Dalam lanskap gerakan sosial terdapat beragam metodologi dan teknik gerakan. Semua gerakan tersebut memiliki  cara tersendiri dalam mengekspresikan dirinya di tengah masyarakat, ada yang selalu vis a vis dengan sistem ada yang mampu menerima kebenaran sistem dalam bagian tertentu dan hanya menolak bagian yang lain. Ada pula yang menganggap sistem telah tepat (dalam konsep teoritis) hanya  pelaku dari sistem tersebut yang melakukan tindakan berbanding terbalik dengan aturan sistem.

 Dari segi kecenderungan pada wilayah sifat maka varian gerakan juga memiliki sifat dinamis, terdapat varian gerakan yang radikal, moderat, bahkan ada pula yang cenderung “kompromistis.” Disadari bahwa deskripsi model gerakan sebagaimana yang penulis coba gambarkan sama sekali tidak bermakud mengkotak-kotakkan apalagi membuat sekat di antara varian gerakan yang ada, hal ini lebih dimaksudkan untuk menganalisis ragam kecenderungan gerakan dalam ranah sosial kemasyarakatan.

Pada wilayah yang lebih luas, model gerakan biasanya hanya dipetakan ke dalam dua mainstream utama yakni gerakan struktur dan gerakan kultur. Gerakan struktur lebih menitikberatkan perubahan melalui langkah struktur formal, varian gerakan struktur tidak selamanya masuk ke dalam struktur demi mencapai cita ideal gerakannya, hal tersebut sangat dipengaruhi oleh kondisi sistem struktur yang tengah berlangsung. Adapun gerakan kultur lebih banyak bermain di luar area struktur formal, gerakannya memang tidak bombastis karena dilakukan secara bertahap, geraka kultur lebih banyak diarahkan untuk melakukan proses pencerahan kepada masyarakat, keyakinan yang dianut adalah jika masyarakat tercerahkan dan sadar akan kondisi riil di sekitarnya maka mereka akan bergerak dengan sendirinya walaupun tanpa digerakkan, kerja – kerjanya biasanya lebih berorientasi jangka panjang. Baik gerakan struktur maupun gerakan kultur sama-sama memiliki kontribusi terhadap dinamika perubahan.

 Terkait dengan keragaman varian gerakan, maka masalah yang sering muncul adalah masih adanya kecenderungan oknum tertentu untuk melakukan proses pendikotomian terhadap varian gerakan yang ada; radikal dengan moderat, struktur dengan kultur. Dalam persepsi penulis, cara pandang dikotomis seperti itu cenderung kontra produktif, efek negatifnya lebih banyak dari efek positif. Ragam kecenderungan gerakan yang ada tidak seharusnya dipersepsi secara dikotomis karena, diakui atau tidak, semua model gerakan tersebut bermuara pada satu tujuan yakni melahirkan perubahan. Perbedaan metodologi dan teknis hendaknya lebih dilihat sebagai perbedaan sudut pandang dalam membaca realitas, mustahil untuk menyeragamkan sudut pandang dalam mempersepsi realitas sosial kemasyarakatan, keragaman model gerakan semestinya lebih dilihat sebagai sebuah potensi dalam mewujudkan perubahan dalam skala makro dengan perhitungan bahwa jika ruang gerakan diapresiasi maka hal itu berarti proses menuju perubahan berlangsung dalam setiap aspek kehidupan masyarakat.

Penulis tidak hendak memvonis bahwa gerakan sruktur tidak memiliki dimensi kultur, dan begitu pun sebaliknya, gerakan struktur tidak memiliki dimensi sruktur. Varian gerakan yang lebih menitikberatkan pada aspek struktur dalam kondisi tertentu juga melakukan aktifitas pada wilayah kultur, demikian pula sebaliknya, hanya saja kita tidak bisa menafikan bahwa setiap varian gerakan memiliki kecenderungan pada salah satu aspek tadi, kultur atau struktur. Penting pula dipertegas bahwa  mempersepsi ragam gerakan dalam konteks non-dikotomis bukan bermaksud melebur semua model gerakan ke dalam satu arus kecenderungan, akan tetapi ia lebih dimaksudkan untuk menghindari rasa superioritas berlebihan dalam mainstream gerakan tertentu. Jika rasa superioritas berlebihan muncul dalam mainstream gerakan tertentu maka hal tersebut akan menyebabkan rasa percaya diri berlebihan sehingga menganggap model gerakannyalah yang paling hebat dan paling berpengaruh dalam arus perubahan sosial, situasi seperti ini justru akan memunculkan sekat di antara varian gerakan yang ada, mesti dibangun pemahaman bahwa setiap varian gerakan “turut” serta dalam proses menuju perubahan sepanjang ia konsisten pada idealisme gerakan yang diyakininya.

*Zaenal Abidin Riam
Mantan Ketua HMI MPO Korkom Makassar Selatan