Jum’at, 28 Juni 2013 perjalanan silaturrahmi dimulai. Pekanbaru Tanah Bertuah tempat benih eksistensi tertanam menjadi titik awal bagi kami melakukan ‘ritual intelektual,’ melewati ribuan kilo meter jarak, mengiringi irama waktu yang terus melaju dan menembus batas tradisi kehidupan. Semuanya mengkristal dalam kebulatan tekad dan lurusnya niat membangun diri dalam karya demi kehidupan mendatang. Kota bogor tujuan kami.

29 Juni Pukul 02.oo dini hari kami memijakkan kaki di bumi yang memiliki curah hujan sangat tinggi dan terkenal dengan pariwisata puncak. Suatu negeri yang dalam sejarah terbukti pernah menjadi daerah pusat Kerajaan Sunda yaitu Kerajaan Pajajaran pada tahun 1482 M di bawah pemerintahan raja Prabu Siliwangi. Setelah menempuh perjalanan lebih kurang 8 jam dengan pesawat dan dilanjut menggunakan bus, tepatnya pukul 4.30 dini hari kami pun sampai di lokasi acara helatan akbar dan silaturahmi aktivis-aktivis Himpunan Mahasiswa Islam (HMI-MPO) untuk melangsungkan Kongres ke-29. Kongres HMI ke-29 adalah agenda akbar yang menjadi tujuan kader HMI se-Indonesia.

Agenda ini tidak menjadi tujuan utama kami, pasca struktur kepenguruasan di HMI Cabang Pekanbaru, karena kami tidak lagi memiliki legitimasi untuk mengikuti serangkaian kegiatan yang terlaksana, hanya sekedar mengiringi dan mengawal adik-adik pengurus yang masih aktif dan memiliki hak penuh untuk berperan dalam kegiatan tersebut. Tapi ada nilai tradisi intelektual-lah yang kemudian memotivasi kami untuk turut serta hadir, inilah yang kami sebut sebagai kultur ke-HMI-an, kultur yang banyak menanamkan nilai-nilai kebijaksanaan seiring dengan proses penempaan kualitas diri yang didapatkan selama ber-HMI. Selain itu adanya semangat kekeluargaan yang juga megharuskan kami untuk saling bersilaturrahmi, bertukar wacana kearifan lokal satu dan yang lainnya, mendiskusikan tentang tema keorganisasian dalam kiprahnya membangun bangsa dari masa ke masa.

Menyaksikan serangkaian dinamika yang berkembang dalam forum Kongres ke-29 kali ini, memberikan kesan tersendiri bagi kami. Kesan adanya kekhawatiran akan eksistensinya dalam fase dinamika kebangsaan untuk konteks kekinian, dimana gejolak politik, hukum, ekonomi dan budaya pasca reformasi ini tentunya tidaklah sama ketika HMI pernah membangun kekuatan kultur dan gerakan perubahannya melawan rezim Orde Baru. Semuanya sangat berbeda jelas dimana hari ini HMI belum menemukan eksistensi karyanya yang benar-benar menjadi sentral organisasi perubahan bagi rakyat Indonesia.

Pasca Reformasi 98, HMI belum mengambil peran penting dalam kiprahnya sebagai organisasi perubahan, sekalipun HMI pernah berperan sabagi sentral perlawanan menggulingkan rezim Orde Baru, tidak pula menjadikan organisasi ini mampu memanfaatkan kemenangan perjuangan tersebut untuk turut pula mengiringi perubahan bangsa ini menjadi lebih baik, semuanya menjadi terpolarisasi seketika perubahan bangsa ini menjadi sangat terbuka dan demokratis. HMI belum sungguh-sungguh mampu berevolusi secara baik dalam keterbukaan ruang demokratisasi republik ini. Kegagalan berevolusi dalam iklim demokratisasi hari ini juga berimplikasi pada terjadinya krisis SDM HMI yang tangguh dan cerdas, hingga arah perjuangan organisasi ini menjadi membias, miskin wacana dan gagasan.

Maka, perlulah kiranya ada upaya rekonsiliasi internal HMI baik secera kelembagaan maupun secara kekulturan, dua poin ini menjadi penting mengingat HMI pernah menjadi organisasi yang hebat ketika kultur intelektualisme dengan nilai-nilai keislaman yang diterapkan dalam sistem perkaderan, menjadikan organisasi ini banyak pula melahirkan tokoh-tokoh hebat yang sangat berperan bagi pembangunan bangsa ini. Kultur HMI yang dimaksud adalah upaya menghidupkan kembali gerakan intelektual dengan adanya wadah-wadah kajian disiplin keilmuan, tradisi-tradisi keislaman yang istiqamah, dan terlaksananya secara sistematis dan kontinyu.

Kelembagaan yang dimaksud juga adalah upaya bagaimana gerakan rekonsiliasi penguatan kultur perkaderan agar terkawal dan terlaksana secara sistematis, mengingat beberapa periode yang lalu kepemimpinan lembaga ini tidak mampu membawa organisasi ini bangkit dari keterpurukannya, maka perlu ada kesadaran kita bersama untuk membenahi organisasi ini secara objektif dengan semangat independensi, idealis dan tidak menggiring ke arah kepentingan politik praktis. Hingga harapan lembaga ini kembali berperan dengan kiprah karyanya untuk perubahan-perubahan bangsa ini menjadi lebih baik dapat terwujud.

Pembenahan keorganisasian baik secara struktur maupun secara kultur menjadi agenda utama hendaknya pada periode kepengurusan yang baru terpilih ini, sangat mendesak mengingat beberapa insiden dan peristiwa yang berkembang dalam dinamika kongres ini menunjukan bahwa HMI dengan kultur keislamanya, semangat kekeluargaan dan kebersamaannya semakin luntur. Kader HMI semakin tidak memiliki semangat intelektulitas yang seharusnya mempu menjadikannya rendah hati, bukan malah tersulut oleh propaganda sempit yang lantas kemudian terlibat pada benturan fisik.

Dinamika ini tentu dapat dimakluami secara logis, sekiranya insiden yang terjadi adalah bagian dari mempertahankan nilai-nilai yang diyakini ketika dilecehkan. Tidak logis jika pristiwanya hanya karena alasan rasa benci dan dendam antar individu kader HMI. Inilah yang kami maksud agar lahirnya kesadaran kita bersama untuk kemudian memahami kembali nilai-nilai yang diajarkan selama berpuluh-puluh tahun oleh organisasi yang kita cintai ini.

Selain tugas-tugas pembenahan keorganisasian yang harus dilakukan, tentu yang paling terpenting adanya peran HMI terhadap kiprahnya membangun bangsa, mengingat bangsa ini sedang menuju kemajuan dan keterbukaan persaingan di kancah dunia internasional. HMI tentunya tidak ingin ketinggalan mengambil peran penting dari momentum ini, setidaknya ada upaya pengawalan dangan turut menggiring kemajuan bangsa ini untuk kebaikan bagi rakyat Indonesia di seluruh tanah air, tidak kemudian membiarkan kekuatan asing kembali menggerogoti dan mengekploitasi kekayaan yang ada, menyaksikan hegemoni penjajahan gaya baru yang dilancarkan oleh kaum-kaum capital dari luar sana.

Cukuplah bagi kita bernostalgia dengan keemasan masa lalu yang pernah terjadi, hari ini kita harus bangun dan mengawal perubahannya agar tidak menyimpang dari tradisi dan nilai-nilai kemanusiaan yang kita yakini selama ini, yaitu cita-cita untuk mensejahterakan rakyat Indonesia secara keseluruhan. Melahirkan kesadaran dengan melakukan kembali upaya ijtihad kelembagaan sebagai barisan jama’ah kaum intelektual yang harus segera bertindak meluruskan segala penyimpangan yang terjadi, mewujudkan negeri ini mejadi negeri yang baldatun thayyibatun warrabun ghafur.

Akhirnya kami mengucapkan selamat atas terpilihnya ‘imam’ baru PB HMI saudara Puji Hartoyo, semoga dapat melakukan rekonsiliasi di internal HMI guna membenahi dan mensolidkan barisan jamaah HMI se-Indonesia dan dapat melahirkan gagasan-gasan cemerlang bagi peran dan eksistensi lembaga HMI ini dalam kiprahnya membangun tanah air. Inilah sekilas yang bisa kami tuangkan selama perjalanan yang penuh kesan ini, semoga kita bisa berevaluasi secara terus menerus, guna memberikan pengabdian bagi kebaikan bagi diri sendiri, keluarga, masyarakat, agama dan bangsa.

Wassalam

Tata Maulana
Kader HMI Pekanbaru