Menlu Denmark, Villy Sovndal tengah berbicara di hadapan mahasiswa UI (foto: @DubesDenmark)

HMINEWS.Com – Menteri Luar Negeri Denmark, H.E Villy Sovndal berbagi pengalaman kepada Indonesia tentang pemberantasan korupsi, hingga menjadikan negara tersebut menempati urutan pertama sebagai negara terbersih dari korupsi. Ia hadir atas undangan Central Electoral & Political (CEPP, Pusat Kajian Politik) Universitas Indonesia (UI) di sela kunjungannya di Indonesia, Selasa (16/4/2013).

Menurut Sovndal, salah satu kunci keberhasilan Denmark menerapkan sistem integritas nasional adalah dengan mengharuskan setiap kementerian melaporkan pengeluaran termasuk biaya perjalanan dan hadiah setiap bulannya. Kemudian independensi dan efisiensi kejaksaan mereka juga berperan dalam menekan kasus korupsi di negara berpopulasi sekitar 5,5 juta orang tersebut.

Selain itu, regulasi protektif terhadap para pemberi informasi atau “whistleblowers,” pengurangan risiko terhadap penyelewengan dalam pengadaan publik serta membentuk peraturan soal biaya politik dan partai politik juga berperan besar untuk membangun sistem integritas nasional.

Peran aktif masyarakat sipil dan media membawa berbagai isu yang memberikan pengetahuan kepada publik, dengan sendirinya menjadi penjaga demokrasi sekaligus pelindung dari berbagai kepentingan publik, sehingga demokrasi dipastikan benar-benar hidup. Di Denmark, ini berarti para media yang akuntabel memiliki akses terhadap dokumen resmi negara dan komunikasi resmi.

Inti dari semuanya adalah, “Transparency, transparecny, transparency,” kata Sovndal menjawab pertanyaan mahasiswa.

Dalam diskusi bertajuk “Democracy and Political Corruption” tersebut, dosen FISIP UI, Nuri Soeseno, menyatakan korupsi merupakan penghambat utama pembangunan dan pertumbuhan ekonomi suatu negara karena efeknya yang begitu luar biasa.

Pada era Orde Baru, ketika tampak seolah tidak ada peluang untuk keluar dari jerat korupsi kroni, ia ditanya bagaimana bangsa Indonesia akan bisa mengatasi hal tersebut. “Jika kita bisa jatuhkan Suharto, kita bisa melewati masa sulit ini,” ujarnya.

Tampil juga sebagai pembicara, Bambang Harimurti (Tempo), Dadang Trisasongko (Transparency International Indonesia), dan Dr Chusnul Mariyah sebagai moderator.