HMINEWS.Com – Pengurus Himpunan Mahasiswa Islam (HMI -MPO) Cabang Sleman periode 2013-2014 dilantik. Pelantikan dilakukan oleh Ketua Umum PB HMI MPO, Puji Hartoyo Abubakar, Sabtu (21/9/2013).

Acara yang dihelat di Masjid Nurul Ashri, Deresan, Sleman, dihadiri kader Cabang Sleman dan tamu undangan dari pergerakan lain seperti KAMMI, IMM, Gema Pembebasan dan HMI Cabang Bulaksumur.

Quthub Muhammad, selaku ketua panitia menyampaikan bahwa HMI sebagai organisasi pergerakan Islam perlu kembali lagi untuk membangun basis di masjid-masjid, karena masjid adalah umber inspirasi bagi peradaban Islam. “Spirit Pelantikan HMI perlu diiringi spirit untuk menjadikan masjid sebagai titik tolak perjuanganya,” lanjut Quthub.

Acara tertunda lebih dari satu jam, namun akhirnya berlangsung lancar. Pelantikan ini menandai estafet perjuangan dari Aufa Taqiya, dan kini HMI Cabang Sleman yang dulunya Korkom UGM dipimpin oleh Hafidz Arfandi. HMI Cabang Sleman di bawah Aufa Taqiya sudah memberikan prestasi signifikan dengan kenaikan jumlah kader basic training dua kali lipat dari sebelumnya.

“Biasanya kami satu tahun hanya  bisa mengader 70-80 orang, tahun ini di bawah Mas Aufa, 143 orang kader bergabung dengan HMI cabang Sleman” Kata Hafidz yang sebelumnya diamanahi Kabid Perkaderan.

Rangkaian acara Pelantikan HMI cabang Sleman dibarengi dengan diskusi bertema “Memantapkan Gerakan Islam dalam Mengawal Eksistensi dan Peran Negara” dengan pembicara Ketua Umum PB HMI Puji Hartoyo, Gus Mustafied dari Pesantren Aswaja Nusantara-Mlangi dan Nurhadi, Ph.D, antropolog UNS yang juga alumni HMI UGM.

Dalam seminar ini diutarakan berbagai gagasan pembaharuan yang menarik, seperti disampaikan Gus Mustafied yang memulai dengan menarik kerangka analisis gerakan Islam di Indonesia sejak tahun 1411, ketika Adipati Unus menyerang Portugis di Makassar. Titik pijak gerakan Islam adalah perlawanan pada kolonialisme dan imperialisme.

Selain itu mantan Ketua PMII UGM ini menyampaikan analogi gerakan Walisongo dengan gerakan Islam kekinian, “Walisongo bisa membangun imperium Islam di nusantara melalui empat akumulasi: akumulasi ekonomi, akumulasi ilmu pengetahuan, akumulasi politik, dan strategi kebudayaan,” lanjutnya.

Sedangkan Antropolog UNS, Nurhadi menyampaikan adanya fragmentasi gerakan Islam dalam tiga varian. Pertama, varian Islam Politik yang terbagi antara skriptualis dan substansialis. Aliran skriptualis percaya akan keharusan menegakkan hukum Islam secara tekstual dalam hukum positif, sedangkan substansialis lebih berpendapat perlunya mengisi ruang-ruang politik tanpa harus membawa Islam secara legal formal.

Varian Kedua adalah Islam Kultural yang lebih menekankan pembangunan masyarakat dengan nilai-nilai Islam. Varian etiga adalah tipologi gerakan sosial, di mana mereka bekerja di wilayah praksis. Ketiganya sering kali saling klaim bahwa tipologi gerakannya yang paling baik.

“Seharusnya kita perlu membuat mix typology dari ketiganya,” tegas Nurhadi yang semasa mahasiswa di era 1998 menjadi ketua Liga Mahasiswa Muslim Yogyakarta, sekaligus pernah menjabat sekjend BEM KM UGM.

Ketua PB HMI, Puji Hartoyo dalam kesempatan ini lebih banyak menyoroti refleksi bahwa gerakan menjadi penggerak roda sejarah bangsa Indonesia sejak zaman pergerakan nasional hingga kini.

Berbicara tentang negara ketiga pembicara sepakat bahwa eksistensi negara nyaris lenyap. Nurhadi menandaskan bahwa negara hadir sekedar simbolis pada KTP dan uang, tetapi rakyat memiliki pengalaman bersinggungan dengan negara secara berbeda. Petani bersinggungan dengan negara dalam wujud polisi hutan yang garang, sopir-sopir bersinggungan dengan negara dalam wujud razia dan tilang.

Sedangkan Gus Mustafied menyebut negara dan sejarahnya yang difahami terlalu berbau kolonialis. “Negara kita seratus persen adalah kelanjutan pelaksanaan administratif dari kolonial Hindia Belanda sehingga perilakunya tak jauh beda tetap menindas,” tandasnya.

Ketika membahas gerakan mahasiswa yang kini mulai memudar, Nurhadi yang menyelesaikan doktoralnya di Australia ini lebih bersikap skeptis. “Gerakan mahasiswa sekarang kehilangan social trust karena terlalu banyak bermain dengan relasi kekuasaan,” katanya.

Sebagai kasus dituturkan ada kasus mahasiswa di Solo berdemo untuk mendukung Walikota diJjawa Barat dari goncangan politik di DPRD. Hal seperti itu tidak mungkin terjadi jika tidak digerakan oleh partai tertentu. Selain itu gerakan mahasiswa juga lebih tepat disebut organisasi mahasiswa saja, karena tidak mampu melahirkan agenda perjuangan yang jelas.

Adapun Gus Mustafied lebih meyakinkan bahwa masih ada harapan bagi gerakan mahasiswa. “Banyak penelitian bahwa gerakan mahasiswa memang menjadi pemicu perubahan, dikarenakan kemampuanya untuk mengorganisir diri dengan cepat, sehingga budaya diskursif pergerakan perlu dikuatkan, prasyaratnya gerakan mahasiswa tidak boleh terkooptasi kepentingan politik” ujarnya.

Mustafid menyitir kaidah tasawuf  “Apa yang muncul dari hati akan diterima di hati, jika mahasiswa memperjuangkan nuraninya maka masyarakat akan menerimanya dengan hati nurani,” tandasnya.

Arahan gerak bagi gerakan mahasiswa menurut Mustafied ada tiga hal, pertama, public awareness, kedua, advocacy public policy, dan ketiga, intellectual reproduction.

Arfan