pengambilan blsm (net)

HMINEWS.Com – Kekhawatiran banyak pihak bahwa Presiden SBY akan memanfaatkan pemberian Bantuan Langsung Sementara Masyarakat (BLSM) untuk pencitraan diri dan kelompoknya (Partai Demokrat) terbukti. Kini Presiden SBY tanpa malu-malu dalam iklan layanan masyarakat di televisi mengklaim BLSM sebagai prestasi dirinya.

Dalam iklan tersebut, Presiden SBY terang-terangan menyebut “…Program  pro rakyat yang saya jalankan hampiir 9 tahun ini tujuannya adalah untuk mengurangi kemiskinan..” Kata ‘saya’ tersebut mengesankan bahwa Pak Presiden tidak menghargai kerja kolektif bangsa Indonesia, baik itu yang ada dalam pemerintahan, kabinet, legislatif dan pihak-pihak lain yang sebenarnya tidak setuju dengan kebijakan SBY tapi akhirnya mau-tak mau harus setuju karena telah menjadi persetujuan bersama.

Sikap legowo pihak-pihak lain untuk menerima keputusan pemerintah (Presiden SBY) tersebut, sayangnya, dipahami SBY sebagai kemenangan pribadi dan golonganya sekaligus sebagai kekalahan bagi kelompok lain.

Sangatlah tidak etis dan tidak menunjukkan sifat sebagai negarawan, seorang kepala negara memanfaatkan BLSM sebagai pencitraan politik untuk menghadapi pemilu 2014. Bila SBY mau membuat iklan pencitraan, seyogianya bermain secara fair dan tidak bertindak menyalahi etika sebagaimana dimuat dalam iklan tersebut, apalagi terbukti program BLSM di berbagai daerah ternyata bermasalah, diselewengkan, dan bahkan memecah-belah masyarakat. Tetapi apa mau dikata, justru Presiden sendiri yang terdepan menyelewengkannya.

Maka, sebaiknya Presiden SBY menghentikan iklan tersebut dan mengganti kontennya agar tidak melukai hati masyarakat.