HMINEWS.COM

 Breaking News

Pidato Ayatullah Ali Khamenei

May 02
14:01 2013

 

 

Pidato Pemimpin Tertinggi Iran pada Pembukaan Konferensi Ulama dan Kebangkitan Islam 

Dengan Nama Allah yang Maha Pengasih dan Maha Penyayang

 

Segala puji bagi Allah, Tuhan semesta alam, dan solawat serta salam kami sampaikan kepada junjungan kita, Nabi Besar Muhammad al-Mustafa [SAW], dan kepada  keluarga beliau yang suci, sahabat-sahabat pilihan dan orang-orang yang mengikuti jejak mereka dengan baik, sampai Hari Akhir nanti.

 

Dengan senang hati saya menyambut  Anda sekalian, para tamu yang terhormat dan saya memohon kepada Tuhan yang Maha Kuasa dan Maha Penyayang agar memberkati upaya kolektif ini dan agar menjadikannya sebuah langkah efektif menuju kebahagiaan umat Islam. “Sesungguhnya Dia Maha Mendengar dan semoga Mengabulkannya.”

 

Hari ini popok bahasan tentang Kebangkitan Islam, yang akan Anda sekalian bahas di dalam konferensi ini, merupakan daftar terpenting isu-isu dunia Islam dan umat Islam. Ini merupakan sebuah fenomena luar biasa yang akan mengakibatkan munculnya kembali peradaban Islam –untuk umat Islam dan kemudian untuk seluruh dunia– dalam waktu yang tidak terlalu lama lagi untuk merealisasikannya, dengan izin Allah, hal itu tetap dalam kondisi baik dan berkelanjutan.

 

Hari ini apa yang ada di depan mata kita dan tidak bisa dipungkiri oleh setiap individu yang cerdas dan tercerahkan adalah bahwa dunia Islam kini telah muncul dari sela-sela persamaan sosial dan politik dunia, telah menemukan posisi yang unggul dan terkemuka di tengah peristiwa global yang menentukan, dan menawarkan pandangan yang segar bagi perkembangan kehidupan, politik, pemerintahan dan sosial.

 

Hal ini dianggap sebagai fenomena yang penting dan signifikan di dunia saat ini, yang sedang mengalami penderitaan karena kekosongan intelektual dan teori yang mendalam setelah kegagalan komunisme dan liberalisme. Hal ini merupakan  sinyal pertama dari peristiwa-peristiwa politik dan revolusioner di Afrika Utara dan dunia Arab pada skala global, yang sinyal itu sendiri merupakan pertanda kebenaran yang lebih besar yang akan terjadi di masa yang akan datang.

 

Kebangkitan Islam, yang para pembicaranya berada di kubu kesombongan dan reaksioner tidak berani menyebutkan bahkan hanya kata-kata itu sekalipun, adalah kebenaran yang tanda-tandanya bisa disaksikan di hampir seantero dunia Islam. Tanda yang paling jelas dari hal tersebut adalah antusiasme opini publik, terutama di kalangan kaum muda, untuk menghidupkan kembali kemuliaan dan keagungan Islam, untuk menyadari sifat dominasi tatanan internasional dan membuka kedok wajah pemerintahan-pemerintahan yang tak tahu malu, menindas dan arogan; serta pusat-pusat yang telah menekan masyarakat Islam di Timur dan juga masyarakat non-Islam dalam cengkeraman mereka selama lebih dari dua ratus tahun dan selama ini mereka telah mengekspos bangsa-bangsa dengan cara brutal dan agresif, haus kekuasaan dengan menyamar berkedok peradaban dan kebudayaan.

 

Dimensi kebangkitan yang menguntungkan ini tersebar luas dan misterius, tapi apa yang bisa disaksikan dari hasil langsung di beberapa negara Afrika Utara bisa membuat hati menjadi yakin tentang hasil yang besar dan menakjubkan yang akan dicapai di masa depan. Pemenuhan yang ajaib dari janji ilahi selalu merupakan pertanda harapan yg memberikan inspirasi yang menjanjikan akan pemenuhan janji-janji yang lebih besar.

 

Al-Quran menjelaskan tentang dua janji yang Allah Ta’ala berikan kepada ibu Nabi Musa dalam sebuah contoh dari rencana ilahi. Pada saat yang sulit, ketika beliau diperintahkan untuk melarungkan bayinya di sungai di dalam keranjang,  Allah Ta’ala berfirman, “Sesungguhnya Kami akan mengembalikannya kepadamu dan menjadikannya salah seorang rasul.” [Al-Quran, Al-Qashas 28: 7]

 

 

Pemenuhan janji pertama, yang merupakan janji yang lebih kecil dan penyebab kebahagiaan bagi sang ibu, menjadi tanda bagi pemenuhan janji akan misi kenabian selanjutnya, yang jauh lebih besar dan tentu saja, hal ini memerlukan penderitaan jangka panjang, perjuangan dan kesabaran:

“Maka Kami kembalikan dia [Musa] kepada ibunya, agar senang hatinya dan tidak bersedih hati, dan tahu bahwa janji Allah adalah benar … “ [Al-Quran, Al-Qashas 28: 13]Janji yang benar ini merupakan misi yang besar yang dipenuhi setelah bertahun-tahun dan mengubah jalannya sejarah.

 

Contoh lain adalah pengingat tentang kekuatan yang dahsyat dari Allah untuk menggagalkan para penyerang Bait-Allah untuk mendorong orang-orang yang menyaksikannya melalui Nabi Muhammad saw untuk tunduk pada perintah-Nya, dimana Allah Ta’ala menggunakan contoh berikut ini: “Maka hendaklah mereka menyembah Tuhan [pemilik] Rumah ini” [Al-Quran, Quraisy 106: 3] dan Dia berfirman,” Bukankah Dia telah menjadikan tipu daya mereka itu sia-sia? “[Al-Quran, Al-Fil 105: 2]

 

Demikian pula, untuk membangkitkan semangat Nabi kekasih-Nya dan meyakinkan beliau tentang kebenaran janji Allah, Dia berfirman:  “Tuhanmu tidak meninggalkan engkau [Muhammad dan tidak [pula] membencimu” [Al-Quran, ad-Duha 93: 3] Allah Ta’ala memberikan pengingat tentang berkat yang ajaib: “Bukankah Dia mendapatimu sebagai seorang yatim, lalu Diamelindungi[mu]. Dan Dia mendapatimu sebagai seorang yang lalu dia memberikan petunjuk.” [Al-Quran, ad-Duha 93:6-7] Dan masih banyak contoh semacam itu di ayat-ayat lainnya di dalam Al-Quran.

 

Di saat Islam mencapai kemenangan di Iran dan berhasil menaklukkan benteng Amerika dan Zionisme di salah satu negara yang paling penting di wilayah yang sangat sensitif, orang-orang yang bijak dan cerdas menyadari bahwa jika mereka memiliki kesabaran dan wawasan, kemenangan semacam itu akan datang susul-menyusul.

 

Kebenaran gemilang di Republik Islam ini, yang juga diakui oleh musuh-musuh kami, semuanya telah dicapai di bawah naungan keyakinan akan janji ilahi, kesabaran, ketabahan dan selalu memohon bantuan kepada Allah. Dalam menghadapi musibah, orang-orang yang lemah yang pada saat genting mereka berteriak “kita benar-benar akan tersusul,” [Al-Quran, Asy-Syu’ara 26: 61], namun bangsa kami selalu berteriak “Sekali-kali tidak akan [ tersusul]; sesunggguhnya Tuhanku bersamaku. Dia akan memberi memberi petunjuk kepadaku ” [Al-Quran, Asy-Syu’ara 26:62]

 

Hari ini adalah pengalaman berharga yang tersedia untuk  orang-orang yang telah berdiri tegak melawan arogansi dan tirani dan telah berhasil mengguncang dan menggulingkan pemerintahan yang korup yang tunduk dan bergantung pada Amerika. Perlawanan, kesabaran, wawasan dan yakin akan janji ilahi “sesungguhnya Allah akan membantu dia yang membantu rencana-Nya” akan membuka jalan kemuliaan bagi ummat Islam hingga mencapai puncak peradaban Islam.

 

Pada pertemuan penting ini, yang dihadiri oleh para ulama dari ummat Islam dari berbagai negara dan mazhab Islam, saya yakin saat ini adalah tepat untuk membahas beberapa pokok pembahasan penting tentang masalah Kebangkitan Islam.

 

Pokok Pembahasan Pertama adalah bahwa gelombang awal kebangkitan di negara-negara di kawasan ini, yang dimulai bersamaan dengan masuknya pelopor kolonialisme, terutama disebabkan oleh agama dan reformis keagamaan. Nama-nama pemimpin dan pribadi yang termasyhur – seperti Sayyid Jamal ad-Din, Muhammad Abduh, Mirza-e Shirazi, Akhund-e Khorasani, Mahmoud al-Hassan, Muhammad Ali, Sheikh Fazlollah, Haji Agha Noorullah, Abul A’la Maududi dan puluhan mujahid serta ulama terkenal nan agung  dan berpengaruh dari Iran, Mesir, India dan Irak – telah dicatat dalam catatan abadi sejarah. Demikian pula, di era kontemporer, nama masyhur nana gung Imam Khomeini bersinar seperti bintang yang terang di garis depan Revolusi Islam. Sementara itu, hari ini dan di masa lalu, ratusan ulama termasyhur dan juga ribuan ulama yang mungkin kurang dikenal telah memainkan peran besar maupun kecil dalam gerakan reformasi di berbagai negara. Daftar reformis leligius dari kalangan intelektual, seperti Hassan al-Banna dan Iqbal Lahori, juga demikian panjang dan menakjubkan.

 

 

Hampir di mana-mana, ulama dan teolog telah menjadi otoritas intelektual dan pendukung spiritual bagi masyarakat dan dimanapun mereka tampil dan berperan sebagai pemandu dan pelopor pada saat perkembangan penting dan telah bergerak maju di baris depan gerakan rakyat dalam menentang bahaya, ikatan intelektual antara mereka dan rakyat telah diperkuat dan mereka telah memainkan peran penting dalam membimbing ummatnya.

 

Hal ini menguntungkan bagi gelombang Kebangkitan Islam dan ini tidak menyenangkan dan justru menyedihkan bagi musuh-musuh umat Islam, mereka yang menyimpan dendam terhadap Islam dan mereka yang menentang aturan nilai-nilai Islam, dan mereka mencoba untuk mengambil alih otoritas intelektual tersebut dari benteng-benteng religi dan menciptakan pusat-pusat baru sebagai gantinya. Mereka telah belajar lewat pengalaman bahwa mereka dapat dengan mudah mencapai kompromi dengan pusat-pusat atas prinsip-prinsip dan nilai-nilai bangsa, tetapi hal ini adalah sesuatu yang tidak akan pernah terjadi pada ulama-ulama saleh dan pribadi-pribadi religius yang setia.

 

Hal yang demikian itu membuat tanggung jawab ulama lebih berat. Dengan kewaspadaan dan kehati-hatian dan dengan mengidentifikasi metode muslihat musuh dan intriknya, mereka benar-benar harus menutup pintu rapat-rapat untuk infiltrasi dan menggagalkan semua makar musuh. Salah satu bencana terbesar adalah ketertarikan terhadap iming-iming kekayaan duniawi. Pemaparan kenikmatan kepada orang-orang kaya dan berkuasa sehingga menjadi berhutang kepada nafsu dan kekuasaan taghut merupakan penyebab paling berbahaya dalam pemisahan mereka dari masyarakat dan hilangnya kepercayaan dan keramahan mereka.

 

Egosentris dan haus kekuasaan, yang memikat pribadi-pribadi yang lemah kearah mengembangkan kecenderungan kepada kutub-kutub kekuasaan, menyiapkan sarana untuk keterlibatan dalam korupsi dan penyimpangan. Perlu kiranya kita selalu menjaga ayat suci Al-Quran ini dalam pikiran kita: “Negeri akhirat itu Kami jadikan bagi orang-orang yang tidak menyombongkan diri dan tidak berbuat kerusakan di muka bumi. Dan kesudahan [yang baik] itu bagi orang-orang yang takwa” [Al-Quran, Al-Qashas 28:83]

 

Hari ini, di era gerakan harapan yang penuh inspirasi Kebangkitan Islam, hal-hal tertentu kadang-kadang bisa kita saksikan di satu sisi, menunjukkan upaya oleh agen Amerika dan Zionis untuk menciptakan otoritas intelektual yang tidak bisa diandalkan, dan di sisi lain menunjukkan upaya Qarun bejat menyeret para agamawan dan orang-orang saleh kepada aktivitas mereka yang tercemar penuh racun berbisa. Ulama dan orang-orang saleh harus sangat waspada dan hati-hati.

 

Pokok Pembahasan Kedua adalah perlunya menggambarkan tujuan jangka panjang bagi Kebangkitan Islam di negara-negara Muslim, tujuan mulia yang memberikan orientasi kepada kebangkitan bangsa-bangsa dan membantu mereka mencapai titik tertentu. Hal ini dilakukan dengan mengidentifikasi titik tertentu yang kita dapat mempersiapkan roadmap dan menentukan tujuan dalam jangka menengah dan pendek. Tujuan akhir ini hanyalah semata demi menciptakan peradaban Islam yang gemilang. Seluruh bagian dari ummat Islam –dari berbagai bangsa dan negara – harus mencapai posisi peradaban yang telah ditentukan dalam Al-Qur’an.

 

Ciri utama dan umum dari peradaban ini adalah bahwa memberi kesempatan kepada ummat manusia untuk memanfaatkan semua kapasitas material dan spiritual yang Allah Ta’ala telah karuniakan kepada mereka dan dunia dalam rangka untuk mendatangkan kebahagiaan dan transendensi untuk kemanusiaan. Struktur permukaan peradaban ini dapat dan harus disaksikan dalam pemerintahan yang populer, dalam  undang-undang yang telah digali dari Al-Quran, dalam mengidentifikasi dan mengatasi kebutuhan ummat manusia yang berbeda-beda, dalam menghindari kekakuan dan sikap reaksioner serta inovasi yang tidak beralasan dan pemalsuan, dalam menciptakan kesejahteraan masyarakat dan kekayaan, dalam menegakkan keadilan, dalam pembebasan dari ekonomi yang didasarkan pada hak-hak istimewa, riba dan mengambil kebanggaan dalam kekayaan, dalam mempromosikan nilai-nilai kemanusiaan, dalam membela orang-orang tertindas di dunia ini, dan dalam kerja keras dan menciptakan pembaharuan.

 

Mengadopsi ijtihadi dan pandangan ilmiah pada berbagai bidang – mulai dari humaniora ke sistem pendidikan formal, dari ekonomi dan perbankan hingga produksi teknis dan teknologi, dari media modern hingga seni dan perfileman dan hingga hubungan internasional dan bidang-bidang lainnya – semua ini adalah di antara sekian persyaratan untuk membangun peradaban.

 

Pengalaman telah menunjukkan bahwa semua ini memang memungkinkan dan dalam kapasitas masyarakat Muslim. Pandangan ini tidak boleh dilakukan dengan tergesa-gesa dan pesimisme. Menjadi pesimis tentang kemampuan seseorang adalah bentuk tidak bersyukur atas berkah Tuhan, dan mengabaikan bantuan Allah dan hukum-hukum penciptaan hingga tergelincir kepada kerancuan kearah “prasangka buruk terhadap Allah” [Al-Quran, Al-Fath 48:6]. Kita bisa memutus rantai monopoli ilmiah, ekonomi dan politik dari kekuatan dominan dan membantu ummat Islam menjadi pelopor mengembalikan hak-hak mayoritas bangsa-bangsa di dunia, yang telah didominasi oleh minoritas kekuatan arogan.

 

Dengan iman, ilmu pengetahuan, akhlak dan perjuangan terus-menerus, peradaban Islam dapat menyumbangkan pemikiran yang maju dan nilai-nilai perilaku mulia bagi umat Islam dan seluruh umat manusia, dan hal ini bisa menjadi poin pembebas dari pandangan materialistis dan menindas dan nilai-nilai perilaku korup yang membentuk pilar peradaban Barat saat ini.

 

Pokok Pembahasan Ketiga ialah bahwa dalam gerakan Kebangkitan Islam perlu kiranya memperhatikan secara konstan pada pengalaman pahit dan mengerikan dalam menelusuri peradaban Barat dalam bidang politik, perilaku dan gaya hidup.

 

Dalam lebih dari satu abad mengikuti perkembangan budaya dan politik dari kekuatan-kekuatan  arogan, negara-negara Muslim menderita dari bencana mematikan seperti ketergantungan politik dan penghinaan, buruknya keadaan ekonomi dan kemiskinan, turunnya nilai-nilai moral dan etika dan keterbelakangan keilmuan secara memalukan, sementara ummat Islam menikmati sejarah yang mulia dalam segala bidang.

 

Pernyataan ini tidak harus ditafsirkan sebagai permusuhan terhadap Barat. Kami tidak memusuhi kelompok manusia manapun hanya karena perbedaan geografis. Kami telah belajar banyak pelajaran dari Sayidina Ali (salam atasnya) yang menggambarkan manusia dengan cara sebagai berikut:

“Mereka yang beragama sama dengan Anda adalah saudara Anda, dan mereka yang beragama lain daripada agama Anda adalah makhluk manusia seperti Anda.” Keluhan kami melawan penindasan dan arogansi dan terhadap intimidasi dan pelanggaran adalah kemerosotan moral dan praktis yang telah dikenakan pada bangsa kita oleh kekuatan-kekuatan kolonial dan sombong.

 

Saat ini, kita bisa menyaksikan ancaman dan gangguan Amerika dan beberapa pengikutnya di wilayah di negara-negara di mana angin kebangkitan telah berubah menjadi badai pemberontakan dan revolusi. Janji-janji mereka tidak boleh mempengaruhi keputusan dan tindakan tokoh-tokoh politik yang luar biasa dan gerakan rakyat yang besar. Dalam kasus ini juga, kita perlu belajar dari pengalaman kita: mereka yang menggantungkan harapan pada janji-janji Amerika selama bertahun-tahun dan berdasarkan perilaku dan kebijakan mereka pada kecenderungan mereka terhadap penindas tidak berhasil untuk menyelesaikan masalah bangsa-bangsa atau menghilangkan ketidakadilan untuk diri mereka sendiri atau bangsa lain. Dengan menyerah kepada Amerika, mereka tidak berhasil mencegah penghancuran bahkan sebuah rumah Palestina sekalipun di dalam wilayah miliki bangsa Palestina.

 

Para politisi dan pribadi-pribadi yang luar biasa yang ditipu oleh suap atau terintimidasi oleh ancaman dari kubu kekuatan arogan dan kehilangan kesempatan besar akan Kebangkitan Islam harus waspada terhadap ancaman Tuhan berikut ini: “Tidakkah kamu memperhatikan orang-orang yang telah menukar nikmat Allah dengan ingkar kepada Allah dan menjatuhkan kaumnya ke lembah kebinasaan? Yaitu neraka Jahannam; mereka masuk kedalamnya; dan itulah seburuk-buruk tempat kediaman” [Al-Quran, Ibrahim 14: 28-29]

 

Pokok Pembahasan Keempat adalah bahwa hari ini salah satu upayah yang paling berbahaya yang mengancam gerakan Kebangkitan Islam adalah usaha untuk memicu perselisihan dan mengubah gerakan ini menjadi konflik berdarah baik sektarian, etnis maupun nasional. Saat ini, kelompok-kelompok ini sedang dikejar secara serius oleh agen-agen intelijen Barat dan Zionisme dengan bantuan petrodolar dan menyuap politisi dari Asia Timur hinggga Afrika Utara dan khususnya di kawasan Arabia.

 

Dan uang yang bisa digunakan untuk membawa kebahagiaan bagi umat manusia justru digunakan untuk membuat ancaman, pengucilan, pembunuhan, pemboman, untuk menumpahkan darah Muslimin dan menyalakan api dendam dalam waktu cukup lama. Mereka yang menganggap kekuatan terpadu Islam sebagai hambatan di tengah jalan tujuan jahat mereka telah sampai pada kesimpulan bahwa mengipasi api konflik di dalam umat Islam adalah cara termudah untuk mencapai tujuan setan mereka dan mereka telah menggunakan perbedaan pendapat di bidang hukum Islam, Kalaam, sejarah dan hadits – yang alami dan tak terelakkan -sebagai alasan untuk mengucilkan, menumpahkan darah dan menyebabkan fitnah dan korupsi.

 

Pandangan penuh waspada terhadap konflik domestik secara jelas mengungkap tangan musuh di balik tragedi ini. Tangan penipu ini pasti mengambil keuntungan dari ketidaktahuan, prasangka dan kedangkalan pengetahuan yang ada pada masyarakat kita dan mereka meyiramkan bensin ke dalam api. Tanggung jawab reformis agama dan politisi serta pribadi yang luar biasa sangat berat dalam hal ini.

 

Saat ini, Libya, Mesir, Tunisia, Suriah, Pakistan, Irak dan juga Libanon dengan satu atau lain cara terlibat atau terkena api yang berbahaya. Hal ini memerlukan sikap sangat berhati-hati dan segera mencari solusinya. Naif jika kita berpikir bahwa semua ini hanya karena faktor ideologis, etnis dan motif-motif tertentu. Kampanye dan propaganda dari media Barat dan kaki-tangannya, serta tentara bayaran di wilayah tersebut berpura-pura menyatakan bahwa perang yang menghancurkan di Suriah adalah konflik Syiah-Sunni dan mereka membuat margin keamanan bagi Zionis dan musuh-musuh perlawanan di Suriah dan Lebanon.

 

Sebenarnya kedua belah pihak yang berkonflik di Suriah adalah bukan Syiah dan Sunni, namun mereka adalah antara para pendukung dan penentang perlawanan anti-Zionis. Pemerintah Suriah bukanlah pemerintahan Syiah, demikian pula oposisi sekuler dan anti-Islam bukanlah kelompok Sunni. Satu-satunya pencapaian dari komplotan skenario berbahaya ini adalah bahwa mereka telah berhasil memanfaatkan sentimen keagamaan mereka yang berpikiran sederhana untuk menyulut api yang mematikan ini. Melihat apa yang ada di lapangan dan mereka yang terlibat di dalamnya pada tingkat yang berbeda dapat memperjelas masalah bagi setiap individu yang adil.

 

Juga, dalam kasus Bahrain, gelombang propaganda menyebarkan kebohongan dan penipuan dengan cara lain. Di Bahrain, mayoritas tertindas – yang telah kehilangan hak untuk memilih serta hak-hak dasar lainnya yang seharusnya dinikmati sebuah bangsa- telah bangkit untuk menuntut hak-hak mereka. Haruskah kita menganggap konflik ini sebagai konflik Syiah-Sunni hanya karena mayoritas yang tertindas adalah Syiah dan pemerintah sekuler yang menindas berpura-pura sebagai Sunni? Tentu saja, para penjajah Eropa dan Amerika dan teman-teman mereka di wilayah tersebut ingin membuat hal-hal seperti itu muncul, tapi apakah kebenaran itu?

 

Inilah hal yang mengundang para ulama dan reformis bijak untuk berpikir hati-hati dengan rasa tanggung jawab dan mereka membuat identifikasi akan tujuan musuh di balik sorotan sektarian, etnis dan perbedaan pendukung  merupakan kewajiban bagi semua orang.

 

Pokok Pembahasan Kelima adalah bahwa salah satu standar untuk menilai apakah gerakan Kebangkitan Islam berada di jalan yang benar adalah bagaimana posisi mereka dalam mengadopsi masalah Palestina. Sejak enam puluh tahun yang lalu sampai hari ini, pendudukan Palestina telah menciptakan tragedi terbesar yang pernah dialami oleh umat Islam.

 

Sejak hari pertama sampai hari ini, tragedi Palestina telah menjadi kombinasi pembunuhan, pembantaian, penghancuran, perampasan dan pelanggaran terhadap apa yang dianggap suci dalam Islam. Kebutuhan untuk menyiapkan perlawanan dalam berperang dan menyerang musuh dan melawan mereka telah disepakati oleh semua mazhab Islam dan arus nasional yang jujur ​​dan sehat. Saat ini negara-negara Islam yang mengabaikan tanggung jawab keagamaan dan nasional dari pertimbangan untuk tuntutan dominan dari Amerika atau dengan dalih pembenaran tidak masuk akal seharusnya tidak mengharapkan dipandang sebagai setia kepada Islam dan tulus dalam klaim nasionalistik mereka.

 

Ini adalah ujian. Siapa saja yang tidak menerima slogan membebaskan Al-Quds yang Suci dan menyelamatkan bangsa Palestina dan wilayah Palestina atau siapa saja yang memelesetkan slogan ini dan berpaling dari kubu perlawanan, akan dikecam. Umat ​​Islam harus menjaga standar yang jelas dan mendasar ini dalam pikiran mereka di manapun dan kapanpun.

 

 

 

Para tamu, saudara dan saudari yang saya hormati, jangan pernah melupakan makar musuh. Kurangnya kewaspadaan kita akan menciptakan peluang bagi musuh-musuh kita.

 

Pelajaran yang disampaikan oleh Sayidina Ali (salam atasnya) kepada kita bahwa “siapa pun yang ceroboh terhadap tujuannya, musuh tidak akan pernah diam dalam mengambil keuntungan …” Dalam hal ini, pengalaman kami di Republik Islam juga merupakan sumber pelajaran. Setelah kemenangan Revolusi Islam di Iran, pemerintah Barat arogan dan Amerika – yang telah lama berdiri menguasai penuh atas para taghut Iran dan yang biasanya menentukan nasib politik, ekonomi dan budaya negara kita dan yang telah meremehkan kekuatan dahsyat agama Islam di dalam masyarakat dan tetap tidak menyadari kekuatan Islam dan Al-Quran sehingga terus mengerahkan kekuatan dan membimbing – tiba-tiba sadar bahwa mereka tidak menyadari dan organisasi pemerintah mereka, badan intelijen, dan ruang-ruang kontrol kembali bekerja untuk menebus kekalahan besar yang mereka derita.

 

Kami telah menyaksikan berbagai macam intrik dari mereka selama tiga puluhan tahun. Pada dasarnya, ada dua faktor yang telah menggagalkan makar mereka: yakni desakan atas prinsip-prinsip Islam dan kehadiran masyarakat di tempat kejadian. Kedua faktor tersebut adalah kunci untuk masalah yang ada dimanapun. Faktor pertama dijamin oleh keyakinan agama tulus akan janji Allah dan faktor kedua dijamin oleh upaya tulus dan klarifikasi yang jujur.

 

Sebuah bangsa yang memiliki iman dalam kejujuran serta ketulusan terhadap pemimpinnya akan membawa antusiasme dengan kehadiran mereka yang diberkati, dan dimanapun bangsa itu tetap di tempat kejadian dengan tekad yang kuat, tidak ada kekuatan yang mampu untuk mengalahkannya. Ini adalah pengalaman sukses untuk semua bangsa yang sanggup memunculkan Kebangkitan Islam melalui kehadiran mereka.

 

Saya berdoa kepada Allah Ta’ala untuk melimpahkan bimbingan-Nya, bantuan dan belas kasihan kepada Anda dan pada semua negara Muslim.

 

Salamu alaikum Wa Rahmatullah

About Author

Redaksi

Redaksi

Related Articles

0 Comments

No Comments Yet!

There are no comments at the moment, do you want to add one?

Write a comment

Write a Comment

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.