HMINEWS.COM

 Breaking News

Menjaga Ideologi, Menegaskan Keindonesiaan

September 29
21:51 2013

HMINEWS.Com – Indonesia dibangun oleh para pendiri bangsa yang hidup secara totalitas untuk memperjuangkan ide mewujudkan Indonesia merdeka, berdaulat, adil dan makmur. Para founding fathers tersebut setiap malam sepanjang hari berfikir dan berjuang untuk tujuan itu, dan tidak dipungkiri mereka menjadi tokoh pemikir kelas dunia. Tetapi Indonesia sekarang dikuasai orang-orang kerdil yang hanya berorientasi mencari penghidupan, bagaimana menggerogoti APBN dan olah ini-olah itu.

Demikian disampaikan mantan Ketua Umum PB HMI MPO, Syahrud Efendi Dasopang dalam diskusi di PB HMI MPO, Jagakarsa – Jakarta Selatan, Ahad (29/9/2013) malam.

“Begitu mereka sudah tentukan tujuan hidup atau ideologinya, kemudian dijalani dan diperjuangkan secara total. Wajar mereka bisa memerdekakan bangsa sebesar ini, karena kepribadian mereka yang sangat kuat. Lihatlah cara hidup mereka yang totalitas itu. Tak heran mereka berkelas dunia, meski waktu itu mereka relatif masih sangat muda,” lanjut Syahrul.

Lanjut Syahrul, sistem Indonesia sekarang sudah berjalan, tidak sesulit zaman dahulu. “Jadi presiden sekarang tidak capek,” ujarnya.

Orang pada zaman itu sangat kental dengan ideologi, yang mungkin sekarang menjadi barang asing, karena sekarang hampir semua orang tertuju pada materi. Tapi pada waktu itu banyak orang berjuang atas nama ideologi. Indonesia dibangun di atas proyek gagasan (ide), tidak seperti mendirikan perusahaan; ada duit, tenaga kerja, pasar.

Memahami Indonesia dari Sudut Pandang Gagasan

Jika ingin memahami Indonesia melalui sudut pandang ide, setidaknya kita harus membaca dulu apa yang ditulis Sukarno “Islamisme, Marxisme dan Nasionalisme.” Sukarno memahami tiga gagasan inilah yang paling determinan membentuk dan melahirkan republik ini. Ia berinteraksi langsung dalam kancah itu.

Selain itu harus juga dibaca karya-karya pemikiran orisinil HOS Cokroaminoto, Natsir, Kartosuwiryo, Tan Malaka, Yamin, Hatta, Soepomo dan lain-lain. Semua pemikiran tersebut merefleksikan muara-muara ideologi yang inheren dalam kehidupan bangsa Indonesia. Membaca dan memahami bukan dalam konteks subversif, tetapi untuk memahami pergulatan ide dan menguatkan jatidiri ke-Indonesiaan kita.

“Saat ini kita kekurangan bacaan pertempuran tiga gagasan tersebut, apalagi kita selama puluhan tahun telah dicuci melalui kurikulum kita, kampus kita, sehingga ketika kita tanya apa itu marxisme, yang terbayang Gerwani menggorok orang, jika kita tanya apa itu Islamisme, yang terbayang hanya Natsir tanpa tahu seluk beluk pemikirannya, dan ketika ditanya apa itu nasionalisme, maka yang kita ingat hanya burung Garuda, selesai di situ,” ungkapnya prihatin.

Kepada para peserta diskusi, Syahrul berpesan, supaya tidak menjadi mahasiswa gagal, maka harus akrab dengan literatur tersebut. PKI saja, lanjutnya, punya ide untuk memajukan Indonesia, mereka ‘membayangkan’ Indonesia yang memayungi rakyat sehingga tidak perlu ada orang-orang terlantar, negara yang selalu hadir turun tangan menyelesaikan masalah dan kesenjangan.

Ke depan, anak-anak republik ini seharusnya bisa pintar menjadi leader di tingkat regional dan dunia, tetapi yang terjadi kini Indonesia malah hanya menjadi ‘pasar.’

“Hari ini orang sibuk dengan hal-hal yang material, kemarin orang tidak hanya memikirkan bahwa hidup hanya mengenai material, tetapi ada moral dan spirit lainnya,” tandas Syahrul.

About Author

Redaksi

Redaksi

Related Articles

0 Comments

No Comments Yet!

There are no comments at the moment, do you want to add one?

Write a comment

Write a Comment

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.