Suatu hari Kennedy menghadap Tuhan dan memohon, ”Tuhan, berapa lama lagikah baru rakyatku berbahagia?”. ”Lima puluh tahun lagi,” kata Tuhan. Kennedy menangis dan berlalu. De Gaulle menghadap Tuhan dan memohon, ”Tuhan, berapa lama lagikah rakyatku berbahagia?”. ”Seratus tahun lagi”, jawab Tuhan. De Gaulle menangis dan berlalu. Krushcev menghadap Tuhan dan memohon, ”Tuhan, berapa lama lagikah baru rakyatku berbahagia?” ”Tuhan menangis dan berlalu”.

Petikan humor,  Mati Ketawa Cara Rusia ini, membuat penulis tersentak, awalnya terkikih-kikih tapi lama kelamaan berubah jadi geram dan timbul bayangan suram. Membayangkan negeri ini yang gagal jadi Komunis gaya Rusia, dan juga tak sukses-sukses jadi Kapitalis ala Amerika. Kalaupun ditambahkan, Pak SBY menghadap Tuhan dan bertanya, ”Tuhan berapa lama lagikah baru rakyatku berbahagia?”, ”Tuhan tertawa, dan  terbahak-bahak”.

Bagaimana tidak terbahak-bahak..!, Amerika saja digambarkan sebegitu menyedihkannya, terlebih Indonesia yang dirilis majalah foreign Policy 2011, menempati peringkat ke-64 dari 170 negara hampir gagal, dan mendekati garis ‘warning’ dengan sedikit lagi, kalau-kalau krisis menghampiri. Dan menambah lagi kebingungan masyarakat terutama penulis, kok Pak SBY ’menang’ sebagai World Statesmen Award dari Appeal of Conscience Foundation. Rasa-rasanya dua hal diatas bertolak belakang.

Ki Hadjar Dewantara pernah menulis pada Koran De Express pada 13 juni 1913: ”Als Ik Eens Nederlander Was!” yang dengan pedas menyorot rencana pesta 100 tahun kemerdekaan Belanda dari Perancis di Hindia Belanda (sekarang indonesia).  Ki Hadjar Dewantara mengingatkan bahwa ada suatu kebenaran yang disentil sedemikian rupa dalam suatu acara, yang seakan-akan, apabila kita ikut akan menjadi bagian dari masyarakat Hindia Belanda (yang merdeka) yang berbakti kepada sang Ratu Belanda.

Agaknya hal itu juga yang kita rasakan sekarang-sekarang ini, seakan-akan negara kita telah mencapai kemajuan yang pesat dengan ukuran ‘piala-piala’ yang diraih Presiden SBY sebagai representasi rezim, sebutlah penghargaannya; UNEP, ILO, World Movement For Democracy, US-ASEAN Business Council, dan WWF/WRI/TNC. Konsekuensinya rakyat semestinya berbangga diri sebagai warga negara, walaupun sekalian di sekitar kita menghadapi;  harga bahan pokok melonjak, lalu lintas macet, rumah-rumah kumuh, pengangguran, kemiskinan,  anak jalanan, kriminal, banjir, korupsi, penggelapan, mafia pajak, mafia hukum, dan konflik sosial.

Ketawa ala Politikus?

Dua orang politikus berbincang tentang tanda apa yang mereka inginkan untuk dipasang di kubur saat  masing-masing mati kelak. Kata si Fulan, ia ingin kuburnya ditaburi biji-biji emas, pertanda kegemaranya mengoleksi emas dan menandakan kekayaanya. Dimintanya agar sang teman mau melakukan hal itu, kalau si Fulan mati lebih dulu. Jawab temannya, “Aku bersedia, tetapi kau tidak keberatan, bukan kalau emasnya kudepositokan dahulu?”.

Untuk masyarakat yang melek politik, joke di atas bukan sekedar guyon semata. Sebab sudah di pelupuk mata kita perilaku populis seperti ini, seringkali para politikus mendepositokan uang dengan angka-angka fantastis saat pemilu demi suatu ’kursi’. Celakanya kita seakan rela bahkan mewajarkan, kalau dengan kursinya dia bakal kembali modal bahkan lebih. Tidak hanya itu depot-mendepositokan emas (uang dan kekuasaan) bertambah parah karena sudah sangat terasa pada politik dinasti, yang telah bertebar mencengkeram daerah-daerah di Indonesia.

Dari data Kementerian Dalam Negeri telah mengidentifikasi setidak-tidaknya ada 57 kepala daerah yang membangun dinasti politik (2013). Apatah lagi dari 57 Kepala Daerah yang mencalonkan para anggota keluarga yang bertalian darah, hanya 17 di antaranya kalah di arena pilkada. Selebihnya, mereka jadi pemenang mengganti kekuasaan familinya. Data tersebut jangan-jangan akan menjadi lubang ke dua kita, yang sebenarnya  ’kapok’ merasakan dinasti politik pada masa orde baru yang disinyalir sarang utama korupsi, kolusi, dan nepotisme.

Konklusi dari semuanya, berjubel kabar tak menggembirakan yang kita hadapi terus-menerus tiap harinya dan hasilnya semakin menghimpit dada kita, selain mengencangkan ikat pinggang. Apalagi pemilu 2014 mendatang tidak menunjukkan tanda-tanda positif, seperti harapan kita yang tinggi, selain saling adu kekuatan. Mungkin hanya dengan humor kita dapat mengobati kepahitan dan kesengsaraan hidup. Mungkin juga lewat humor kita bisa bersabar menunggu atas kenyataan ideal yang belum tercapai, sembari kita memupuk semangat hidup sebagai suatu bangsa, melupakan sejenak masalah bangsa yang bertumpuk-tumpuk, agar tak jatuh pada pemimisme mutlak dan membesarkan jiwa ke-Indonesiaan kita, seperti pada kutipan Gus Dur berikut;

Seorang sopir pada tahun enam puluhan membawa seorang turis Amerika berkeliling Jakarta. Di depan Toserba Sarinah, sang turis bertanya, berapa lama diperlukan waktu untuk mendirikan bangunan itu. Sopir itu menjawab empat tahun. Sang turis menyatakan hal itu terlalu lama dan memakan waktu, karena di Amerika Serikat hanya dua tahun. Sesampai di jalan lingkar di depan Hotel Indonesia, turis itu menanyakan berapa lama waktu mendirikan hotel tersebut. Sopir itu memendekkan waktunya dan menjawab dua tahun. Sang turis menyatakan di Amerika hanya diperlukan setahun. Ketika sampai di dekat stadion Senayan, turis itu menyatakan hal yang sama. Sopir taksi itu menjawab, tanpa memperlihatkan rasa bersalah sedikitpun, ”Entahlah, Tuan, kemarin stadion itu belum ada di sini!”.

Thakwir
Ketua Umum HMI MPO Cabang Makassar