HMINEWS.Com –  Harapan pengungsi warga Syiah Sampang untuk kembali ke rumah masing-masing kandas. Kelompok warga mayoritas tidak mau menerima mereka dan pemerintah tidak bisa memberikan perlindungan menjamin keamanan maupun mendamaikan dua kelompok yang bertikai tersebut. Pengungsi akhirnya dipindahkan ke rumah susun di Sidoarjo, Jawa Timur.

Pemindahan tersebut, menurut Wakil Bupati Sampang, setelah melihat kondisi GOR Sampang sebagai tempat pengungsian sejak sembilan bulan lalu tidak manusiawi. Warga kemudian dipindahkan secara paksa oleh Satpol PP, diangkut dengan bus-bus ke lokasi baru yang dituju.

Menurut wartawan RRI di Sampang, Purnama Iswantoro, pemindahan para pengungsi Syiah ini didahului perundingan yang melibatkan Wakil Bupati Sampang, aparat kepolisian, perwakilan MUI dan NU Sampang, serta kelompok Syiah dan wakil pengunjukrasa. Perundingan diadakan setelah ribuan massa yang mengatasnamakan santri dan ulama anti Syiah berunjukrasa di depan GOR menyerukan pengusiran warga Syiah ke luar dari Sampang.

Menteri Dalam Negeri, Gamawan Fauzi setuju dengan relokasi tersebut, yang dinilainya lebih memberikan jaminan keamanan terhadap warga.

“Kemarin Dirjen Kesbangpol sudah ke situ. Kita minta ini diselesaikan di daerah. Tapi persoalannya siapa yang menjamin keamanan di situ. Tiap hari 24 jam kalau ditarik ke situ. Pemda Jawa Timur menyediakan lokasi. Ada 70 rumah yang disediakan. Kalau masyarakat setuju relokasi, kita taruh di perumahan itu. Gubernur Jawa Timur sudah siapkan,” kata Gamawan di Kantor Presiden Jakarta, Kamis (20/6).

Gamawan mengatakan polisi tidak bisa menjamin keamanan warga Syiah jika berusaha kembali ke rumah mereka di Dusun Nangkernang, Desa Karang Gayam- Kecamatan Omben, dan di Desa Blu’uran, Kecamatan Karang Penang.