belajar membuat film (foto: metfilmschool)

HMINEWS.Com – Untuk sampai pada kemampuan tingkat tinggi membuat film, bisa kuliah perfilman, dan itu paling tidak 4-5 tahun baru lulus. Adakah cara lain untuk mengejar ilmu tersebut secara lebih singkat bagi orang yang ingin membuat film tapi tidak pernah kuliah perfilman?

Berikut ini penuturan sutradara kawakan, Imam Tantowi dalam Workshop Pembuatan Film yang diadakan tim IMSA TV di kantor Perhimpunan KB PII di Jalan Daksa, Kebayoran Baru Jakarta Selatan, Sabtu (28/9/2013) sore.

“Caranya ya kita belajar pada film. Kalau sekolah, lima tahun, dengan menonton film, kita bisa faham. Ditonton dan kemudian dibedah; didiskusikan, begitu dilakukan berulang-ulang. Kita pilih film yang bagus-bagus, dari situ kita belajar film yang bagus, cara bercerita film yang bagus itu bagaimana, lighting-nya seperti apa, pembagian job, angle dan dialog yang bagus,” ungkap Imam Tantowi.

Sutradara yang pernah menggarap berbagai film layar lebar termasuk film kolosal yang fenomenal di zamannya ‘Saur Sepuh’ tersebut mencontohkan, di antara film yang bagus untuk dibedah di antaranya film The Godfather yang sangat bagus hampir dalam segala sisinya; kekuatan dialognya, pencahayaannya, angle-nya, dan dramatisasinya. Selain itu ada juga film-film produksi negara Iran yang mampu mengangkat ide yang orisinal dari negeri tersebut.

Ia menuturkan, adegan tertentu perlu angle tertentu pula dan ada yang disebut dengan istilah karakter shoot. Misalnya adegan sedih atau orang menangis jangan diambil dari bawah, karena justru mengesankan sombong, tetapi lebih bagus dari atas karena akan lebih memberikan tekanan.

Selain itu kesan psikologis tiap adegan tidak boleh terbalik, seperti adegan melarikan diri harus dibuat menjauhi kamera, sedangkan scene kepulangan ke rumah harus diambil dari rumah dan yang menjelaskan bahwa tokoh yang diperankan tersebut sedang pulang ke rumah.

“Kalau diambil dari luar yang menjauh meskipun masuk rumah, itu namanya menuju rumah, tidak identik dengan kepulangan,” tandasnya.

Sutradara asal Tegal itu juga melanjutkan, untuk satu adegan bisa terjadi ada puluhan shoot, dan hal itu sudah biasa. “Jangan pernah berfikir satu adegan itu dengan satu shoot.”

Bagaimana Membuat Film Menarik?

Di hadapan para calon pemain film “Kerudung Cinta” yang akan dibuat para alumni Pelajar Islam Indonesia (PII) tersebut, Imam Tantowi tidak pelit berbagi ilmu penyutradaraannya. Alumni Brigade PII di tahun 60-an tersebut mengatakan, untuk membuat film yang baik dibutuhkan ide cerita yang menarik.

Dari ide yang menarik itulah yang juga biasanya akan menggerakkan produser untuk mau membiayai produksi film tersebut, seperti kisah film fiksi ilmiah ‘Armageddon’ yang begitu booming. Sebelum ditulis, penulis skenarionya hanya membuat dua kalimat yang diajukan kepada produser: “Ada sebuah asteroid sebesar Kota Texas yang jatuh dan sedang menuju bumi. Nasa memerintahkan agar menghancurkan asteroid tersebut.” Dua kalimat ini menggambarkan kekuatan ide cerita Armageddon yang membuat sang produser tertarik dan membiayai produksinya.

Ia meneruskan, ide cerita bisa berupa apa saja yang menarik, bisa kegelisahan dan kritik terhadap sesuatu dan ingin menyampaikan pesan tersebut secara menarik melalui film.

Misalnya, sebagaimana pernah ia buat, film “Sang Muballigh” yang bercerita tentang seorang da’i muda yang sangat potensial, yang oleh temannya akan diorbitkan menjadi da’i terkenal atau da’i selebritis dengan penghasilan tinggi. Sebelum menyanggupi permintaan teman yang mengaku siap menjadi manajer dan menjanjikan tarif puluhan juta apabila sudah terkenal tersebut, si da’i muda mendatangi kakeknya dan minta diajari cara berpidato yang memukau.

Oleh Engkongnya (karena ia Betawi, memanggil kakek dengan sebutan engkong) ia justru disuruh mengembalikan sebuah kitab fiqih kepunyaan teman pesantrennya dahulu. Si da’i muda mengantarkan kitab tersebut, namun titipan itu dijambret di pemukiman di lokasi pembuangan sampah.

Dalam upaya menemukan kembali kitab pinjaman tersebut, si pemuda melihat kondisi yang sangat timpang di masyarakat pembuangan sampah. Hingga akhirnya ia berda’wah di lingkungan tersebut dan menolak menjadi da’i selebritas.

Menurut pengakuan Imam Tantowi, yang ingin diangkat dari film tersebut adalah kritik terhadap da’i-da’i perkotaan yang hanya melayani ibu-ibu arisan, mengejar popularitas, dan melupakan orang-orang kumuh yang juga berhak atas pengajaran agama.

@fathur_bekasi