Miris, kekerasan selalu menjadi ikon pemberitaan media massa yang fenomenal. Namun sebenarnya, kekerasan mustahil muncul tanpa sebab. Ia lahir atas tekanan hasrat yang begitu tinggi. Melibas batas-batas kemanusiaan demi memuaskan hasrat adalah jalan biasa dalam dunia kekerasan.

Tampak sekelompok pemuda sekonyong-konyong menjadi monster yang sadis dan membabi-buta. Pemerkosaan, jambret dan pengrusakan menjadi bagian tindak kebrutalan. Kisah geng motor bukan cerita lama. Ia adalah fenomena yang selalu menyeruak, dengan kata lain, telah tampil berulang-ulang mementaskan kebrutalannya. Dalam analisa ringan tindakan yang selalu berulang memberi arti bahwa ada keinginan yang terselubung (gerakan). Apakah gerangan?

Menurut Sidney Tarrow (1998),pengamat politik,mengatakan bahwa,secara historis,aksi kolektif dengan kekerasan paling sering dipilih. Mengapa? Kekerasan paling cepat menarik perhatian petugas penjaga “tatanan sosial,” bahkan kekerasan paling mudah dibuat oleh sekelompok kecil orang. Padahal, dalam teori social movement-nya Gene Sharp, dari 190 model gerakan sosial, hanya satu model kekerasan. Berarti ada 189 gerakan bersifat “anti kekerasan.” Lalu mengapa kekerasan menjadi gerakan yang paling ngentrend?

Pada sisi ini kekerasan menjadi pilihan sosial yang tepat. Kekerasan memiliki dampak psikologis yang kuat karena mampu menyita perhatian publik dalam sekejap. Begitu pun media massa begitu “khusyuk”  menayangkan perilaku kekerasan. Kemungkinan besar media paham dengan pemangsaan pasar. Media  massa mengkonstruk realitas dengan memotret kekerasan sebagai hiburan alternatif atas ambruknya perpolitikan. Fenomena politik telah in-fatsun. Kekuasaan bukan lagi dalam praktik sosial yang memberikan pengetahuan tetapi terjelma dalam wujud yang binal. Menjadi medan pelacuran kepentingan.

Kondisi kebangsaan kita yang dihiasi dengan “borok”nya perilaku elit-elit politik membuat kita jijik. Friksi dalam masyarakat juga menguat. Dalam merespon kondisi ini, ada yang bungkam dan ada yang menggunakan format gerakan tertentu dalam perlawanannya.

Kelompok geng motor bisa dikategorikan telah mengkonsumsi kekerasan sebagai pilihan sosial untuk digerakkan.Dalam hal ini,geng motor menjadi komunitas perlawanan yang tidak disadari.Kelompok geng motor sekedar dipandang sebagai fenomena kenakalan anak muda.Akan lebih dari label ini,sebenarnya mereka tengah melakukan perlawanan sosial.

Dalam masalah ini, bisa jadi dipengaruhi dua alasan yang mendasari munculnya perlawanan geng motor. Pertama, terabaikannya pengembangan bakat. Dewasa ini, kelompok geng motor cuma identik sebagai sasaran empuk politisi. Politisi mendulang suara lewat kelompok yang dipandang tinggi soliditasnya. Kedua, sempitnya lapangan kerja dan minim pemberdayaan. Hal ini munculnya perasaan “keterdesakan’’ yang memaksa kehendak untuk melakukan apapun demi mempertahankan diri. Mereka harus mencukupi kehidupan mereka tanpa pekerjaan dan keterampilan yang menunjang.

Perlawanan sosial kelompok geng motor mesti diseriusi. Perlawanan ini tidak diperkuat kualitas moral dan intelektual yang memadai. Mereka menampilkan gerakan perlawanan dengan sadisme dan tak terencana. Jadi bisa muncul disaat ada peluang untuk menyalurkan hasrat perlawanannya. Oleh karena itu mesti disikapi lebih serius, jangan dipandang sebagai kenakalan semata sebelum banyak jatuh korban.

Jufra Udo
Pengurus HMI-MPO Cabang Kendari