*Catatan Kajian Bersama Mas Ashad Kusumadjaya

“Masjid VS Pasar” Modus Perubahan Sosial

penyebaran Islam di Nusantara oleh para saudagar yang sekaligus sebagai da'i

Perubahan sosial lahir dari sebuah spirit yang mengarahkannya pada satu titik tertentu. Pilihannya berada pada dua kutub yang saling bertolak belakang, yaitu antara spirit pasar dan spirit masjid. Sebagaimana kata Rasul, “Sebaik-baiknya tempat adalah masjid dan seburuk-buruknya tempat adalah pasar.” Proses pemahaman dalam pembangunan spiritualitas menjadi penting untuk memastikan modus-modus perubahan sosial berada pada koridor yang benar.

Sering kali dalam memahami spiritualitas disalah-artikan sekedar mengasingkan diri dan meninggalkan dinamika proses perubahan. Metode sufisme dalam membangkitkan energi spiritualnya ‘jalan salik’ banyak dengan melakukan pengasingan diri ke berbagai tempat kesunyian. Pemahaman akan pembangunan spiritualitas sebenarnya bukanlah pada wilayah pengasingan dirinya. Melainkan memberikan ruang reflektif dan kontemplatif untuk menumbuhkan kesadaran yang bebas. Artinya, dalam pengasingan tersebut kita mencoba untuk menolak kesadaran parsial pada dinamika proses semata, dan memberikan ruang untuk mengaitkan segala realita dengan kerangka besar kehendak Allah SWT.

Proses pembinaan spiritualitas ini bisa diwujudkan dengan melakukan ritual-ritual tertentu yang mendekatkan diri dengan tuhan, misalnya; puasa, shalat malam, dzikir, dan lain sebagainya. Ritual ini harus memiliki ruh dan penghayatan yang dalam sebagai sebuah proses reflektif dan kontemplatif untuk berkomunikasi langsung dengan Allah SWT.

Modus-modus spiritual merupakan sebuah ruang imateril yang membangun konsepsi perubahan sosial. Dalam praksisnya, wilayah imateril ini dimanifestasikan dalam ruang kebudayaan menjadi sebuah materi, atau simbol-simbol. Misalnya, seseorang yang dengan keyakinanya sebagai “muslimah,” dia menerima perintah Allah SWT untuk menutup aurat. Maka, modus spiritualnya adalah keyakinan untuk menutup aurat sebagai bentuk kepasrahan akan perintah Tuhan. Pada praksisnya diwujudkan dengan mengenakan jilbab.

Di wilayah praksis, manifestasi simbol bisa mengalami persinggungan yang saling berkelindan antara pasar dan masjid. “Jilbab”, dalam wilayah praksis bukan lagi murni mengandung “spirit masjid”, melainkan juga telah berkelindan dengan “spirit pasar”. Maka, sulit dibedakan mana mereka yang menjadikanya sebagai wujud perjalanan spiritual dan mana yang menjadikanya sebagai sebatas “trend” atau refleksi atas kepentingan pasar. Begitu pula dalam berbagai ruang kebudayaan yang lain agama dan pasar seringkali membentuk simbol-simbol materil yang saling berkelindan. Dengan demikian diperlukan ruang kontemplatif dan reflektif dalam pusaran materialnya. Pasar, selamanya akan sekedar menangkap proses kebudayaan sebagai bentuk komoditi “apa yang bisa dipertukarkan secara ekonomis”, sedangkan, masjid akan memberikan penghayatan untuk menemukan ruh dan keyakinan. Di sinilah pentingnya dunia pergerakan mengembalikan ruang spiritualitas dalam ruang kebudayaan yang ada, kesadaran spiritual ini akan mampu memberikan kekuatan bagi pergerakan untuk menjawab problem-problem modern yang berusaha meng-komoditi-kan segala hal.

Kebudayaan dalam Kacamata Perubahan

Kebudayaan manusia lahir dari ruang aktualisasi komunal yang dilakukan manusia. Kebudayaan lahir sebagai sebuah pilihan rasional komunitas manusia untuk menjawab problem pada zamanya. Kebudayaan tidak berhenti pada wilayah-wilayah simbol semata, melainkan memiliki perangkat sistem kebudayaan yang sesuai dengan konteks pada zamanya. Maka, proses ‘nguri-nguri kabudayan’ sebenarnya bukan sebuah proses yang telah selesai. Sebaliknya proses kebudayaan harus mampu direaktualisasikan sesuai konteks zamannya sendiri dengan segala sistem yang melekat padanya. Kebudayaan adalah alat untuk menjawab problem zaman dengan mentransfer substansi dari nilai-nilai luhur manusia.

Dalam ruang dinamika Islam, Muhammad SAW memiliki dua peranan vital, pertama, Muhammad sebagai jawaban atas problem zaman, dan  kedua, Muhammad adalah pilihan jawaban atas problem hidup manusia. Artinya, sejarah hidup Muhammad adalah monumen besar bagi kebudayaan umat manusia, sebuah pilot project bagi kebudayaan hidup manusia sepanjang zaman. Kehadiran Muhammad SAW dengan pancaran cahaya Al Qur’an menganjarkan akan pentingnya komunikasi spiritual antara manusia dengan bahasa Tuhan, melalui Al Qur’an. Maka, pembiasaan untuk menghidupkan Al Qur’an sebagai landasan sikap hidup menjadi sebuah wujud bagi trasformasi kebudayaan Muhammad di setiap zaman. Interpretasi akan Al Qur’an bisa dikontekstualkan dengan kesadaran rasional pada zaman sekarang. Bukan, berarti merasionalkan segalanya, karena memang rasionalitas memiliki banyak keterbatasan hanya pada apa yang empiris sehingga banyak hal yang tidak bisa dirasionalisasikan. Dalam kerangka kebudayaan Islam secara aktual perlu menerjemahkan apa yang dianjurkan Kuntowijoyo, yaitu “Mengilmukan Islam”. Artinya, membahasakan Islam dengan bahasa rasional. Hal ini secara axiologis akan menjawab kejumudan intelektual dalam Islam, sekaligus mampu memberikan ruang integrasi antara Islam dan dunia keilmuan atau wacana kontemporer dengan menawarkan visi profetik yaitu tatanan nilai-nilai yang teraktualisasikan dalam kebudayaan manusia.

HMI dan Tantangan Zaman yang Berubah

Bagi HMI, sebagai sebuah gerakan yang di era rezim militer orde baru yang dengan sengaja berusaha menyingkirkan identitas Islam, perjuangan di masanya untuk menonjolkan identitas Islam sangat membantu. Identitas secara langsung menjadi simbol bagi perlawanan terhadap represi rezim terhadap komunitas muslim. Dengan identitas Islam yang demikian, sebagaimana tercermin dalam Khittah Perjuanganya, HMI sangat mudah menangkap segmentasi kader, yaitu setiap orang yang memiliki sentimen positif terhadap Islam maka akan dengan sendirinya mendekat ke HMI. Kondisi ini berubah 180 derajat, ketika realitas kebudayaan berubah.

Situasi politik yang demokratis memberikan ruang pluralistik dan multikultural. Seluruh tradisi dan kebudayaan bebas berkembang, dan gerakan Islam menjadi tumbuh bebas. Dalam situasi yang seperti ini perjuangan identitas yang digagas HMI menjadi kurang bermakna. Misalnya, ketika HMI mereproduksi gagasan sebagai satu-satunya organisasi yang berhasil mempertahankan azas Islam, toch, belakangan banyak pilihan organisasi Islam. Ada KAMMI, ada HTI, ada IMM, ada PMII, Salafi, dan lainnya yang memiliki metode dan afiliasi model kegamaannya sendiri. Maka perjuangan HMI menjadi ‘kurang jelas,’ HMI mewakili Islam yang mana? Apalagi mengingat HMI bukan lahir dari afiliasi keagamaan tertentu, HMI lahir dari tradisi kompleks dinamika umat Islam “Tempat bernaung dari seluruh elemen umat islam pada zamanya”, maka HMI sulit mereproduksi identitas Islamnya apalagi kalau ditantang untuk mereproduksi afiliasi metode beragama, hingga mazhab-mazhab fiqih-nya, HMI mustahil untuk menjawabnya karena memang fungsi gerakanya tidak berada disana.

Di sinilah pentingnya untuk mengubah arahan, bukan dengan menonjolkan identitas, melainkan dengan memperkuat visi dalam gerakanya. HTI, misalnya sangat terbantu dengan cita-cita “Khilafahnya” mampu meberikan gambaran gerakan bagi para kadernya.

HMI sebenarnya sudah memiliki tujuan yang jelas “Terbinanya mahasiswa islam menjadi insan ulul albab…” Frase ini menunjukkan pentingnya segmentasi kader HMI, yaitu kader yang memiliki keresahan intelektual dan spiritual. Adapun “..,yang turut bertanggung jawab atas terbentuknya tatanan masyarakat yang diridhoi Allah SWT” menunjukan bahwa HMI harus berani mereproduksi gagasan dan cita-citanya termasuk strategi untuk mengaktualisasikan cita-citanya dalam dinamika perubahan. Setiap kader HMI, terutama para pengader harus mampu berimajinasi membayangkan konsepsi masyarakat yang diridhoi Allah SWT dan mereproduksi gagasanya untuk diimplementasikan dalam strategi-strategi perkaderan dan perjuanganya baik di HMI ataupun pasca ber-HMI melalui berbagai jalur perjuangan. Reproduksi kesadaran ke-masa depan-an di HMI memang tidak perlu diwujudkan secara sama, melainkan justru harus dilandasi dengan unsur unik dalam perbedaan masing-masing individu kader dengan raw material yang berbeda-beda. Setiap kader memiliki ruang gerak dan bekal yang berbeda, dan di sinilah setiap kader HMI dituntut menjadi inisiator perubahan bukan sebaliknya menjadi pengikut dari banyak sistem kesadaran yang lain.

Kemampuan kader untuk menyinergikan antara kesadaran praksis dan kesadaran kemasa depanan ini perlu untuk di-sintesa-kan dalam aktualisasi pergerakan HMI. Sehingga, ketika HMI mereproduksi elit-elit pemimpin, mereka bukan semata manusia yang mengikuti rekayasa arus kebijakan global saja, sebaliknya mampu secara independen melakukan terobosan-terobosan untuk menjawab problem-problem kontekstual yang dihadapinya.

Hafidz Arfandi