Tanggal 8 April 2013, mantan perdana menteri Inggris paling fenomenal, Margaret Thatcher menghembuskan nafas terakhir. Setelah berita kematiannya tersebar, beberapa orang berkumpul di Brixton dan Glasgow, kota tempat konflik antar kelas pernah terjadi. Bukan bersedih dengan membawa bunga, atau membuat prosesi doa perpisahan, justru mereka berpesta di bar, mengangkat bir sambil tersenyum lega atau ada yang berparade sepanjang jalan sambil berteriak “Maggie, Maggie, Maggie, dead, dead, dead!”. Apa salah Thatcher sehingga warga di negara-nya sendiri senang dengan kepergiannya?

Thatcher terkenal dengan kemampuanya meyakinkan kongres Inggris untuk mendukung kebijakan-kebijakan pro pasarnya. Keberpihakannya pada liberalisasi membuatnya di cap sebagai tangan kanan Milton Friedman di Eropa, disamping Ronald Reagan di Amerika. Guru besar Friedman mengajarkan pada tokoh-tokoh pemimpin negara di dunia untuk melepaskan ketergantungan dari subsidi yang memberatkan keuangan negara. Sektor sektor sosial seperti rumah sakit, pendidikan dan jaminan sosial bukan merupakan tanggung jawab negara, tapi diserahkan pada pihak swasta. Jelas liberalisasi ini ditentang habis-habisan oleh kaum sosial-demokrat di seluruh dunia, termasuk Inggris dengan Partai Buruhnya.

Pernah ketika Thatcher yang ingin negara melepaskan bantuan subsidi di sektor publik menjadi bahan ejekan di seluruh media Inggris. Pada waktu itu “susu” menjadi tema awal perlawanan terhadap kebijakan Thatcher yang dinilai sudah melampaui batas. Di sekolah-sekolah publik Inggris, para pelajar biasa diberi susu gratis saat makan siang. Tiba-tiba Thatcher mencabut subsidi susu gratis yang disambut dengan protes besar. Protes tersebut menandai awal proyek liberalisasi ekonomi Thatcher yang dibenci rakyat Inggris.

Kontroversi mengenai Thatcher tidak berhenti sampai disitu. Perang Falkland antara Inggris yang mengklaim bahwa pulau Fakland merupakan bagian kekuasaan Inggris dan Argentina menimbulkan gejolak politik di masa Thatcher berkuasa. Ini bukan perang biasa di tahun 1982, tapi ini perang perebutan keamanan di Amerika Latin, kurang lebih Inggris ingin membuktikan ke dunia terutama sekutunya Amerika Serikat bahwa Inggris masih menjadi negara penguasa di dunia yang tidak bisa diremehkan.

Kini setelah Thatcher selesai berkuasa, Inggris berubah bentuk. Rakyat yang kecewa terhadap proyek-proyek liberalisasi di masa kekuasaan Thatcher bersorak-sorai di bar. Karena ini adalah masa dari Partai Buruh yang berkuasa, masa kembalinya jaminan sosial, subsidi, dan naiknya pajak untuk orang kaya menjadi hal yang membanggakan rakyat Inggris. Karena rumah sakit gratis, dan pengangguran pun diberi tunjangan. Semua bahagia kecuali Borjuis.

Mungkin jauh di Indonesia, kematian Thatcher dan hujatan terhadapnya membuat beberapa ekonom kita bersedih. Karena betapa banyaknya orang Indonesia yang begitu mempertahankan prinsip liberalisme, perdagangan bebas, tapi terbukti gagal justru di jantung negara modern, Inggris.

Selamat tinggal Thatcher, selamat tinggal Liberalisme!

REDAKSI