HMINEWS.COM

 Breaking News

Antara Futuh Mekah dan Pembersihan PKI

October 01
23:26 2013

Sirah Nabawiyah (sejarah Nabi) merupakan mata air hikmah bagi umat Islam. Dengan mengetahuinya, maka kita akan tahu bagaimana mengaplikasikan berbagai hukum yang terdapat dalam Al Qur’an maupun hadits, sebab semua hukum itu diturunkan tidak keluar dari konteks kesejarahan, dan dari itu kita kenal yang namanya Asbabun Nuzul (sebab-sebab turunnya ayat – Al Qur’an) dan Asbabul Wurud (sebab diwahyukannya hadits atau sunnah Rasul)

Pembahasan ini hendak mengungkap dua peristiwa yang terjadi di dua zaman yang berbeda, yaitu penaklukan Mekah oleh Nabi dan para sahabatnya, dengan pembersihan Partai Komunis Indonesia (PKI) di Indonesia. Akan ditarik garis antara dua peristiwa tersebut. Mengenai kejadian pembersihan PKI, bukan untuk mengorek luka lama atau menyalahkan semua yang terlibat, namun bagaimana mengambil pelajaran dan mendewasakan pemikiran berkaca dari peristiwa tersebut.

Penaklukan Mekah

Penaklukan Mekah merupakan buah perjuangan panjang Nabi Muhammad dengan para sahabatnya dalam mengemban agama dan misi kemanusiaan. Sejak memproklamasikan da’wah, yang itu artinya selain menyatakan keislaman di tengah penduduk yang masih musyrik dan juga para ahlu kitab (Yahudi dan Nasrani), mereka juga mensyiarkan agama Islam mengatasi semua agama dan ideologi yang ada. Dimulai pulalah penentangan terhadap Nabi dan para pengikutnya.

Nabi mendapat serangan, cemoohan, fitnah, upaya pembunuhan dan pengusiran. Demikian juga yang dialami para sahabatnya, bahkan di Periode Mekah saja, ketika Allah belum memperkenankan mereka melawan dengan mengangkat senjata, sejumlah sahabat terbunuh. Syahid pertama Ammar bin Yasir dan istrinya, Sumayyah. Untuk menghindari berbagai tekanan tersebut, terbagi ke dalam beberapa rombongan, para sahabat nabi itu hijrah ke Habasyah. Kemudian setelah 13 tahun, mereka berhijrah secara besar-besaran termasuk Nabi, hijrah ke Yatsrib yang kemudian namanya diubah menjadi Madinah.

Setelah itu terjadi perang berulangkali antara kubu Islam dengan golongan kafir Quraisy dan sekutunya. Yang pertama adalah Perang Badar, dilanjut dengan perang-perang lainnya seperti Perang Uhud, Khandaq, Khaibar, Mu’tah, Hunain, Tabuk dan perang-perang lain, baik yang dipimpin langsung oleh Nabi (disebut ghazwah) maupun yang dipimpin oleh selain Nabi (disebut sariyyah). Sudah tentu, namanya perang menimbulkan korban di kedua belah pihak. Korban juga tidak sedikit, dan di antaranya ada kerabat dan sahabat terdekat Nabi semisal Hamzah bin Abdul Muthalib.

Tidak jarang pula umat Islam di zaman Nabi dikhianati oleh kafir Quraisy maupun kelompok-kelompok Yahudi seperti Yahudi Bani Quraizhah dan Bani Qainuqa. Terhadap perang dan pengkhianatan tersebut, hukum ditegakkan terhadap orang-orang yang bersalah saja, ada yang dieksekusi dan tidak sedikit yang diampuni, sedangkan orang yang tidak bersalah, termasuk wanita dan anak-anak dibiarkan hidup.

Baru setelah 22 tahun, setelah kafir Quraisy mengkhianati Perjanjian Hudaibiyah, Nabi memimpin langsung pasukan besar untuk merebut Mekah. Pasukan Islam sudah demikian besar dan tak terbendung lagi memasuki kota suci. Kaum kafir Mekah ketakutan. Mereka mengira nasib mereka akan berakhir di ujung pedang, mengingat sebelumnya mereka selalu memerangi Muhammad dan mengusirnya dari bumi kelahirannya, Mekah itu.

Tetapi, inilah isi pidato Nabi Muhammad kala itu:

Inna hadzal yaum laisa yaumul malhamah, walakinna hadzal yaum yaumul marhamah, wa antumuth thulaqa’. Sesungguhnya hari ini bukanlah hari pembantaian, melainkan hari ini adalah hari kasih sayang, dan kalian semua memperoleh kebebasan.”

Emha Ainun Nadjib menyatakan, peristiwa tersebut “memuat keberanian militer dan permaafan politik yang radikal di ujung peperangan besar merebut kembali Mekkah. Mengandung kearifan sosial, kerelaan kemanusiaan dan keindahan budaya yang kadar nilainya sangat tinggi. Para tawanan perang baru saja ditaklukkan bukan hanya dimaafkan dan dimerdekakan, tapi juga diberi pesangon harta yang besar jumlahnya.”

Bagaimana dengan Pembersihan PKI?

Berkebalikan dengan yaumul marhamah (hari kasih sayang) peristiwa pembersihan PKI di Indonesia benar-benar merupakan yaumul malhamah (hari penyembelihan).

Memang PKI, sejak kemunculannya yang pertama mendompleng Sarikat Islam (lalu menimbulkan faksi ‘SI Merah’) dan kemudian setelah merasa kuat dan banyak pengikut memisahkan diri dari SI hingga kemudian SI kehilangan separoh anggotanya. Beberapa kali memberontak dan membunuhi sesama anak bangsa, seperti pada Pemberontakan PKI Madiun 1948 dan Pemberontakan 30 September 1965.

Permusuhan PKI dengan kelompok Islam terjadi dari pucuk pimpinan hingga tingkat ‘akar rumput’. Selain dua peristiwa besar Madiun dan G30S, ada ‘Peristiwa Kanigoro’ ketika massa PKI menyerang santri dan Pelajar Islam Indonesia, peristiwa ‘Gorang Gareng’ dan cerita-cerita di berbagai desa di Jawa mengenai teror PKI terhadap golongan Islam (meskipun orang-orang PKI itu pun beragama Islam juga).

Namun, selain permusuhan dengan terhadapap sesama anak bangsa, PKI pun sebenarnya punya andil dalam perjuangan kemerdekaan, di mana mereka pernah memberontak terhadap Belanda pada tahun 1926, juga para pemuda yang ‘penculik’ Sukarno-Hatta agar memproklamasikan kemerdekaan pada tahun 1945, sebagiannya ada yang komunis anak asuh Tan Malaka yang adalah pemikir top komunis dari Indonesia.

Beberapa hal yang membuat PKI dicintai rakyat (yaitu anggota dan simpatisan PKI), adalah bahwa garis perjuangan PKI yang begitu kental dengan kepentingan rakyat. PKI sangat anti kapitalisme, anti penjajahan (kolonialisme) serta mencita-citakan kemandirian bangsa, meski tentu saja terdapat berbagai irisan dengan kelompok Islam, di mana dalam perlawanan terhadap kapitalisme itu, tak jarang PKI kebablasan dengan menyerang kepentingan ‘kelompok Islam’. Di desa-desa, para haji kerap disebut sebagai ‘setan desa’ dikarenakan mereka menjadi tuan tanah, sebenarnya penyebutan ini wajar, mengingat sepak terjang tuan tanah itu memeras rakyat dengan sistem rente mereka, akan tetapi kadang penyebutan itu terlalu digeneralisir tanpa memandang asal-usul kekayaan dan semua lawan politiknya dicap sebagai musuh yang harus diperangi. Karena perbedaan haluan politik pula, massa PKI begitu memusuhi kelompok Masyumi, NU dan PSI, serta pada segmen mahasiswa, dikenal dengan aksi Ganyang HMI.

Setelah G30 S mengalami kegagalan, militer Indonesia terutama Angkatan Darat menggandeng seluruh elemen rakyat (sebagian besar tentu umat Islam) memukul balik PKI. Terjadi pembantaian besar-besaran terhadap semua anggota PKI, bahkan yang hanya simpatisan tak luput dari kejaran. Apalagi setelah pemerintah mengumumkan PKI sebagai partai terlarang, makin bersemangatlah massa rakyat menuntaskan dendam. Kopkamtib melaporkan pembantaian itu mencapai 800.000 anggota dan simpatisan PKI di Jawa dan 100.000 di Bali dan Sumatera. Pada saat itulah, semua gelap mata dan menjadi pembunuh yang mendapat legitimasi kekuasaan.

Semua anggtoa PKI ditumpas, diuruk dalam kuburan-kuburan massal. Eksekusi berlangsung begitu mengerikan tanpa kenal ampun. Di antara korban itu tentu saja terdapat orang-orang yang hanya ikut-ikutan atau hanya pernah ikut didata sebagai anggota atau menerima bantuan PKI tetapi tidak pernah ikut dalam pertumpahan darah sebelumnya dan tak tahu menahu.

Tidak hanya itu, keluarga dan anak-anak orang PKI sampai berpuluh tahun kemudian masih harus ‘menanggung dosa’ warisan, tidak utuh diakui sebagai warga negara dengan cap khusus di KTP mereka dan perlakuan ‘istimewa’ dari negara.

Jika diukur dengan prinsip Islam, maka tindakan tersebut tidak dapat dibenarkan. Hukum perang mengatur dengan jelas siapa yang bisa dibunuh dan siapa yang tidak. Selain itu dikenal juga yang namanya pengampunan, sebagaimana sering dilakukan Nabi termasuk dalam peristiwa Fathu Makkah tersebut, yang hanya memerintahkan untuk membunuh sekitar 17 gembong kekafiran. Itu pun, ternyata tidak semua dapat tertangkap, seperti Ikrimah bin Abu Jahal yang berhasil melarikan diri lalu datang dalam keadaan Islam, akhirnya diampuni.

Mengubur Konflik

Peristiwa seperti yang terjadi pada tahun 65 memang begitu rumit. Setelah pembunuhan 7 jenderal yang disebut sebagai peristiwa pemberontakan PKI itu, elemen bangsa hanya terbelah menjadi PKI atau bukan PKI. Massa non-PKI menganggap hanya ada dua pilihan, membunuh atau dibunuh. Meski bukan PKI, jika tidak ikut menumpas maka bisa-bisa dituduh sebagai PKI, apalagi jika menghalang-halangi penangkapan dan pembunuhan itu. Dan kita pun tidak dapat menyalahkan begitu saja terhadap semua elemen yang turut dalam gerakan penumpasan, meski seharusnya yang ditumpas hanya gembong PKI yang dianggap bertanggungjawab.

Kita harus jadikan peristiwa tersebut sebagai pelajaran, meskipun pahit, agar ke depan tidak terulang kembali dalam sejarah kemanusiaan kita. Semoga Allah mengampuni semua kesalahan. Kita tatap masa depan bangsa tanpa dendam dan konflik.

Kepada-Nya lah semua akan kembali dan Dia yang akan menjadi hakim yang adil di Hari Akhir kelak.

Fathurrahman (@fathur_bekasi)

About Author

Redaksi

Redaksi

Related Articles

0 Comments

No Comments Yet!

There are no comments at the moment, do you want to add one?

Write a comment

Write a Comment

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.