Manusia adalah makhluk sosial sekaligus sebagai makhluk individu yang diberi kebebasan menentukan pilihan-pilihannya. Tatanan kehidupan manusia dengan sesamanya diatur dengan norma-norma. Hubungan antara manusia yang satu dengan manusia yang lain bisa indah jika ditopang dengan terciptanya interaksi sosial yang baik dan damai, dan salah-satu parameter untuk menilai tersebut adalah terbentuknya akhlak yang baik. Varian dari akhlak yang coba akan kita bahas disini adalah sifat jujur.

Jujur adalah salah-satu sifat baik dan terpuji yang diajarkan oleh agama kepada kita. Sifat ini adalah salah-satu sifat mulia Nabi Muhammad SAW, yang oleh kaumnya, beliau dijuluki dengan gelar kehormatan Al-Amin (Orang yang terpercaya). Gelar ini pun di kemudian hari membawa Nabi Muhammad manjadi seorang pemimpin spiritual, negarawan, mengeluarkan kaumnya dan ummat manusia dari lembah kehinaan menuju pribadi-pribadi mulia.

Jujur dalam setiap tindakan manusia adalah sifat yang harusnya menjadi salah-satu sifat kita. Sebab agama telah menggaransi bahwa manusia yang memiliki sifat ini dekat dengan kemuliaan, dekat dengan kebaikan dan alam pun senang kepadanya. Sebagaimana mulianya Nabi Muhammad di tengah-tengah kaum dan Tuhannya. Dalam kehidupan keseharian kita di masyarakat, sifat ini sangat dibutuhkan untuk membangun tatanan masyarakat yang damai, tatanan pemerintahan yang sehat, dan bahkan membangun peradaban yang bersih dari kebohongan yang saat ini banyak kita lihat bermunculan oknum-oknum yang banyak membual di mata publik.

Dalam berbagai kesempatan, Nabi Muhammad di mata para sahabat banyak memberikan perhatian khusus kepada ummatnya, khususnya mengenai kejujuran ini. Kini kejujuran sudah mengalami banyak degradasi. Harusnya setiap pribadi menjadikan sifat ini sebagai sifat utama menjadi manusia-manusia terpuji dan harapan kita semua.

Reduksi sifat jujur ini terbukti banyak membawa petaka. Orang yang berlaku jujur dimarginalkan sebagai manusia yang tidak bisa diajak kompromi. Orang yang ingin berlaku jujur disingkirkan dari jabatan strategisnya, padahal dia memiliki kemampuan yang dibutuhkan. Orang yang belaku jujur dicap manusia sok suci. Maka orang-orang berpendidikan tinggi sekarang banyak melakukan kebohongan publik. Sifat jujur tidak menginspirasi diri dan dalam kerja-kerja kita.

Namun begitu, di zaman ini orang-orang jujur masih tetap ada, natural dan tetap mendapatkan tempat, karena memang pada dasarnya semua manusia suka dan menginginkan kejujuran, sebagai fitrahnya. Kita memang butuh orang yang cerdas secara intelektual, tetapi yang paling penting kita butuhkan juga adalah orang yang cerdas secara moral/akhlak, dan salah satu variannya adalah JUJUR.

Sadli Naharuddin
HMI MPO Palu