Konon, pernah serombongan mahasiswa Iran menemui Imam Khomeini. Kemudian mahasiswa tersebut bertanya tentang buku Ali Syari’ati yang mungkin direkomendasikan oleh Imam Khomeini. Lalu spontan Imam menjawab: “Baca buku-buku karya Muthahari.” Sampai tiga kali berulang-ulang sang Imam menyuruh mahasiswa tersebut untuk mengenal buku Muthahari terlebih dahulu. Hal tersebut dikarenakan buku-buku yang ditulis oleh Ali Syari’ati memiliki beragam perspektif yang mungkin sering disalahpahami oleh kaum awam, termasuk para mahasiswa. Sebagai contoh, dalam buku Ummah dan Imamah, Ali Syari’ati dengan tegas mengatakan bahwa tujuan dari revolusi Islam adalah menciptakan masyarakat tanpa kelas. Apakah Ali Syari’ati seorang marxis? Disatu sisi ia menolak konsep kepemimpinan ala Komunisme? Ataukah ia seorang pemikir Sy’iah yang anti-mullah? Atau tidak diantara keduanya? Pertanyaan itu yang hendak dijawab dalam buku setebal 256 halaman ini.

Diantara 20 buku judul buku Ali Syari’ati yang diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia, buku ini merupakan buku dengan terjemahan terbaik dan mudah dipahami bahkan bagi pembaca awam yang belum mengenal sosok Ali Syari’ati.

Secara garis besar, Ummah dan Imamah adalah prinsip akidah Islamiyah yang paling penting dan terkenal, khususnya dikalangan mazhab Syi’ah. Pokok permasalahan terbesar adalah makin jauhnya Islam dari nilai-nilai intelektual, perubahan, dan kehadiran Imam teladan diantara Ummah. Dengan cerdas beliau menulis “Sejak masa Sayyid Jamaluddin Al-Afghani, kita lihat Islam sudah tidak lagi seperti apa yang tampil di permukaan. Kita ketahui bahwa di dalamnya terdapat banyak sekali sendi-sendi yang meragukan—seperti yang kita saksikan dewasa ini—atau akidah tersebut bercampur aduk dengan unsur-unsur budaya asing”.

Kritik tajam Ali Syari’ati dalam membandingkan gerakan kaum Protestan yang disebut sebagai pembaharu dunia dengan keadaan kaum Muslim yang jauh tertinggal, membuka mata pembaca terhadap kesalahan-kesalahan berpikir yang selama ini mengganggu jalannya perkembangan ilmu di kalangan Muslim.

Konsep Imam sendiri dalam mempersiapkan revolusi Islam menurut Syari’ati memiliki posisi sentral: “Imam mempunyai peranan penting dalam kehidupan, dan beriman kepada Imam memiliki makna yang besar dalam kehidupan para pemikir dan cendekiawan, khususnya para pengkaji masalah-masalah sosial…Imam juga dapat diartikan sebagai Nabi bersenjata yang baru.”. Buku ini sangat direkomendasikan untuk dibaca bagi aktivis mahasiswa yang konsern dalam gerakan sosial. Ali Syari’ati pantas disebut sebagai pemikir Iran terbesar di abad ini, karena penjelasan tentang konsep-konsep dasar Ummah dan Imamah-nya sangat terperinci dan detail, dari cara memilih seorang Imam, kepatuhan terhadap Imam, dan strategi taktis lainnya untuk menggerakan Ummah menuju revolusi.

Pengarang DR. Ali Syari’ati
Penerjemah Afif Muhammad
Penerbit RausyanFikr Institute
Jumlah halaman 256 hal.
Tahun terbit 2012
Buku Tersedia di TB. Rausyanfikr YogyakartaJl. Kaliurang Km 5,6 Gg. Pandega Wreksa No.1B

Resensi oleh: Darsono