Bangsa ini begitu sumpek. Tiap-tiap sudut penuh polusi. Dari asap rokok, asap kendaraan, sampai orang-orang yang mencoba bermain “asap-asapan.”

Kenyamanan dalam bernafas sebagai warga negara tidak mendapatkan ketenangan. Sebab tiap-tiap jengkal dalam ber-Indonesia adalah menghirup semprotan asap.

Lalu Lintas Asap

Berharap asap berhenti dari semprotannya, mustahil. Tanpa asap, drama dalam dinamika kebangsaan sungguh bukan suatu seni yang membuat gairah. Penguasa, elit politik ,dan konco-konconya menganggap asap sebagai sebuah keabadian yang mesti disemprotkannya ke tiap sudut Indonesia.

Mereka terus menggelorakan asap sekalipun mengganggu lalu lintas dalam kehidupan berbangsa. Karena asap adalah indikator kemenangan dalam berkuasa, tentu bagi siapa yang rajin menyemprot asap.

Kehidupan pun berlangsung dalam lalu lintas asap yang padat. Sangat susah membuka mata dalam melihat realitas, sehingga apa yang dapat kita ketahui hanyalah jejak dari realitas, dan bukan realitas itu sendiri. (Derrida, 1989).

Tragedi Rasa

Sesungguhnya berbangsa yang ideal adalah menggunakan rasa memiliki yakni kepemilikan negeri dan harga diri.Tanpa rasa tidak ada yang menggugat proses kehidupan ini. Tanpa rasa, kekuasaan menjadi kendaraan tanpa kontrol dan pengawasan. Tanpa rasa, kesejahteraan adalah mimpi-mimpi semu di siang bolong.

Kematian rasa di sekeliling kita sudah begitu ramai. Bukan lagi dalam skala kewajaran psikologis melainkan terjadi pada skala massal. Hal ini lantaran tingkat pesimisme dan keputus-asaan yang begitu tinggi.

Harga diri sudah begitu mudah dicaplok. Politik transaksional, jalan ramai menuju kekuasaan, telah mengukur kualitas. Begitu murahnya kualitas manusia Indonesia ketika harus menjadi obyek komersil dalam politik transaksional. Selembar demi selembar telah menelanjangi harga diri. Semakin banyak pemilihan, sesungguhnya semakin manusia Indonesia berjalan telanjang tanpa harga diri.

Sama halnya, menyuarakan kepentingan. Hampir sama modelnya dengan bersuara ala tambal sulam. Bersuara bukan untuk keabadian melainkan atas nama perut dan demam tinggi konsumtif bagi si empunya suara. Suara-suara berani berucap ketika ditukar alat penelanjang harga diri. Sebaliknya suara-suara diam ketika dalam keadan kenyang dan tercukupi kebutuhannya.

Rasa telah berada pada ambang batas hidupnya. Dan sebentar lagi menemui ajalnya ketika tidak didorong untuk menentukan kualitas harga diri dan kepemilikan sebagai manusia sah bangsa Indonesia. Olehnya, rasa mesti terus dirawat dengan akal sehat. Hanya orang yang gila larut dalam sunyi senyap dan penjualan harga diri.

Jufra Udo
HMI MPO Kendari