HMINEWS.Com – Diskusi rutin di ICAS Paramadina di Pejaten, Pasar Minggu-Jakarta Selatan, Jum’at (24/5/2013) menghadirkan guru besar akhlaq Universitas Iran, Prof Dr Ali Akbari. Ia berbicara mengenai konsep insan kamil atau manusia paripurna menurut Al Qur’an.

Prof Ali Akbari menjelaskan, insan kamil adalah Muhammad SAW, yang adalah manusia biasa dan karenanya jejaknya bisa diikuti oleh manusia lain. Hanya saja bedanya, Muhammad Rasulullah telah sampai, sedangkan manusia pada umumnya berada pada level memulai atau masih dan terus-menerus dalam upaya menuju cita ideal tersebut.

Dijelaskan dalam Al Qur’an, bahwasannya Allah menegaskan bahwasannya Rasulullah merupakan manusia (basyar) sebagaimana manusia umumnya. “Qul innama ana basyarun mitslukum, yuuha ilayya...” Katakanlah, sesungguhnya aku ini adalah manusia seperti kalian, hanya saja aku diberi wahyu.

Dengan penegasan tersebut jelaslah, bahwa menempuh jalan Muhammad bukan merupakan hal yang mustahil. Muhammad berlaku sebagaimana manusia lumrahnya; makan, minum, tidur, pergi ke pasar, dan sebagainya. Pada ayat yang lain pun terdapat petunjuk bahwasannya ‘Sungguh telah ada dalam diri Rasulullah teladan yang baik bagi orang yang berharap perjumpaan dengan Allah dan hari akhir.’

Insan kamil itu wujud dalam kehidupan nyata membersamai dan membimbing manusia menuju kesempurnaan, menempuh jalan yang telah ditempuh Rasul. Manusia-manusia seperti itu dapat dikenali dari sifat-sifatnya yang sejati, bukan merupakan hal yang manipulatif.

Di antara sifat insan kamil itu, disebut dengan istilah ‘Martabat Tujuh,’ adalah sebagaimana masyhur dalam permulaan Surah Al Mu’minun, yaitu: khusyu’ dalam shalatnya, menjauhkan diri dari perbuatan sia-sia, menunaikan zakat, menjaga kemaluan kecuali terhadap yang halal, menunaikan amanat serta menepati janji, dan senantiasa menjaga shalatnya.

Itulah manusia yang akan mewarisi firdaus dan kekal di dalamnya.