Dedikasi semakna dengan pengabdian tulus. Seperti seorang guru yang mendedikasikan dirinya dengan segenap ilmu yang dimiliki untuk anak didiknya, mencerdaskan generasi muda yang bervisi agar mereka siap menghadapi masa depan. Banyak guru yang mendedikasikan diri seperti itu meski tak menerima imbalan atau gaji yang memadai.

Dedikasi juga artinya apabila karena pengabdiannya tersebut ia kemudian menerima keuntungan, baik yang disengaja atau tidak –seperti pepatah ‘menanam padi, rumput pun tumbuh’– hal itu tak mengubahnya menjadi ‘makhluk lain.’ Tak membelokkannya dari tujuan yang telah diniatkannya dari awal. Seorang sufi terkenal, Fudhail bin ‘Iyadh berkata: “Beramal karena manusia adalah syirik, meninggalkan amal karena manusia adalah riya’.

Bekerja dengan dedikasi, adalah bekerja sepenuh hati, tak setengah-setengah. Mrantasi, kata pepatah Jawa. Di posisi manapun akan berusaha memberikan yang maksimal, yang terbaik, the ultimate. Mempersembahkan hal terbaik hingga batas tertinggi kemampuan yang dimiliki. Banyak contoh pekerja keras yang berfikir tiap waktu untuk kemajuan perusahaan-organisasi. Sedari bangun tidur sudah langsung buka laptop mencicil pekerjaannya atau memantau perkembangan. Bahkan dalam perjalanan mereka ke kantor sambil berfikir keras untuk pekerjaan atau perusahaannya. Jam kerja orang-orang seperti itu tak terbatas oleh daftar kehadiran, sehingga mengisi kartu absen kadang hanya rutinitas yang kurang menarik. Bukan karena merasa terbebani, akan tetapi level orang seperti itu sudah pada tahap diabsen atau pun tidak, mereka tetap persembahkan yang terbaik. Bahkan sejak bangun tidur hingga tidur lagi.

Mereka yang memberikan penuh akan mendapatkan yang penuh pula. Mereka yang memberikan setengah-setengah, akan mendapatkan yang setengah pula. Itu adalah hukum alami yang tak dapat diubah. Sesuai kadar pengorbananmu, sebesar itulah yang bakal kau peroleh. Namun ada hukum ‘anomali’ yang bisa dipegang, yaitu balasan kadang bisa berlipat ganda, entah yang bisa diduga, ataupun bonus dari arah yang tak disangka-sangka.

Seorang penulis mesti setia dan harus tahan berlama-lama berkutat menuliskan ide dan selalu mengasah ketajaman tulisan, memperkaya wacana dengan membaca dan bertukar pikiran, untuk mendapatkan hal-hal baru agar tulisannya tak kering dan hambar. Yang sulit itu bukan memulai, akan tetapi mempertahankan konsistensi. Banyak orang yang punya ide cemerlang untuk ditulis, akan tetapi tak sedikit yang mampet di tengah jalan. Tak mampu bertahan karena alasan jenuh atau tak mampu mempertahankan ritme. Kehabisan tenaga karena ternyata tak semudah yang dibayangkan di awal. Atau mati gaya karena hambar dan tidak meng-upgrade kapasitas dirinya.

Pilihlah sikap seperti Khalid bin Walid yang ditempatkan sebagai apa pun dalam sebuah kesatuan, ia tetap tunjukkan yang terbaik. Meski di tengah berkecamuknya perang Umar bin Khathab menggeser posisinya, menggantikannya dengan Sa’ad bin Abi Waqqash, Khalid tak berubah semangat. Loyalitasnya adalah loyalitas untuk Islam, untuk kebenaran dan cita-cita bersama yang diusung, bukan pada sebagai apa dirinya diposisikan dalam kesatuan tersebut. Begitu pula dengan Sa’ad bin Abi Waqqash, siapa kira dirinya bisa memiliki kaliber tak jauh berbeda dengan Khalid ‘Si Pedang Allah.’ Ya, orang-orang baru tahu pada hari itu, sebab sebelumnya ia selalu merendah dan tak ingin muncul ke permukaan. Dan tepatlah Sa’ad dijuluki sebagai ‘Singa yang menyembunyikan kukunya.’

Tapi dalam kehidupan, banyak orang yang sok pamer, ingin segala sesuatu yang diperbuatnya dilihat orang lain agar terpandang. Banyak yang ingin menonjol dengan cara-cara tak terpuji, mengesampingkan kejujuran. Padahal, sesuai hukumnya, sebaik apa pun suatu keburukan dikemas, lambat laun pasti tersingkap. Begitu pula, sebaik apa pun promosi, publikasi dan upaya menonjolkan diri, orang pasti akan mengetahui seperti apa kualitas dirinya yang sesungguhnya dan kemudian memperlakukannya sebagaimana kualitas diri tersebut. Kearifan Jawa mengatakan, kebenaran itu tidak usah ditunjuk-tunjukkan, kesalahan tidak usah ditutup-tutupi, karena Becik ketitik, olo ketoro. Yang baik pasti akan tercirikan, yang buruk pasti akan kelihatan.

Orang yang mempunyai kapasitas, namun berdiam diri, menunggu, dan hanya mau berbuat jika diberi kesempatan menempati posisi puncak, sebenarnya malah membuang kesempatan. Disadari atau tidak, selain kehilangan kesempatan baik, sikap berdiam diri tersebut akan menyulitkannya di kemudian hari. Bagaimana jika takdir berkata, ia menempati posisi tersebut di kemudian hari, maka yang seharusnya ia dapat menyelesaikan pekerjaan besar, ia masih harus menyelesaikan pekerjaan yang dahulu ditunda-tundanya. Bisa jadi hal-hal yang sebenarnya kecil yang seharusnya dahulu bisa diselesaikan tersebut, karena dibiarkan tertunda, kemudian menjadi masalah besar dan sulit terselesaikan. Banyak kesempatan emas yang kemudian terlewatkan, tak dapat diraihnya disebabkan ia masih disibukkan hal-hal remeh.

Perilaku demikian banyak terlihat dominan dalam politik. Biasanya aktor-aktor politik yang mencalonkan diri selalu berkampanye ini-itu, dengan program muluk-muluk, ideal sekali. Namun jika mereka kalah bersaing dari lawan politiknya, mereka kemudian berdiam diri dan menjadi penonton. Bahkan tak jarang malah merecoki, jika pun kemudian bergabung, mereka bekerja setengah-setengah. Bahkan, orang-orang seperti itu selalu menunggu-nunggu kesalahan orang lain agar kemudian bisa menjerumuskannya. Jika dilihatnya orang-orang yang bekerja tersebut berbuat kesalahan kecil didiamkan saja hingga terakumulasi sampai tingkat yang parah, baru kemudian jika sudah fatal dijatuhkan. Ada juga yang selalu kritis terhadap kesalahan sekecil apa pun, namun bukan dengan semangat konstruktif, akan tetapi semangat permusuhan, iri dan dengki.

Tak mudah memang mengatur manusia, apalagi menyatukannya. Sebab tiap kepala mempunyai isi berbeda. Keinginan berbeda. Tak semua orang mampu mengesampingkan ego pribadi untuk kepentingan bersama yang lebih besar. Sebaliknya, kepentingan umat, kepentingan masyarakat atau rakyat dikorbankan untuk kepentingan pribadi atau kelompok. Banyak yang karena idenya tak dipakai, masukannya tak diterima, kerja jadi ogah-ogahan. Sikap setengah-setengah dalam kerja kelompok sangat merugikan. Menutup kesempatan bagi orang lain yang seharusnya mampu tampil dan mempersembahkan yang terbaik dengan pengabdian sepenuh hati dan hasil dari  tindakan yang selalu tuntas. Dampaknya  tentu saja akan menimpa komunitas, kelompok atau kesatuan tanpa kecuali.

“Dan di antara manusia ada yang menyembah Allah dengan berada di tepi; maka jika ia memperoleh kebajikan, tetaplah ia dalam keadaan itu, dan jika ia ditimpa oleh suatu bencana, berbaliklah ia ke belakang. Rugilah ia di dunia dan di akhirat. Yang demikian itu adalah kerugian yang nyata. (Al Hajj: 11)

Fathur