Berita yang beredar akhir-akhir ini adalah HMI hendak menyelenggarakan kongres. Awalnya sayup-sayup kudengar tapi dari hari ke hari makin terdengar jelas derap langkahnya. Kata para senior, forum tertinggi di organisasi mahasiswa tertua di Indonesia ini tentu bukan ajang main-main. Seluruh utusan datang dari seluruh penjuru negeri. Cabang dari Ujung Sumatera sampai ujung Papua.

Dalam setiap momen seperti ini pasti ada bermuara aneka rasa, baik rasa kecewa yang kadang memuncak dan menggelegak. Karena dalam perjalanan pasti ditemui sejumlah kekurangan, masalah-masalah yang melingkupi organisasi ini. Baik itu masalah struktur maupun di luar struktur. Perihal wacana, gerakan, keputusan-keputusan kontroversial dan lain sebagainya. Mugkin juga ada macam-macam kebanggaan atas prestasi yang didapat, kalau ada. Tapi yang pasti ide-ide baru akan muncul. Ada harapan-harapan baru yang tumbuh dari benak yang terdalam masing-masing cabang. Harapan baru itu pasti akan sangat melegakan jika menjadi kenyataan, dan itu diawali dari forum kongres ini.

Dan seandainya saya menjadi peserta kongres, saya akan berusaha memuluskan tujuan dan harapan-harapan mulia itu. Saya akan mempersiapkan dengan matang baik fisik, mental, maupun spiritual. Ya, spiritual itu penting. Spiritual bukan dalam arti yang klenik tapi spiritual dalam hati yang bening, tenang, dan terkoneksi dengan yang maha gaib. Semoga saya dan semuanya mendapat petunjuk. Semoga organisasi yang saya cintai menjadi lebih baik dan bermanfaat bagi ummat.

Fisik, saya tentu harus jaga kesehatan, makan makanan yang bergizi. Cukup istirahat. Mental saya harus siapkan sebaik mungkin. Mental ini adalah mental yang baik. Mental yang baik itu mental yang high, bukan yang low. Mental yang tinggi bukan rendahan. Mental yang tinggi itu adil, ksatria, dan sabar. Adil dalam menyampaikan pendapat, maupun dalam melakukan penilaian. Serta kstaria ketika melakukan kesalahan, meminta maaf dan sabar dalam menerima kritikan. Jangan jadi manusia rendahan dengan mengumbar emosi. Jangan jadi manusia yang bersumbu pendek yang gampang meledak. Itu wejangan para pengader lho!

Forum setingkat kongres memang membutuhkan kekuatan mental yang cukup kalau tidak ingin keok. Tapi mental ini harus dibalut dengan spiritual yang baik, hati yang lembut, pikiran yang jernih. Dengan begitu tidak ada cerita kongres gontok-gontokan, adu tinju, baku lempar kursi, saling menyakiti. Tidak! Sama sekali tidak seperti itu. Beda pendapat itu biasa, debat juga tidak masalah tapi harus tahu adat. Berdebatlah dengan adat seorang ulul albab! Cerdas dan beradab. Kalau yang ini pesan Pak Ustaz, tapi pengader juga.

Sepanjang pengetahuan saya, organisasi ini adalah himpunan manusia-manusia cerdas. Yang seperti kata konstitusi, turut memikul tanggung jawab bagi “….terwujudnya tatanan masyarakat yang diridhoi Alloh”. Saya kira tidak sepantasnya berbuat bodoh. Menurut saya rumusnya sederhana, jika kader sehat-sehat, organisasi sehat, dengan begitu harapannya Alloh menghadiahi jama’ah ini pemimpin yang sehat dan kuat. Tapi jika kader sakit, organisasi sakit bisa-bisa Alloh ‘menghukum’ kita dengan memberi pemimpin yang sakit. Nauzubillah min dzalik.

Salam.

Roni Hidayat
Koordinator Majlis Syuro PB HMI-MPO 2009-2011