Kiran Ansari

Chicago – Saat 30.000 orang ikut serta dalam acara jalan bersama Project Bread untuk membasmi kelaparan di Boston 5 Mei lalu, sebagian dari mereka berpartisipasi dengan penuh semangat namun juga dengan kewaspadaan. Karena hanya berselang tiga pekan setelah tragedi Maraton Boston, para anggota Muslims Against Hunger yang hendak berpartisipasi ditelepon oleh keluarga mereka yang merasa khawatir dan mendesak mereka agar tidak jadi ikut lantaran takut akan adanya aksi balasan.

Project Bread mengadakan berbagai program bantuan makanan berbasis komunitas dan prakarsa nutrisi sekolah yang menolong orang-orang kelaparan di Massachusetts. Di acara Walk for Hunger yang ke-45 yang diadakan tahun ini, organisasi ini bisa menghimpun dana sekitar 3 juta dollar. Ini benar-benar sejalan dengan tujuan Muslims Against Hunger, sebuah organisasi akar rumput yang memiliki relawan di 20 kota yang bertujuan untuk memobilisasi masyarakat untuk mengatasi kelaparan, kemiskinan dan gelandangan. Sekitar 150 peserta Muslim menghimpun dana lebih dari 5.000 dollar untuk Project Bread.

Seorang ibu muda dengan tiga anak, Shazia Tariq dari Westborough, Massachusetts, adalah salah satu Muslim yang ikut acara jalan bersama tersebut. Ia sudah tahu tentang Muslims Against Hunger melalui berbagai dapur umum yang secara rutin mereka adakan. Sebagai seorang atlet yang penuh semangat, ia sudah mendaftar untuk acara jalan bersama Project Bread ini pada bulan Maret dan telah berlatih agar kuat menempuh rute sejauh 20 mil. Namun, selepas serangan bom mengerikan pada 15 April lalu, keluarganya, seperti juga banyak keluarga lainnya, merasa khawatir karena ia akan mudah dikenali sebagai Muslim lantaran mengenakan jilbab, dan mereka memperingatkannya agar membatalkan keikutsertaannya.

“Acara ini sangat dekat dengan hati saya,” kata Tariq. “Pertama-tama, sebagai Muslim, kami meyakini bahwa memberi makan sesama dan memberi makan orang kelaparan merupakan bagian penting dari Islam. Kedua, sebagai seorang ibu, saya selalu mengatakan kepada anak-anak saya betapa beruntungnya mereka memiliki dapur yang penuh dengan makanan, dan ini adalah kesempatan saya untuk mewujudkan perkataan saya dalam sebuah tindakan.” Ia pun bersikukuh untuk ikut serta dan mendapat restu keluarganya meskipun mereka awalnya merasa cemas.

Setelah tragedi Boston, seorang perwakilan dari Council on American-Islamic Relations (CAIR) berbicara kepada komunitas Muslim di Worcester Islamic Center, di mana Tariq secara rutin menjadi relawan. Setelah mempresentasikan hak-hak sipil dan cara-cara mudah untuk mencegah dan melaporkan aksi balasan, ia pun mendekati perwakilan CAIR tersebut, Todd Gallinger, dan meminta pendapatnya. Ia meneguhkan keputusan Tariq untuk tetap ikut, dan menyebutnya sebagai kesempatan yang tepat untuk menghilangkan stereotip tentang Muslim Amerika.

“Saya sudah membuat keputusan,” kata Tariq. “Namun, ketika Pak Gallinger mengatakan bahwa ini adalah saat yang paling tepat untuk terlibat dalam kegiatan lintas iman dan memperlihatkan pada semua orang kontribusi positif Muslim Amerika, hal itu menguatkan niat saya. Saya tidak akan tenang kalau tidak jadi ikut, terutama karena saya tidak takut, orang-orang terkasih sayalah yang mengkhawatirkan saya.”

Saat ia berjalan dan berlari sepanjang 20 mil dengan teman-teman dari masjid tersebut, Tariq berhati-hati untuk tidak menarik perhatian sama sekali. Ketika ia melihat seorang gadis berumur delapan tahun yang keletihan duduk di tepi jalan, ia ingin membantunya mencapai garis finis. Namun, instingnya mengatakan bahwa ini bukan saat dan tempat yang tepat untuk bersikap terlalu ramah sebagai orang tak dikenal kepada gadis cilik ini. Tariq pun akhirnya membawakan gadis kecil itu jeruk dan menyampaikan beberapa kata penyemangat. Ia senang melihat gadis ini menyelesaikan jalan bersama ini beberapa langkah di depannya.

Tariq awalnya ingin ikut Maraton Boston, namun harus bergelut melawan asmanya selama latihan. Ia telah berencana untuk setidaknya menonton lomba maraton ini, namun pada hari itu ia terbaring sakit. Sebagai seorang atlet dan warga Boston, ia merasa akan mendapatkan yang terbaik dari kedua dunianya ini dengan menjadikan Maraton Boston yang legendaris itu sebagai maraton penuh pertamanya.

Pengalaman jalan bersama Project Bread ini telah memotivasinya untuk berlatih demi Maraton Boston tahun depan. Ia yakin bahwa demi tujuan-tujuan pribadinya, ataupun untuk mendorong anak-anaknya dalam bidang olahraga maupun akademik, penting baginya untuk mendorong mereka dan dirinya sendiri untuk mencapai lebih banyak lagi. Ia merasa ada kebutuhan untuk menanamkan antusiasme ini dalam pengabdian masyarakat juga. Ketika anak-anaknya masih kecil, ia merasa mereka menghalanginya dari kegiatan kerelawanan di masyarakat. Namun, sekarang ia merasa harus melakukannya untuk anak-anaknya. Karena dengan melihat perjuangannya, dampaknya akan jauh lebih besar pada kehidupan mereka daripada hanya dengan mendengar ceramahnya tentang hal itu.

“Bila sepasang kakek-nenek berusia 70-an saja bisa berjalan bergandengan tangan dan bocah delapan tahun bisa menyentuh garis finis, maka saya pun bisa,” kata Tariq. “Harusnya ada lebih banyak lagi warga Muslim yang keluar dari kotaknya dan turun secara langsung untuk membantu orang-orang yang membutuhkan. Dan saya berencana untuk terus berbuat lebih demi tujuan itu.”

*Kiran Ansari adalah penulis untuk berbagai media termasuk Chicago Tribune, Daily Herald, Halal Consumer dan Azizah Magazine. Ia tinggal di daerah pinggiran Chicago bersama suaminya dan kedua anaknya. (CGNews)