CIMG3322HMINEWS.Com – Revolusi tahun 2013 yang terjadi di Mesir seakan menjadi anti klimaks dari perjalanan Ikhwanul Muslimin (IM) dalam percaturan politik di negeri piramid tersebut. Militer yang tidak berhasil dijinakkan oleh Mursi ternyata menjadi bumerang bagi pemerintahannya. Militer Mesir mampu memanfaatkan kondisi psikologis massa yang tidak suka dengan kebijakan-kebijakan Mursi dalam menjalankan pemerintahan. Hal tersebut tergambar pada Diskusi Publik Refleksi Ikhwanul Muslimin pasca Mubarak bersama Rizki Umar Mardhatillah, SIP (Mantan menteri koordinator eksternal BEM KM UGM 2012) pada Selasa, 10 September 2013 yang bertempat di Sekretariat HMI Cabang Sleman, Pogungrejo 375.

Sebelum membahas tentang masalah yang terjadi antara IM dan militer Mesir, Umar (panggilan Rizki Umar Mardhatillah, SIP) memaparkan tentang perjalanan dari berdirinya hingga masa-masa awal konflik dengan Militer. Ikhwanul Muslimin yang didirikan tahun 1928 awalnya berbasis di daerah pedesaan dan kemudian menjadi gerakan politik di tahun 1948. Bersama-sama dengan militer, kedua entitas tersebut berjasa mengubah bentuk Kerajaan Mesir menjadi Republik.

Namun kemesraan tersebut berbalik 180 derajat ketika terjadi rencana pembunuhan terhadap presiden Nasser pada tahun 1955.  IM menjadi pihak yang dicurigai oleh militer sebagai dalang dari peristiwa tersebut, alhasil sejak saat itu konfrontasi antara kedua belah pihak tak terhindarkan lagi. Keadaan tersebut diperparah dengan cara pandang membangun negara yang sangat bertolak belakang. Militer berpandangan Nasionalisme Arab dan Islam yang progresif lah yang mampu diterapkan di Mesir, sedangkan IM berpandangan bahwa Syumuliyatul Islam harus diterapkan dalam berbagai sendi kehidupan tanpa kecuali.

“Setelah peristiwa penangkapan petinggi-petinggi IM pada tahun 1960-an, pada masa kepemimpinan Umar Tilmisani IM mencoba untuk tampil lebih soft dengan mencoba untuk masuk lewat bidang-bidang profesional seperti perhimpunan insinyur, perkumpulan olahraga dan universitas-universitas.” Jelas Umar.

Sejak saat itu, fokus IM tidak hanya ke bidang politik namun juga telah tersebar di berbagai sendi kehidupan. Hal ini menjadi dasar, mengapa ketika Mesir terkena Arab Spring kelompok IM lah yang paling siap untuk merebut kekuasaan.

Naiknya IM ke tampuk kekuasaan ternyata diikuti juga oleh intrik internal, menurut Umar keluarnya barisan intelektual yang dipimpin oleh Abdul Mun’im Abul Futuh dari gerbong IM menyebabkan olengnya posisi pemerintahan Mursi, karena barisan intelektual yang diharapkan menjadi salah satu pilar penting dalam pemerintahan ternyata malah pergi. Kompensasi dari hal tersebut Mursi terpaksa mengajak golongan Liberal dan Kiri untuk masuk di pemerintahan.

Alasan kedua yang menjadikan IM terpaksa turun adalah ketidakmampuan Mursi dalam “menjinakkan” militer Mesir, hal tersebut harus dibayar mahal oleh Mursi dengan didongkelnya ia dari tampuk kekuasaan pada 2013.

Alasan ketiga dan juga penting adalah euforia yang terlalu berlebihan dari kelompok Islamis (diwakili IM dan partai salafi Nour), dan terlalu dominannya posisi mereka dalam penentuan konstitusi Mesir yang baru, golongan Liberal dan Kiri yang merasa turut ikut dalam Revolusi menggulingkan Mubarak menjadi “sakit hati” sehingga mereka menumpahkan kekesalannya lewat parlemen jalanan. Akumulasi ketiga hal tersebutberpuncak pada penggulingan Mursi dari kusri kepresidenan pada tahun 2013.

Diskusi yang berlangsung hingga pukul 22.30 tersebut di ikuti oleh 23 peserta. Tanya jawab yang berlangsung seru juga menambah wawasan peserta mengenai perkembangan terbaru Mesir. HMI Cabang Sleman sebagai penyelenggara diminta oleh peserta untuk kedepannya dapat memperbanyak diskusi-diskusi berbobot yang dapat menambah wawasan dan kapasitas kader.

K Muqit