 2013 sudah berkurang.

Merujuk pada catatan BPS, angka kemiskinan menurun pada tahun ini sampai 0,52 juta orang. Pada Maret 2013 jumlah penduduk miskin di Indonesia mencapai 28,07 juta orang. Ini berkurang bila dibandingkan dengan September 2012 sebesar 28,59 juta orang. Namun perlu diketahui, menurut Deputi Bidang Statistik Sosial Badan Pusat Statistik (BPS), Wynandin Imawan menjelaskan temuan BPS pada Bantuan Langsung Tunai (BLT) periode lalu, mengungkapkan ada masyarakat yang mendapatkan BLT, tetapi tidak untuk konsumsi melainkan untuk membayar utang.

Penjelasan di atas menjadi dasar bahwa rakyat miskin belum siap menerima program mobil murah yang ramah lingkungan. Program mobil murah yang ramah lingkungan, menurut Menteri Perindustrian MS Hidayat kualitas bahan bakarnya juga harus diperhatikan tentunya dengan menggunakan bahan bakar Pertamax agar beremisi rendah. Tentunya masyarakat menengah kebawah akan semakin terbebani apabila menggunakan bahan bakar pertamax.

Ditinjau dari aspek lingkungan, mobil murah bukan menjadi solusi kemacetan di kota besar seperti Jakarta yang sedang berusaha mengurai kemacetan, karena justru akan semakin memperparah kemacetan, yang diprediksi dalam beberapa tahun ke depan kemacetan bisa dimulai dari depan rumah. Sekarang pun pemerintah Jakarta masih mencari solusi untuk menguarai kemacetan dengan cara membuat transportasi umum.

Selain bukan menjadi langkah solutif tangani kemacetan, permasalahan lainnya adalah kualitas jalan di Indonesia yang tidak merata. Adanya perbedaan kualitas jalan antara kota dan kabupaten hingga kecamatan. Jalan kabupaten saja kurang baik, apa lagi jalan tingkat kecamatan, masih banyak yang menggunakan tanah.

Seharusnya hal ini menjadi rujukan pemerintah sebelum mengesahkan program mobil murah karena dengan adanya mobil murah tentunya keadaan jalan akan bertambah penuh kendaraan, sedangkan kualitas jalan masih kurang baik. Dari aspek sosial adalah menimbulkan masyarakat yang cenderung konsumtif, dimana masyarakat selain harus mencukupi kebutuhan pangan, pengeluaran masyarakat akan bertambah dengan pengeluaran bensin, service mobil dan lain-lain. Hal ini pun akan menimbulkan kecemburuan sosial yang dapat berakibat tindakan kriminalitas oleh masyarakat miskin. Mengapa demikian? karena harga mobil murah Rp76-100 juta hanya dapat dijangkau masyarakat menengah. Masyarakat msikin justru semakin tertinggal dengan adanya mobil murah.

Muncul pertanyaan apakah program mobil murah ini sudah tepat untuk masyarakat Indonesia yang sasaranya adalah masyarakat menengah kebawah yang di dalamnya termasuk masyarakat miskin? Apabila kita pahami bersama bahwa program mobil murah belum sebagai kebutuhan masyarakat. Dalam hal ini pemerintah harus mencari langkah solutif, apalagi masih banyak tugas pemerintah yang belum diselesaikan. Bila pemerintah bersikap responsif kepada rakyat bukan mobil murah ramah lingkungan yang dicanangkan. Tetapi bagaimana masyarakat miskin dapat memenuhi kebutuhan dengan harga yang terjangkau serta jaminan lainnya dapat dirasakan guna terwujudnya rasa keadilan dan kemakmuran dalam masyarakat?

Rakyat miskin semakin tertindas dan semakin ditinggal tanpa ada upaya yang tepat dari pemerintah. Seharusnya pemerintah mencanangkan transportasi umum yang memberi rasa aman nyaman dan terjangkau oleh masyarakat, dan hal itu lebih efektif, ramah lingkungan dan tidak menambah masalah.

Adam Hervanda
HMI FH UII, Yogyakarta

About Author

Redaksi

Redaksi

Related Articles

0 Comments

No Comments Yet!

There are no comments at the moment, do you want to add one?

Write a comment

Write a Comment

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.