Meneladani Misi Profetik Rosulullah Sebagai Paradigma Sikap Pengader

Dalam Mewujudkan Karakter Ulil Albab

“Sesungguhnya telah ada pada Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu bagi orang yang mengharap Allah dan hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah.” (Q. S. 33 ayat 21).

Dalam pembentukan pola perilaku seorang individu, lingkungan memiliki peran yang cukup berpengaruh, terlebih lingkungan keluarga. Karena keluarga merupakan pendidikan pertama bagi seseorang. Sebagai pendidikan yang pertama atau awal, ini akan menjadi pondasi bagi seseorang individu dalam melanjutkan pendidikan selanjutnya di luar lingkungan keluarga. Kecendrungan-kecenderungan dapat tertangkap dari perdidikan awal ini, mulai dari perilaku, cara bersikap, dan juga cara berkomunikasi.

Proses pendidikan keluarga yang terbentuk dengan baik dan kehadiran figur yang baik, maka akan terbentuk pula individu yang baik. Namun pengaruh lingkungan luar sebagai konsekuensi dari interaksi individu di luar lingkungan keluarga yang dijalani, ternyata memiliki daya tarik yang cukup kuat, bahkan mampu membelokkan haluan dari apa yang telah ditanamkan di dalam keluarga. Sehingga pendidikan keluarga harus berlangsung secara berkesinambungan, sebagai internal kontrol dari seorang individu tersebut.

Berbicara tentang figur, pada lingkungan manapun tentunya akan memunculkan figur-figur yang akan menjadi kiblat atau panutan bagi setiap individu dalam interaksi sosialnya. Figur ini dapat dikatakan merupakan alat cetak bagi pengikutnya. Pada proses atau tahap imitasi seorang individu, ia akan cenderung meniru semua tingkah polah si figur yang dianggap jadi idolanya. Dan menjadi sangat penting manakala setiap individu menyadari akan sosok figur yang ada pada tiap-tiap diri. Karena proses contoh mencontoh akan terjadi terus menerus dalam kehidupan ini. Sehingga pembentukan generasi berikutnya menjadi tanggung jawab figur-figur yang telah ada yang sekaligus memiliki peran yang cukup besar dalam membentuk generasi di bawahnya yang pada akhirnya akan menjadi figur baru bagi generasi berikutnya. Figur unggul dan kokoh akan menghasilkan figur-figur yang unggul dan berkualitas, untuk figur lemah tetunya akan melahirkan figur-figur yang lemah dan rentan mudah lapuk dan mudah terombang ambing.

Peradaban manusia yang terbangun hingga saat ini, tidak terlepas dari figur-figur pemimpin, pendobrak peradaban yang gigih dan tangguh. Sejarah mencatat risalah kenabian memiliki andil yang besar yang memberikan bimbingan bagi manusia untuk mencapai tujuan terciptanya manusia di muka bumi. Karena sosok seorang nabi atau penyampai risalah tentunya memiliki
kharisma yang kuat dengan karakter yang sempurna, dan juga menjadi figur percontohan bagi umatnya.

Muhammad Rasulullah SAW. merupakan nabi terakhir, utusan yang dihadirkan oleh Allah SWT bagi umat manusia dunia, keberadaannya menjadi contoh atau dapat dikatakan sebagai prototipe manusia sempurna sebagai khalifah di muka bumi ini. Sosok figur kharismatik yang memiliki karakter sempurna, tabligh, siddiq, amanah dan juga fathonah. Sikap pemimpin, negarawan, saudagar, pengayom, orang tua yang penyayang, tegas, adil dan bijaksana, yang menjadikan Islam sebagai jalan hidup (way of life). Hanya beliaulah satu-satunya tokoh yang mampu mengubah peradaban suatu bangsa dengan degradasi moral yang parah, menjadi bangsa yang berperadaban mulia. Dan dunia pun mengakui kekokohan perjuangan beliau dengan sosok kharismatik yang tiada tandingannya.

Keberislaman kita dengan bersyahadat meniscayakan pengakuan kita akan kerasulan beliau maka sudah sepantasnya kita meneladani sikap, perilaku, pola pikir termasuk didalamnya karakterkarakter beliau sebagai guide dalam mengarungi kehidupan ini.

Misi Profetik sebagai Paradigma Sikap Pengader

Profetik, dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia berasal dari serapan kata dalam bahasa Inggris “prophetic” yang berarti kenabian. Kata dalam bahasa Inggris ini berasal dari bahasa Yunani “prophetes”, sebuah kata benda untuk menyebut orang yang berbicara awal, atau berarti juga orang yang berbicara masa depan. Profetik atau kenabian di sini merujuk pada pemikiran yang dikembangkan oleh Kuntowijoyo tentang Ilmu Sosial Profetik, bahwa ada tiga unsur landasan nilai Profetik yang dalam Al-Quran disebutkan meliputi amar ma’ruf (humanisasi), nahi munkar (liberasi), dan iman billah (transendensi).

Dalam konteks perkaderan, tiga nilai tadi juga merupakan landasan penting dalam proses pembentukan dan pematangan kedirian seorang pengader, yang memiliki peran penting sebagai pendidik, pemimpin dan pejuang. Seorang pengader perlu memahami bahwa misi-misi profetik yang dibawa oleh para nabi juga ada pula di pundaknya, yaitu bagaimana keberadaannya mampu
menebarkan semangat humanisasi, liberasi, dan transendensi.

Humanisasi sering diartikan sebagai memanusiakan manusia, menjunjung dan menghormati nilai kemanusiaan, sehingga meniscayakan sikap-sikap menolak ketergantungan, kekerasan, dan kebencian dari manusia. Pada konteks perkaderan hal ini perlu menginternalisasi pada diri pengader sebagai bekal dalam menjalankan tugas mendidik kader dalam semangat kebersamaan, egaliter, dan sikap non-diskriminatif. Ini berarti proses perkaderan nantinya diharapkan mampu memunculkan
pula sosok-sosok pendidik, pemimpin dan pejuang yang dalam konteks keberpihakan punya kecenderungan untuk melayani dan mengayomi semua kader tanpa membeda-bedakan latar belakang, tingkat pemahaman, tingkat keaktifan, ataupun tingkatan jenjang perkaderan formal serta amanah struktural.

Liberasi diartikan sebagai pembebasan, melepaskan diri dari belenggu, keterkungkungan, dan hegemoni. Term tersebut selama ini mungkin hanya familiar di pembahasan-pembahasan konsepsi gerakan penentangan terhadap dominasi struktur yang menindas secara ekonomi, politik, budaya, maupun akses sosial. Namun dalam konteks perkaderan, seorang pengader sebagai seorang ideolog diharapkan juga mampu mengambil peranan itu terutama jika berbicara dalam wilayah proses kaderisasi gerakan epistemologis, maka pengader memiliki tugas pembebasan. utamanya membebaskan keterkungkungan kader dari belenggu-belenggu pemikiran yang tidak maju, hegemoni kesadaran-kesadaran palsu, atau bahkan dari teori sosial ataupun opini publik yang menyesatkan seperti apa yang disebutkan oleh kriteria ulil albab.

Hal ini tentunya sesuai dengan apa yang diungkapkan oleh Kuntowijoyo bahwa paling tidak ada empat sasaran liberasi yaitu yang pertama adalah liberasi sistem pengetahuan, baru kemudian liberasi sistem sosial, sistem ekonomi, dan sistem politik yang membelenggu manusia sehingga tidak dapat mengaktualisasikan diri sebagai makhluk yang merdeka dan mulia.

Transendensi dalam teologi Islam berarti percaya kepada Allah, kitab Allah, dan yang Ghoib seperti yang tertuang dalam surat Al-Baqoroh ayat 3-4. Dengan kata lain transendensi berarti keimanan, kepercayaan kepada nilai-nilai tauhid sebagai ruh dari seluruh gerak semesta baik makrokosmos maupun mikrokosmos. Ini berarti bahwa nilai-nilai transendental merupakan bagian
penting dalam pembangunan sebuah peradaban, karena dari proses transendensi inilah manusia memiliki sebuah tujuan yang jelas tentang kemana arah hidupnya.

Dalam konteks perkaderan, pemahaman pengader terhadap hal ini pun menjadi sebuah kebutuhan bersama yang amat penting karena dari pemahaman inilah seluruh gerak organisasi mampu dimaknai sebagai wujud kebertuhanan seluruh kader. Bahwa ibadah dan “sujud”nya seluruh kader bukanlah terbatas pada hal-hal yang dilakukan di rumah-rumah ibadah maupun di forum-forum pengajian dan tadarus semata, tetapi lebih dari itu, aktifitas-aktifitas organisatoris seperti rapat, kajian dan diskusi, serta kegiatan-kegiatan kepanitiaan dan kepemanduan pun itu merupakan salah satu bentuk kebertuhanan yang nyata. Inilah yang diharapkan nantinya mampu menjadi pengingat dan pemberi motivasi sehingga potensi “mangkir” dari penugasan bisa dieliminasi oleh himpunan.”

 

SYARAT MENGIKUTI SC :
1. Lulus LK II (Dibuktikan dengan sertifikat/ Rekomendasi dari cabang)
2. Membuat makalah minimal 5 halaman sesuai tema : A4, Margins 3, Times New Roman 12 pt, spasi 1,5*.
3. Membuat resume Khittah Perjuangan dan Pedoman perkaderan (Tulis Tangan)
4. Hafalan surat An-nas – ad-duha + Yasin
5. Mengikuti semua tes seleksi

*Makalah dikumpulkan maksimal tanggal 24 Mei 2013 pukul 00.00 WIB. Referensi wajib Khittah Perjuangan kirim ke email hmi_sobo@ yahoo.com

MEKANISME PENDAFTARAN DAN TES SELEKSI SC:

1. Pendaftaran maksimal tanggal 24 Mei 2013 pukul 00.00 WIB, Melalui SMS : ketik REG (spasi) NAMA (spasi) CABANG (spasi ) NO HP. Kirim ke 085 743 889 538.
2. Tes seleksi SC ditentukan sebagai berikut :
a. 26-27 Mei 2013 pukul 19.30-24.00 : Tes Pos I (Keislmanan, Pos II (Ke-HMI an), Pos III (Makalah) untuk peserta luar cabang Wonosobo.
b. 28 Mei 2013 pengumuman tes seleksi dan pembekalan (semua peserta)
3. Membayar uang pendaftaran Rp 5.000 dan biaya registrasi Rp 65.000
4. Kuota peserta untuk 20 orang.