HMINEWS.Com – Di zaman ini institusi keluarga telah memasuki era pos-modern. Angka pernikahan menyusut, usia pernikahan makin lama dan tingkat perceraian makin tinggi. Hal itu tidak lepas dari pengaruh modernisme, paham kebebasan, individualisme, hedonisme, pandangan hidup sekuler, serta berbagai indikator lain.

Praktek yang terjadi di dunia muslim pun demikian, belum sepenuhnya sesuai dengan nilai-nilai Islam. Demikian rilis dari International Islamic Federation of Student Organisation (IIFSO), dimana HMI -MPO menjadi anggotanya, menyikapi Hari Keluarga Internasional, yang telah mengadakan pertemuan akhir Mei lalu.

“Kita menyadari bahwa mendesakkan perubahan dengan menekankan pada kearifan lokal berdasar adat -kebiasaan dan kecerdasan manusia sebagai bagian dari tradisi adalah pembangunan yang sebenarnya. Kita juga bisa membangun model yang dinamis berbasis keluarga dalam kerangka nilai kemanusiaan dan kebutuhan zaman. Dengan cara ini kita bisa menyelamatkan keluarga dari dampak negatif budaya modern, dengan menguatkan basis keluarga,” tulis Sekjen IFFSO, Ali Kurt.

Lembaga yang berkantor pusat di Turki tersebut juga mencontohkan, lingkaran intelektual di Turki menemui jalan buntu ketika mendiskusikan karakter keluarga yang religius dengan pendekatan yang materialistis dan positivis. “Memaksakan pemecahan model Barat terhadap masyarakat kita menyebabkan kebuntuan dan konflik, karena ketidakcocokan nilai-nilai barat terhadap masyarakat kita.”

Keluarga merupakan elemen paling mendasar dan penting dari hidup manusia sepanjang sejarah, yang di dalamnyalah kepribadian, kepercayaan, identitas dan karakter dasar dibangun. Pada saat yang sama, keluarga terus memainkan perannya ketika individu telah bersosialisasi dan bertransformasi menjadi bagian dari masyarakat. Hal ini akan berlangsung terus.

Tulis IIFSO, ketiadaan disiplin keluarga merupakan faktor yang paling berpengaruh terhadap perilaku negatif masyarakat pada umumnya. Padahal, keluarga dengan nilai-nilai yang ada di dalamnya merupakan bagian inti dari bangunan sebuah negara. Di Eropa, keluarga menghadapi krisis serius, karena industrialisasi secara bertahap telah merenggangkan ikatan tersebut, dan model keluarga Eropa dan Amerika itulah yang kini coba diperkenalkan kepada seluruh dunia.

Dunia muslim yang belakangan menerima industrialisasi juga mengalami pengaruh yang demikian, efek negatif globalisasi, penjajahan dunia muslim, konflik internal dan kemiskinan turut memperparah keadaan. Tugas semua muslimlah memperbaiki keadaan, mewujudkan kesejahteraan dan melindungi keluarga dari dampak buruk proses globalisasi.

Organisasi LSM Islam Sedunia (UNIW), dengan 225 anggota dari 53 negara terus mengkampanyekan penyelamatan keluarga, sejak Konferensi Keluarga Internasioal yang diadakan di Indonesia pada 2011 lalu. Terus mempromosikan saling berbagi pengalaman antar institusi yang berbeda.

“Kami berharap bahwa keaslian lingkungan keluarga yang asli sebagai lembaga paling penting yang juga telah diterima oleh budaya dan agama manapun, dapat dimengerti para pemerintah, NGO dan masyarakat pada umumnya mendukung kesatuan keluarga. Unutk mengenyahkan dampak negatif budaya modern, kami menyarankan penerapan kebijakan sosial yang berdasar Qur’an dan Sunnah, yang tidak memelencengkan semangat keberislaman,” demikian rilis yang diteruskan anggota Majlis Syuro IIFSO asal Indonesia, M Chozin yang juga mantan Ketua Umum PB HMI MPO tersebut.