HMINEWS.COM

 Breaking News

HMI Kader Umat dan Bangsa

September 30
04:36 2013

HMINEWS.Com – Ada kecenderungan salah yang perlu dikoreksi sebelum merusak pergerakan dan menumbuhkan mental korup. Yaitu kecenderungan dalam merekrut mahasiswa dengan menunjukkan kebanggaan yang berlebih pada sosok atau tokoh-tokoh tertentu tanpa membedah pemikirannya.

Misalnya, upaya ‘menjual’ tokoh tertentu dan tawaran untuk menjadikan calon-calon anggota itu menjadi seperti si tokoh tersebut, tanpa membedah pemikiran dan “proses menjadi”-nya.

“Dari awal, korupsi dimulainya seperti itu, merasa lebih baik dari orang lain dan muncullah sikap sewenang-wenang, tidak punya awareness tentang keadilan,”  ungkap mantan Ketua Umum PB HMI MPO, Syahrul Efendi Dasopang dalam diskusi di PB HMI MPO di Jagakarsa, Jakarta Selatan, Ahad (29/9/2013) malam.

Merasa selalu lebih baik dari orang lain karena latar belakang kampus, organisasi dan latar belakang lainnya, kata Syahrul, adalah bibit dari sikap jumawa yang kemudian meremehkan orang lain. Karena merasa menjadi golongan elit dan tidak merasa tidak ada yang bisa mengawasi, maka mencullah perilaku yang korup.

Untuk mengatasi persoalan tersebut, lanjut Syahrul, yang harus dilakukan adalah dengan mengajak mahasiswa bicara secara substansial. “Yang diapresisasi adalah pemikirannya, bukan melulu sosoknya.”

Syahrul mengakui, dalam perjalanannya HMI yang penuh dinamika, berbagai ijtihad diambil untuk kemajuan organisasi. Seperti ijtihad Nurcholis Madjid yang fenomenal pada zamannya. Namun, di antara ijtihad tersebut, walau banyak capaian besar, tetapi tetap ada yang patut dikoreksi.

“Cak Nur, dialah yang memisahkan HMI dari spektrum gugusan gerakan-gerakan Islam.  Tapi kemudian menjadi elitis, sehingga seolah tidak mempunyai tanggungjawab moral terhadap yang masih menderita,” lanjutnya.

Sikap elitis tersebut, misalnya, terlihat dari perilaku sebagian anggota atau bahkan kader yang petentang-petenteng karena membayangkan dirinya akan jadi pejabat, menteri dan sebagainya.

“Seperti itulah struktur massa borjuasi diciptakan, merasa seolah terpisah dan berdaya sendiri, terpisah dari massa rakyat,” tegasnya.

Alumni PTIQ tersebut menawarkan solusi, “Hidupkanlah gerakan keislaman itu menjadi gerakan kemanusiaan, bukan gerakan ‘sempalan,’ sebagaimana Islam lahir menjadi gerakan kemanusiaan. HMI harus menjadi mercusuar program kemanusiaan hari ini, memecahkan persoalan kemanusiaan dengan sumber yang diambil dari mata air Islam,” tandas Syahrul.

Tags
hmi
Share

About Author

Redaksi

Redaksi

Related Articles

0 Comments

No Comments Yet!

There are no comments at the moment, do you want to add one?

Write a comment

Write a Comment

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.