Resume Diskusi Publik Indonesia Tanpa Parpol

Panitia Peringatan Milad HMI ke 66 HMI Cabang Sleman telah mengadakan Diskusi Publik dengan tema “Indonesia Tanpa Parpol : Masa Depan Gerakan Sipil di Indonesia”, diskusi ini bertujuan untuk mengoreksi keadaan politik Indonesia hari ini, dimana peran parpol semakin tidak mengakar di masyarakat, partai hampir-hampir kehilangan relevansinya, sehingga proses demokrasi yang terjadi di Indoensia hanya menjadi demokrasi prosedural saja, kita disibukan oleh Pemilu dan kertas suara, bukan esensi partai itu sendiri.

Diskusi dilaksanakan pada hari sabtu, 13 April 2013 di auditorium Fakultas Peternakan UGM. Diskusi kali ini menghadirkan dua pembicara yakni Eko Prasetyo, S.H dan Hafidz Arfandi dari HMI Cabang Sleman.  Materi pertama disampaikan oleh Hafidz Arfandi, dia memaparkan proses pendewasaan demokrasi pasca turunnya Soeharto, reformasi yang sejatinya diharapkan menjadi gerbang kesejahteraan rakyat dan terbukanya keran demokrasi di Indonesia malah belum menemui titik temunya. Demokrasi hanya dilaksanakan sebagai seremonial dan prosedural saja, tidak dilakukannya suatu pemotongan generasi di Indonesia pasca Orba menjadikan adanya raja-raja kecil yang membangun sistem oligarki di Indonesia. Pucuk-pucuk pemerintahan dipegang oleh sebagian kalangan saja dan cenderung bersifat kartel.

Jika di zaman Orde Lama partai membawa ideologi sebagai acuan utama pergerakan, sekarang partai mudah sekali didirikan walaupun tanpa ada dasar ideologi sama sekali (kalaupun ada hanya sebatas formalitas). Partai-partai sekarang cenderung memburu kekuasaan dan kekayaan, serta memakai jargon atas nama rakyat sebagai pendulang suara saja. Sementara itu pembicara ke-2, Eko Prasetyo menekankan bahwa sekarang terjadi kebuntuan ide-ide segar yang terjadi di kalangan mahasiswa, ide-ide di mahasiswa tersumbat karena buntunya saluran penyaluran di kampus-kampus. Saat ini hampir mustahil untuk menemukan adanya ide-ide politik di kalangan mahasiswa karena makin padatnya jadwal akademik mahasiswa dan makin monotonnya pola pikir. Wajar jika kader-kader parpol masa depan yang disumbang dari kampus tidak berkualitas.

Pola dan tingkah politisi di republik ini yang makin tidak karuan, menurut Eko, turut mempercepat menurunnya pamor parpol di mata rakyat. Parpol seakan-akan tidak perlu di dukung rakyat toh  mereka pun tidak memberikan pengorbanan yang besar bagi rakyat. Hal tersebut ditambah dengan banyaknya politisi-politisi yang menjadi tahanan KPK sehingga makin membuat istilah politik buruk di mata rakyat. Proses regenerasai kader parpol yang tidak jelas dan hanya menggaet artis-artis ataupun orang populer menunjukkan adanya pola oportunistik di kalangan parpol.

Dengan dihadiri 39 peserta dari berbagai gerakan ekstra dan intrakampus, diskusi ini dilanjutkan tanya jawab antara pembicara dan peserta. Diskusi berlangsung hangat karena ada pertarungan ide-ide di dalamnya. (k.m)