HMINEWS.COM

 Breaking News

Merayakan Hari Buruh part 1

May 01
09:53 2013

Buruh masih belum bebas. Upah minimum ditunda karena pengusaha berhasil melobi pemerintah. Di Indonesia, pemilik  pabrik yang berjaya karena punya uang. Sementara isu tripartit tidak memiliki dampak apapun terhadap negosiasi buruh-pengusaha. Apakah buruh masih memiliki masa depan?

Pertama, ketika berbicara upah minimum dan tuntutan buruh lainnya, dengan mudah pengusaha akan menunjukkan angka kebutuhan hidup minimum. Yang dimaksud tentu soal materi, makanan, biaya sewa rumah, pengeluaran rutin sabun mandi, dan lain-lain. Konsep kebutuhan hidup minimum sudah lama ditentang karena tidak relevan dalam meng-cover seluruh area kebutuhan hidup buruh. Bagaimana dengan kepuasan buruh dalam bekerja dan fasilitas pabrik yang membuat buruh nyaman dalam melakukan kegiatan produksi nya. Jika standar upah minimum masih menggunakan kuantifikasi barang yang terlihat, sementara aspek lainnya belum dimasukkan, ini berarti menganggap buruh sekedar menjadi mesin hidup dan faktor produksi semata. Perlu dilakukan valuasi terkait aspek diluar materi yang digambarkan oleh Ibu Poppy Ismalina (perwakilan Indonesia dalam konferensi ILO ) sebagai substantive minimum life cost atau kebutuhan hidup substantif pengganti konsep lama, physical minimum life cost.

Kedua, benarkah jika UMR dinaikkan maka akan terjadi pengangguran? Data ADB menunjukkan bahwa kenaikan UMR yang terjadi selama 5 tahun terakhir di Indonesia tidak menunjukkan grafik yang linear dengan pemangkasan tenaga kerja di sektor formal. Artinya jika UMR dinaikkan misalnya hingga 40% dari nilai sebelumnya, kelebihan tersebut dianggap sebagai insentif bagi buruh sehingga produksi dapat naik lebih tinggi. Pengusaha tidak akan rugi, jika buruh dimanjakan dengan insentif dan fasilitas yang baik.

Kaum neo-klasik berpikir bahwa kenaikan UMR merupakan hal yang irasional di Indonesia, karena tingkat produktifitas buruh sangat minim dibandingkan negara lain. Justru sebaliknya, naikkan UMR maka buruh akan semangat bekerja. Teori ini sesuai dengan pandangan Robert Owen, seorang pemilik pabrik di Inggris yang kemudian membuat gebrakan baru dengan memotong jam kerja buruh menjadi 10 jam sehari dan memberikan penerangan lampu yang baik. Hasilnya tingkat produktifitas buruh naik, buruh bukan malah bermalas-malasan tapi buruh justru loyal terhadap perusahaan yang dimiliki Owen. Robert Owen bukan berasal dari kalangan buruh, ia seorang borjuasi kapital pemilik pabrik tapi keberpihakannya jelas untuk kesejahteraan buruh. Inti dari studi kasus tersebut menunjukkan bahwa pandangan pengusaha hari ini dapat dikatakan sesat-pikir, terkungkung dalam kalkulator industri yang kaku, dan hanya mendengar ceramah dari ekonom klasik-liberal.

Sementara perjuangan di ranah ekonomi terus dilakukan oleh kaum intelektual dan serikat buruh, tidak lupa bahwa perjuangan yang hakiki dari kaum buruh adalah menumbuhkan kesadaran diri. Menumbuhkan ide kritis, sehingga rutinitas mereka sehari-hari di depan mesin dan mandor tidak mematikan nilai kemanusiaan mereka. Jika saja hari ini mahasiswa dan buruh dapat bersatu seperti peristiwa Paris 1968 mungkin gerakan buruh bukan sekedar permainan wacana, ia membutuhkan aksi kongkrit, turun ke jalan, parade, dan menuntut hak-hak nya diberikan.

Buruh dan mahasiswa itu satu kesatuan

Jika terpisah maka perjuangan menjadi semu

Karena tembok granik lebih kuat dari tembok batu

Tembok granit rakyat bersatu!

Oleh

Bhima Yudhistira A.

Kader HMI UGM

  

About Author

Redaksi

Redaksi

Related Articles

0 Comments

No Comments Yet!

There are no comments at the moment, do you want to add one?

Write a comment

Write a Comment

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.