Ponpes Pecinan (ANTARA Foto)

Kepada kolega yang Cina – Cina mainland, Cina Singapore, Malaysia, Cina Vietnam, Cina South Africa, Cina Jepang- yang mereka heran mengapa orang Cina Indonesia tidak berbicara Cina. Saya tidak tahu sebaiknya menjawab apa, tetapi;

Di Martapura saya mendengar orang Tionghoa berbicara dalam bahasa Komering, satu dari 14 bahasa yang digunakan suku-suku di Sumatera Selatan.

Di Makasar, mereka berbahasa bugis atau di Sumatera Barat dengan bahasa Minang.

Di Dusseldor, pada sekelompok ABG mahasiswa undergraduate yang orang tuanya cukup kaya mengirim mereka sekolah tanpa beasiswa, anak-anak Tionghoa ini berbicara dalam langgam Betawi.

Di pinggir danau Laman, kota Jenewa Swiss yang indah, pada satu keluarga Cina yang tengah mengambil foto pre-wedding, saya mendengar mereka berbicara dengan jawa Pekalongan.

Di dalam lift hotel Ramandha, kota Shanghai tiga pasangan paruh usia, yang awalnya saya kira orang dari Beijing, mereka tertawa-tawa dan berguyon dalam logat Jawa Timuran.

Dan kemarin, di Mustafa Center, satu keluarga tionghoa; berdebat dalam bahasa Sunda Kuningan, apakahkah belanjaan oleh-oleh mereka tidak terlalu berat, yang membuat saya senyum-senyum dan kangen bojo yang orang Sunda.

Saya tidak tahu mau menjawab apa pada kolega dari Cina, tetapi saya katakan bahwa tanah-air Indonesia is a magic land. Tanah pusaka, yang punya kekuatan melebur budaya-budaya menjadi satu bangsa. Saya katakan bahwa pernikahan beda suku adalah biasa, dan pergaulan hidup serta bahasa sudah terjadi perubahan dalam ratusan abad lampau.

Tiba-tiba saya menjadi bangga menjadi anak Indonesia.

Andi Hakim
Alumni HMI ITB