Yogi Maharesi*
Rasyid Baswedan (foto: @anienurwasilah)
Rasyid Baswedan (foto: @anienurwasilah)

Akhir Desember 2010 di Yogyakarta. Suatu pagi saya menghubungi nomor telpon rumah seorang tokoh sepuh yang selalu berusaha saya sambangi tiap sedang berada di kota ini. Dia adalah Rasyid Baswedan, ayah dari Rektor Universitas Paramadina, Anies Baswedan.

Bertemu Pak Rasyid perlu buat janji dulu karena dia cukup sering bepergian ke rumah sanak saudara. Kalau sedang di rumah, waktu istirahatnya dijaga.

Pagi itu saya menelpon sekitar jam 7, lalu Pak Rasyid mengizinkan saya ke rumahnya jam 11. Saya senang bisa cepat bertemu. Biasanya, dia akan menyediakan waktu keesokan hari setelah saya telpon, atau dua-tiga hari ke depan untuk menerima kedatangan saya.

Saat itu saya rasa butuh sekali bertemu Pak Rasyid. Saya sedang dirundung masalah. Berbulan-bulan beban dan tantangan tiap hari begitu berat dan menumpuk.

Pak Rasyid salah satu tempat terbaik untuk menenangkan diri. Sudah sejak ketika saya diamanahi sebagai Ketua Umum Himpunan Mahasiswa Islam (HMI-MPO) Cabang Yogyakarta tahun 2002-2003. Bila masalah sudah berat sampai sesak, saya menemui Pak Rasyid.

Bukan keinginan membahas pokok masalah yang membuat saya mendatangi Pak Rasyid. Tetapi, dengan hanya bertemu dan mendengar tutur kata Pak Rasyid mengenai apa pun yang menjadi perhatiannya, dan hikmah-hikmah pengalaman hidup yang dibaginya, saya selalu merasa mendapat ilham untuk menghadapi masalah saya sendiri.

Tepat jam 11, saya mengetuk pintu rumah sederhana, bersih dan asri di Jl. Kaliurang Km 5 Gang Grompol No 18. Masih sama, Pak Rasyid mengenakan peci hitam, baju koko, sarung dan bersandal. Menyambut ramah, memandang teduh dengan benderang wibawa yang selalu saya kagumi, di usianya yang kian senja. Dia menyalami, memeluk dan menepuk-nepuk pundak saya.

Kami duduk berdua saling bertanya kabar. Saya berpikir akan menghabiskan waktu paling lama satu jam bersama Pak Rasyid.

Agak beda, Pak Rasyid lebih aktif berbicara dibanding biasanya, sementara saya mendengar. Bisa dibilang dia “mendominasi” perbincangan. Saya beruntung dapat ilmu gratis tanpa banyak tanya.

Kali ini Pak Rasyid bercerita tentang pengalamannya menunaikan ibadah haji. Lengkap dan detail dari sebelum berangkat sampai kembali. Mulai keunikan bagaimana dia sampai berkesempatan berangkat haji, dan kejadian-kejadian aneh penuh makna yang dialaminya di tanah suci. Sekelumit keanehannya masih berlanjut hingga tiba di bandara tanah air.

Pak Rasyid bercerita, dan terus bercerita. Saya terbawa setiap kalimatnya. Kejadian-kejadian di tanah suci yang dia kisahkan membuat termenung. Entah mengapa perasaan bercampur aduk mengikuti ceritanya. Tak disadari, dua setengah jam sudah dia bicara. Ya, dua setengah jam. Itu adalah pertemuan terlama kami.

Putra pejuang republik itu berbicara lama, menarik, runtut, rapi, logis, dan retorik. Dengan cara duduknya yang khas meski dalam keterbatasan kekuatan fisik yang tua: badan bersandar tegak, tangan di kanan-kiri kursi, kedua kaki rapi menjejak ke lantai.

Tidak pernah tangannya mendekap di dada, apalagi menopang dagu. Atau tubuhnya tanpa sadar jadi miring, posisi duduk melorot, bersantai kaki kanan ditumpangi ke kaki kiri dan sebaliknya, tidak pernah. Dia jauh dari kesan loyo, duduknya persis tata cara duduk militer. Pak Rasyid selalu seperti itu.

Saya menghela nafas panjang, terdiam. Betapa tidak, sepanjang Pak Rasyid berkisah sendiri selama dua setengah jam, selama itu pula sesuangguhnya dia tengah menggali, membahas dan menjawab masalah berat yang sedang saya hadapi lewat pengalaman-pengalamannya sendiri di tanah suci. Padahal sejak awal saya belum sempat mengutarakan masalah saya kepadanya. Dan masalah saya tentu tidak ada hubungannya dengan ibadah haji.

Hikmah yang tercurah dari pengalaman-pengalaman Pak Rasyid tersebut, rupanya sepenuhnya menjadi cermin masalah saya. Juga telah memberi jawaban yang tepat dan telak. Masalah yang merundung berbulan-bulan itu mendapat jalan keluar, tanpa dibahas. Saya sangat bersyukur, karena sejak itu langkah-langkah baru telah dimulai, hasilnya pada saya dan keluarga perlahan nampak hingga hari ini.

Rupanya, pertemuan kami tersebut menjadi pertemuan yang terakhir. Selama 2011 sampai 2013 saya ke Yogyakarta untuk beberapa keperluan yang berbeda, tapi tidak sempat bertemu Pak Rasyid. Saya ingat, berkali-kali bertemu Pak Rasyid, berkali-kali pula menyimpan kesan demi kesan.

Pernah suatu malam saya mengajak tiga kader HMI bersilaturahmi ke rumah Pak Rasyid. Habis mendengarkan tausiyah dari Pak Rasyid, seperti biasa kami minta dido’akan sebelum pamit pulang. Lalu satu-satu kami bersalaman dengan Pak Rasyid.

Tiba giliran seorang kader bernama Agustin Ariyani bersalaman dengan Pak Rasyid. Seketika, dengan tetap menyalami, Pak Rasyid bertanya kepada Gustin, “Tangan anda sakit?”. Gustin bingung. Setelah berpikir sejenak, Gustin baru ingat sendiri. Sekian lama memang ada yang “kurang beres” di sekitar jemari dan pergelangan tangannya, meski tidak begitu mengganggu. Kemudian Gustin menjawab, “Iya, Pak. Tangan saya sakit”. Saya tertegun, kok Pak Rasyid tahu?!

Masih menyalami Gustin, Pak Rasyid berkata, “Saya bisa membantu supaya anda tidak sakit lagi. Tapi saya tidak boleh melakukannya langsung kalau anda sendiri tidak minta dulu agar saya membantu. Jadi kalau mau, silahkan anda minta dulu saya untuk membantu”. Betapa rendah hati orang tua ini. Menjauh dari sombong.

Dengan masih bingung dan agak terbata Gustin pun berkata,”Iya, Pak. Saya minta tolong supaya tangan saya tidak sakit lagi”.

“Baiklah, insya Allah saya bantu anda”, jawab Pak Rasyid singkat. Jabatan tangannya sedikit erat, lalu berdo’a dalam hati. Tangan kiri Pak Rasyid menepuk-nepuk pelan pergelangan tangan kanan Gustin yang sakit. Seolah tidak ada yang nampak istimewa dari proses itu. Gustin relaks saja.

Sesaat kemudian, Pak Rasyid minta seorang kader perempuan satunya bernama Ulfa, untuk “memeriksa” apakah punggung Gustin berkeringat. Ulfa berkata keringatnya deras, merembes ke pakaian Gustin.

Lalu selesai. Pak Rasyid berucap pelan, “Alhamdulillah…”. Alhasil, sebelumnya Gustin tidak bisa melakukan gerakan tertentu di sekitar jemari dan pergelangan tangannya. Tapi mulai saat itu, Gustin sudah bisa melakukan gerakan yang lama tidak bisa dia lakukan. Hanya disalami dan ditepuk-tepuk pelan. Saya terheran, kok bisa?!

Di lain waktu pernah ada seorang kader bernama Panji Wening Hariyanto, saya ajak sowan bertemu Pak Rasyid. Obrolan hangat mengalir, Pak Rasyid mentransfer ghirah-nya kepada kami. Satu jam lebih. Mi goreng campur telur yang jadi hidangan sudah habis.

Lalu kami bersiap pulang. Saya berkata, “Pak, kami pamit pulang dulu, sudah malam”. Pak Rasyid cepat menjawab sambil tertawa, “Lho, kan tadi waktu datang memang sudah malam?” Tak lupa Pak Rasyid menawarkan untuk kami menginap saja. Tambahnya, “Teman-teman Anies, Iwan (Ridwan) dan Abdillah dulu sering menginap”.

Malam itu sekembalinya ke sekretariat HMI Cabang Yogyakarta, saya perhatikan Panji rebah di karpet ruang tamu. Matanya menerawang. Saya lihat lagi, dia masih diam tercenung menatap langit-langit.Saya dekati dia, saya bertanya, “Ada apa? Kenapa melamun?”. Panji tidak menjawab, dia tetap diam. “Ada masalah?”, tanya saya lagi. Panji masih ‘melongo’ sendiri.Akhirnya keluar dari mulutnya, “Pak Rasyid, Mas… Itu tadi Pak Rasyid… Wah…” katanya putus-putus. Saya tersenyum. Ya, seketika saya mengerti apa “masalah” dia. Saya hanya menimpali, “Ooo, iya. Pak Rasyid..” Lalu saya tinggalkan Panji, matanya masih menerawang saja.Saya mengerti, bagi orang yang baru saja bertemu Pak Rasyid akan terkesima. Kharismatik, teguh, tegas, keras, berani. Tapi juga cerah, teduh, halus, nyaman. Sampai membuat Si Panji sulit berkata-kata.

Waktu itu saya mengajak kader-kader bergantian bertemu Pak Rasyid. Saya sangat percaya siapa pun kader yang sudah “disentuh” oleh Pak Rasyid, selanjutnya lebih siap dan mudah terbentuk militansinya. Dan itu terbukti. Pak Rasyid itu pengader sejati, ilmunya mudah menular kemana-mana.

Pak Rasyid punya banyak pengalaman yang dia ceritakan kepada kami yang muda-muda: menjadi Ketua Senat Mahasiswa UII selama dua periode, bertemu Saddam Husein, menyelamatkan sang ayah AR Baswedan dari incaran PKI, suka duka kehidupan M. Natsir dan teman-teman seperjuangan, pertarungan ideologis antar-perguruan tinggi, kisah penjahat ilmu hitam yang turun gunung menemuinya untuk bertobat, meladeni mahasiswa preman di kampus, mendukung penuh anak-anaknya berorganisasi, sampai urusan memakmurkan masjid dekat rumah. Macam-macam kisah pengalamannya.

Pada tahun 2001, Korps Alumni HMI (KAHMI) Yogyakarta dikomandani oleh Bang Zulkifli Halim mengadakan acara syawalan keluarga besar HMI di Gedung Amal Insani. Banyak tokoh-tokoh HMI hadir, dari yang sepuh, sedang jadi pejabat, maupun yang masih di kepengurusan. Pak Rasyid salah satu sesepuh yang hadir.

Ternyata oleh karena suatu persoalan atau mungkin kesalahpahaman, forum syawalan yang guyub itu berubah ke arah suatu perdebatan diantara sebagian yang hadir. Riuh dan ramai, makin sulit dikendalikan. Sudah lewat tengah hari.

Di titik ketika hampir memanas, Pak Rasyid berdiri. Dia angkat bicara dengan keras, “Saudara-saudara, kita ini HMI, sekarang sudah waktunya sholat zuhur. Hentikan perdebatan ini! Kita sholat semuanya!”. Dari situ semua beranjak ke ruang sholat, keadaan mereda dengan sendirinya. Usai sholat, acara dilanjutkan, suasana sudah cair.

Pak Rasyid kerap mengulang nasehat tentang keteguhan dalam memegang prinsip. Dia mengibaratkan seorang muslim harus seperti sebongkah batu sungai yang kokoh. Tak bergeser meski terus didera arus. Bahkan ketika air bah melanda, memang sementara waktu batu tersebut tenggelam tak terlihat. Namun saat air bah surut, bongkahan batu itu tegar masih di tempatnya semula. Demikianlah seorang muslim harus teguh dalam mempertahankan prinsip, tanpa kompromi. Berulang-ulang Pak Rasyid ingatkan hal yang sama di kesempatan yang berbeda.

Jum’at 13 September 2013, kabar duka itu datang. Pak Rasyid Baswedan wafat dengan tenang di Yogyakarta, saat subuh. Sungguh hari dan waktu yang indah untuk berpulang kepada-Nya.

Saat-saat bersilaturahmi dengan Pak Rasyid tidak akan terulang. Sosok menenangkan itu telah tiada. Dia yang menjadi tempat mencari jawaban, mereguk semangat juang. Seorang aktivis pergerakan sejati.

Dia meninggalkan jejak-jejak pelajaran dan penghormatan yang tak akan lekang bagi orang-orang yang pernah mengenalnya. Selamat jalan, Pak Rasyid Baswedan.

Masjid Istiqlal, Jakarta, 16 September 2013

Yogie Maharesi
Ketua Umum HMI MPO Cabang Yogyakarta Periode 2002-2003