Target atau tujuan merupakan penggerak dan acuan dalam semua aktivitas. Tanpa tujuan, gerak dan semua pekerjaan tidak akan terarah, hanya menjadi rutinitas menjemukan dan tidak menghasilkan apa-apa kecuali membuang waktu saja. Dengan tujuan yang jelas, maka pelaku usaha, pedagang, pegawai atau karyawan, guru, aktivis dan semua orang yang melakukan aktivitas apapun bentuknya akan lebih bergairah.

Mereka tahu ke mana mereka sedang melangkah, meski mungkin saja saat ini belum menjadi apa-apa, namun ada optimisme bahwa mereka itu akan mencapai suatu kondisi atau posisi tertentu di kemudian harinya.

Seorang wirausahawan yang tahu betul apa yang menjadi tujuannya, akan lebih getol, lebih bersemangat dan lebih tahan menjalani setiap proses yang harus dilalui. Tujuan itulah yang menjadi energinya yang melimpah dan seolah tidak ada habis-habisnya. Seperti mesin diesel yang semakin panas justru semakin bertenaga. Karena dari setiap proses yang dilalui pasti ada satu pelajaran yang bisa dipetik untuk lebih menguatkan keyakinan dan memantapkan semua usahanya. Pengalaman demi pengalaman, bahkan meski itu berupa kegagalan, akan membuatnya semakin yakin bahwa tujuan yang dicita-citakannya semakin mendekati kenyataan.

Berbeda halnya dengan orang, organisasi atau perkumpulan, perusahaan atau apapun yang tidak punya target yang jelas. Atau, ada target secara tertulis dalam AD/ART (Anggaran Dasar/ Anggaran Rumah Tangga) organisasi dan perusahaannya, namun tidak pernah menjadi komitmen bersama yang terus diperbaharui oleh tiap anggotanya yang juga selalu berganti karena proses regenerasi.

Bila demikian keadaannya, arah organisasi-perusahaan tersebut tidak lagi jelas dan bisa dipastikan semua aktivitasnya tidak akan membawa pengaruh apa-apa kecuali sebatas seremonial, hanya menjadi pelanjut tanpa inovasi, penghias surat kabar atau kliping kegiatan. Sementara potensi sumberdaya manusia yang ada di dalamnya tidak akan mencapai kemajuan maksimal atau mendapatkan pencapaian tertinggi yang semestinya bisa diraih dengan mengoptimalkan semua daya dan upaya, tenaga, fikiran serta totalitas. Keuntungan yang didapat pun akan semakin menurun. Jika pun bertahan stabil, tetap hanya akan habis untuk membiayai seluruh pegawai, dan lama-lama akan semakin surut dengan makin berkurangnya pelanggan dan merosotnya daya jual produk yang dihasilkan.

Cara Menentukan Target

Untuk menentukan target harus mencari dulu apa yang menjadi kebutuhan terbesar. Memikirkan apa yang akan dipilih, diraih dan dihasilkan, baik secara individu, kelompok atau secara kelembagaan. Target haruslah merupakan hal besar yang apabila dapat diraih akan mengangkat nama atau menjadi kemenangan individu dan kelompok, menjadi solusi atas kebutuhan paling mendesak yang tengah melanda zamannya. Membalikkan keadaan yang mandek menjadi bergairah, bangkit dari keterpurukan atau kondisi stagnan menjadi dinamis dan penuh capaian prestasi yang membanggakan.

Menentukan target harus  membaca kebutuhan, sehingga produk yang dihasilkan diminati dan ‘laku’ di pasaran. Sebaliknya, ketidakmampuan membaca kebutuhan zaman akan menghasilkan kegamangan dalam penentuan tujuan serta kehilangan langkah besar. Dari itu mengidentifikasi kebutuhan paling mendesak sama pentingnya dengan kebutuhan terhadap prestasi itu sendiri.

Tujuan dapat ditentukan dengan mengumpulkan pendapat, ide atau gagasan dalam suatu brain storming. Dalam suatu rapat atau musyawarah besar, baik di dalam maupun di luar ruangan, dipilih sesuai kesepakatan dan terjamin dari kebocoran informasi ke pihak lain. Seperti di tempat-tempat yang jauh dari hiruk-pikuk atau keramaian, di tempat yang relatif jauh, sekaligus dalam rangka rekreasi.

Demikian biasanya tempat dan waktu yang dipilih, sehingga semua individu berfikir tidak dalam tekanan atau dalam suasana jenuh yang membatasi kemampuan berfikir maksimalnya. Sejenak meninggalkan rutinitas sehingga otot dan fikiran lebih rileks dan diharapkan mampu berfikir yang ‘keluar dari kotak.’ Semua ditampung untuk kemudian dipilah-pilih mana yang paling bagus dan diurutkan sesuai skala prioritas. Kemudian dengan suara bulat diputuskan untuk menjadikannya sebagai tujuan bersama. Setelah itu adalah proses penentuan strategi untuk mewujudkan tujuan. Dipilih yang paling jitu, paling mudah dan paling ringan secara biaya serta paling cepat untuk mewujudkannya.

Merumuskan Strategi Pencapaian.

Dari semua cara serta kemungkinan yang telah diusulkan harus disaring mana yang paling efektif (jitu) dan efisien (praktis, murah dan cepat). Jangan hanya satu cara yang diandalkan, akan tetapi harus ada cara 1, cara 2 dan seterusnya. Rencana 1, rencana 2 atau plan A, plan B dan seterusnya sebagai langkah antisipatif apabila strategi pertama tidak berhasil atau berhenti di tengah jalan karena berbagai kendala yang muncul. Kendala yang muncul selama proses berjalan bisa diprediksi bentuk dan jenisnya sebelumnya, atau yang tidak terprediksi jenisnya namun terprediksi secara garis besar dan telah disiapkan antisipasinya dengan plan B, rencana 2 dan sebagainya sehingga gerakan atau pekerjaan tidak gagal total.

Dengan kewaspadaan tinggi, semua gangguan dan ancaman dapat terdeteksi. Jangan sampai terlambat mengambil langkah penyelamatan dengan berganti taktik. Dari plan A ke plan B, dari rencana 1 ke rencana 2 dan seterusnya. Boleh jadi tidak semua mendukung dan sepakat pada awalnya, dan karena itu perlu proses memahamkan, membuat mereka yakin dan berbalik mendukungnya. Pastikan semua sepakat dan mendukung rencana yang dijadikan sebagai rencana atau strategi bersama, meskipun mereka yang pada awalnya menolak dengan keras. Di sinilah mekanisme organisasi-perusahaan berlaku, dan semua harus mematuhinya dalam semangat kesatuan, esprit de corps. Buatlah komitmen agar tidak ada yang saling menjatuhkan karena perbedaan pandangan mengenai strategi dan taktik atau cara yang ditempuh dalam mencapai tujuan bersama ini.

Kesalahan salah satu bagian akan berpengaruh dan mengganggu proses secara keseluruhan. Kesalahan kecil yang fatal bisa menggagalkan keseluruhan rencana besar dan strategi pencapaiannya. Karenanya mekanisme reward and punishment harus tetap diberlakukan sebagai kontrol bersama.

Pembagian Peran

Jika strategi sudah ditentukan, langkah berikutnya adalah pembagian fungsi dan peran semua yang terlibat. Siapa sebagai apa, sesuai spesifikasi keahlian masing-masing agar kerja-kerja yang dilakukan dapat efektif langsung pada sasaran. Tiap orang, unit atau kelompok bekerja sesuai peran atau fungsi yang telah disepakati. Jangan mengambil garapan yang lain dengan mengabaikan pekerjaan sendiri, kecuali yang sifatnya hanya membantu atau pekerjaan sendiri telah terselesaikan dengan sebaik-baiknya.

Banyak godaan yang menggiurkan sewaktu proses berjalan untuk mengambil peran orang lain atau mengerjakan pekerjaan unit lain. Hal itu bisa jadi karena beberapa hal, di antaranya adalah, bisa jadi karena melihat individu atau unit lain yang tidak maksimal, sementara dirinya menganggap hal itu sebagai pekerjaan mudah saja, sehingga mengundang rasa ‘geregetan’ dan kemudian turut campur tangan.

Sebaliknya, meski harus fokus pada pekerjaan masing-masing bukan berarti cuek dan tidak peduli sama sekali dengan pekerjaan sesama anggota tim. Berlomba-lomba dalam kebaikan atau berpacu dalam prestasi memang harus, tetapi tidak dengan membiarkan kesalahan orang lain. Kesalahan orang atau unit lain harus ditegur dan diingatkan agar tidak menambah pekerjaan di belakang hari yang akan menghambat seluruhnya.

Penting juga diperhatikan pihak mana saja yang dapat diajak berkoalisi, baik itu untuk jangka pendek, menengah ataupun jangka panjang. Tentunya yang diajak adalah mereka yang dapat memberikan manfaat langsung dalam mencapai sasaran.

Tidak kalah penting adalah menentukan sarana apa yang akan dipakai sebagai pendukung agar pekerjaan dapat lebih efektif dan efisien. Disesuaikan dengan tingkat kemampuan dari segi biaya, efektifitas, serta berbagai pertimbangan lain seperti kemampuan individu menggunakan sarana pendukung itu, yang tidak hanya asal modern dan paling canggih namun masih gaptek dalam pengoperasiannya. Dari itu tidak perlu gengsi menggunakan sarana atau alat lawas. Sedangkan jika alat atau sarana yang terbaru dan termodern bisa memberikan penyelesaian lebih cepat, efisien dan murah, maka terlebih dahulu harus ada training untuk menggunakannya sampai pada tingkat mahir, sehingga tidak justru menghambat kinerja.

Menjaga Ritme dan Memelihara Kesinambungan

Ritme atau irama kerja perlu terus dijaga agar tetap terpelihara, meskipun berdinamisasi, akan tetapi tetap pada koridornya. Hal ini sebenarnya sama saja dengan kegiatan evaluasi. Ada evaluasi yang dilakukan selama proses berjalan, evaluasi untuk tiap waktu tertentu (periodik) dan evaluasi setelah semua pekerjaan terlselesaikan.

Evaluasi selama proses berjalan berfungsi agar kerja-kerja yang dilakukan tidak keluar dari garis yang telah ditentukan di awal, sehingga tetap fokus dan makin mendekatkan pada keberhasilan. Untuk menghindarkan yang sebaliknya yang tidak makin mendekatkan pada tujuan yang diinginkan, atau malah menjauhkannya.

Evaluasi periodik gunanya untuk menilai pekerjaan pada tiap tahap dan waktunya, sehingga diketahui sejauh mana efektifitas fase-fase kerja yang telah diprogramkan. Dengan begitu, sebelum melangkah lebih jauh lagi sudah diketahui apa saja kekurangan yang perlu ditambal, serta kelebihan mana yang perlu terus ditekankan agar pekerjaan lebih cepat selesai dan dengan hasil memuaskan.

Sementara evaluasi finish bertujuan agar mengetahui efektivitas, kekurangan dan kelebihan dari keseluruhan proses yang telah dijalani. Evaluasi harus menyimpulkan garis besar dan hasilnya dapat dijadikan sebagai alat ukur untuk kerja-kerja yang akan datang, sehingga berbagai kesalahan sekecil apapun dapat dihindarkan, sedangkan hal-hal yang positif terus dikembangkan dan menjadi strategi atau taktik yang dapat digunakan dalam kerja-kerja di masa mendatang.

Fathurrahman