Assalamu’alaikum. Sebagai seorang khalifah dan seorang pelajar, dengan rasa rendah hati saya ingin mengucapkan syukur alhamdulillah kepada Allah Swt dan kemudian Grup Penjejak Tamadun Dunia (GPTD) UNISEL Malaysia yang telah memberikan kesempatan dan peluang kepada saya dalam projek “Kembara Akal Budi dan Meneladani Legasi Hamka.” Ini adalah pengalaman pertama saya menjejak ketokohan para ilmuan dan para ulama.

Banyak pengalaman dan cabaran sebelum dan selepas ekspedisi Hamka dijalankan yang memberi banyak kenangan berharga dan akan senantiasa segar di ingatan saya yang hampir membuat saya putus semangat untuk meneruskan projek ekspedisi Hamka, tetapi syukur alhamdulillah semangat saya ibarat api yang membara . Terima kasih kepada ibu-bapa saya, pensyarah UNISEL, rakan-rakan UNISEL, dan tidak lupa kepada penduduk Kota Puteri yang telah memberi sumbangan dana kepada saya untuk menjalankan ekspedisi ini dengan ucapan Jazakallahu Khairan Katsira.

Pada 7 Maret 2013, anggota Ekspedisi Hamka sebanyak 7 orang berangkat ke Jakarta, Indonesia untuk memulai misi. Sebelum perjalanan menaiki pesawat,anggota Ekspedisi Hamka membuat perbincangan ringkas dan nasihat-nasihat yang berguna untuk menjadi bekalan sepanjang bermusafir mencari ilmu dan pengalaman di negara jiran (Indonesia). Perjalanan dari Malaysia ke Indonesia mengambil masa lebih kurang 2 jam. Setibanya kami di Bandara Soekarno Hatta kami di jemput oleh Pak Irfan, beliaulah yang banyak membantu kami sepanjang misi di Jakarta berlangsung. Kami menginap di sebuah rumah yang cukup istimewa, yaitu rumah keluarga besar Pelajar Islam Indonesia (PII). Ekspedisi Hamka juga membuat jaringan-jaringan daripada mahasiswa-mahasiswa Indonesia seperti Persatuan Islam Indonesia(PII), Himpunan Mahasiswa Islam(HMI-MPO), KAMMI, dan KAHFI.

Tentang Hamka

Jujur saya katakan selama ini saya hanya terfikir untuk mengunjungi makam Rasulullah dan tidak pernah saya terfikir untuk mengunjungi makam ulama-ulama besar dan tersohor. Tetapi alhamdulillah saya diberi kesempatan. Kami mengunjungi makam Almarhum Hamka yang terletak di Tanah Kusir, Jakarta Selatan. Hamka meninggal pada 24 Juli 1981 akibat stroke. Kepergiannya menjadi kehilangan besar bukan saja rakyat Indonesia tetapi seluruh rakyat Nusantara termasuklah negara kita Malaysia. Hal ini karena kelebihan beliau yang cukup mengagumkan dan serba bisa meski tidak berpendidikan formal yang tinggi. Beliau seorang sastrawan, sejarawan, ilmuwan, dan seorang ulama besar yang banyak memperjuangkan Islam. Di makam Tanah Kusir juga terdapat makam pejuang-pejuang Indonesia seperti Syafruddin Prawiranegara, beliau adalah pejuang pada masa kemerdekaan Republik Indonesia yang juga pernah memegang jabatan sebagai Presiden/Ketua PDRI (Pemerintah Darurat Republik Indonesia) ketika pemerintahan Republik Indonesia di Yogyakarta jatuh ke tangan Belanda saat Agresi Militer Belanda II 19 Desember 1948.

Selesai dari makam buya Hamka, anggota ekspedisi bergerak ke destinasi seterusnya yaitu Masjid Agung Al-Azhar yang dibina oleh 14 tokoh Masyumi. Istimewanya di Masjid Agung Al-Azhar ada kursus Al-Quran, pengetahuan agama, dan berbahasa arab bersesuaian dengan hadis yang mengatakan “Bacalah Al-Quran. Sesungguhnya ia akan datang pada hari kiamat menjadi pemberi syafa’at bagi orang yang bersahabat dengannya” (HR. Muslim).

Keluarganya

Di Masjid Agung Al-Azhar kami bertemu dengan anak kandung perempuan Hamka yaitu Ibu Azizah dan cucu-cucu Almarhum Hamka yang bakal mewarisi bakat beliau. Pertama kali saya melihat Ibu Azizah terpancar sekali jiwa keibuannya dan sifatnya yang tulus serta mesra dengan masyarakat sekeliling yang terhasil dari didikan kepribadian Hamka yang begitu menyayangi anak-anak dan cucu beliau. Ibu Azizah banyak menceritakan kepada kami tentang kepribadian Hamka dari kecil hingga beliau wafat, dan wasiat serta nasihat Almarhum Hamka buat anak-anak dan cucu-cucu beliau. Ketika kami tanyakan kepada Ibu Azizah perasaan beliau menjadi seorang anak dari seorang ulama yang tersohor, beliau menjawab “Biasa-biasa saja seperti anak-anak lain.” Hal ini karena Hamka membesarkan mereka sebagai seorang bapa dan bukan dengan imej seorang ulama, dan beliau juga mengajar anaknya dengan hidup serba sederhana.

Masih segar di ingatan saya yang Ibu Azizah katakan tentang pesan Hamka kepada beliau yaitu “Jangan jadi seperti batu yang bila-bila masa akan tenggelam dan tidak ada yang akan menolong, tetapi jadilah seperti air yang ringan dan boleh mengalir di celah-celah batu mengikut liku-liku arus.” Pesanan Ibu Siti Raham, yaitu istri Hamka buat anaknya, Ibu Azizah pula “Cerminlah mukamu dan ingatlah kamu bukan siapa-siapa, kamu cuma anak Hamka” cukup tersirat maksudnya tetapi cukup bermakna bagi Ibu Azizah yang hingga kini pesanan tersebut masih segar di ingatan beliau. Rugi rasanya jika nasihat-nasihat berguna seperti ini tidak kita ambil untuk diaplikasikan dalam diri dan kehidupan kita.

Selepas itu kami juga bertemu dengan anak lelaki Hamka yaitu Pak Rusydi dan keluarganya. Pak Rusydi adalah anak yang paling rapat dan senantiasa bersama Hamka ke mana saja beliau pergi. Dengan kesempatan ini kami mengambil peluang untuk beramahtamah dengan Pak Rusydi mengenai Hamka. Dari situ saya dapat mengenali Almarhum Hamka dengan lebih dekat lagi.

Tangga Spiritual dan Intelektual Hamka.

Hamka sewaktu kecil adalah seorang yang cukup nakal, dengan usia yang cukup muda yaitu 17 tahun beliau sudah mengembara karena tersinggung dengan kata-kata ayahnya yang mengatakan “Kau memang anak tidak berguna.” Dari situ Hamka meninggalkan kampungnya tanpa sepengetahuan sang ayah, beliau lari ke Mekah untuk mencari ilmu. Berbeda dengan anak zaman sekarang yang apabila dimarahi ibu bapa anak tersebut lari dari rumah dan pergi ketempat-tempat maksiat yang merusak hidup anak-anak muda.

Hamka juga pernah dipenjarakan selama lebih kurang 2 tahun 7 bulan atas sebab tuduhan dan fitnah. Alhamdulillah setiap yang terjadi pasti ada hikmahnya, hikmah yang Allah SWT ingin berikan kepada Hamka ialah selama di penjara beliau telah menghasilkan Tafsir Al-Azhar yang terkenal dan mudah difahami oleh masyarakat Nusantara. Begitu banyak cobaan yang dihadapi Hamka tetapi semangatnya untuk meneruskan pejuangan sangat tinggi.

Karya-karya Hamka tidak tenggelam begitu saja, tetapi terus dihidupkan oleh cucu beliau yaitu Yusron, anak Pak Rusydi. Karya-karya beliau dicetak dan diterbitkan oleh Pak Yusron karena merasa sayang jika karya-karya itu dibiarkan begitu saja, karena karya-karya Hamka banyak menyentuh pengajaran hidup dan ilmu yang bermanfaat untuk kita. Pustaka Panjimas adalah pusat pencetakan dan penerbitan bagi karya-karya Hamka. Dalam karya beliau bertajuk “Kedudukan Perempuan Dalam Islam” menunjukkan bahwa begitu tingginya Hamka mengangkat martabat dan hak-hak istimewa perempuan dalam Islam.

Memang benar pejuangan dan sumbangan Hamka tidak banyak yang mau tahu, terutamanya kita sebagai mahasiswa, dan sebagian masyarakat, bukan saja di Malaysia tetapi juga di negara Hamka sendiri (Indonesia). Tetapi Alhamdulillah pada tahun 2011 beliau telah diangkat sebagai pahlawan nasional Indonesia yang banyak berjasa. Dengan usia saya yang masih muda dan masih mencari ilmu serta pengalaman, semangat Hamka akan saya jadikan satu semangat untuk diri saya dalam meneruskan perjuangan.

Pentingnya Napaktilas Jejak Tokoh

Ada juga suara-suara sampingan yang mengatakan “Kenapa mesti bersusah payah pergi jauh untuk menjejaki ketokohan para ilmuan dan para ulama? Kenapa tidak search saja di google?” Sebagai mahasiswa yang berilmu rugilah rasanya jika kita hanya bergantung kepada maklumat di ujung jari (googling) karena pengalaman menjejak ketokohan adalah pengalaman jangka panjang kita dibanding dengan search di google. Lebih senang saya ambil contoh kenapa kita sebagai seorang pelajar perlu pergi merantau jauh mencari ilmu? kan lebih senang duduk di rumah depan komputer dan search saja apa-apa yang kita perlukan. Maka dengan itu, kita kembali kepada pepatah “Tuntutlah ilmu walau sampai ke negeri China.” Pepatah itulah yang ingin ditunjukkan Grup Penjejak Tamadun Dunia (GPTD) kepada setiap anggotanya dan disampaikan kepada para pelajar serta masyarakat.

Terdapat persepsi sebaian manusia yang berfikir jika kerja-kerja yang melibatkan aktivitas keluar negeri pasti untuk tujuan melancong atau berlibur. Sayangnya persepsi itu adalah salah, Ekspedisi Hamka ini dijalankan demi mencari ilmu dan pengalaman, karena rugi rasanya jika kita keluar negara semata-mata untuk melancong atau berhibur karena pencarian dana banyak memberi saya arti kesusahan dan Alhamdulillah sekaligus membakar semangat saya untuk terus menjalankan Ekspedisi Hamka.

Syukur Alhamdulillah Ekspedisi Hamka dapat diselesaikan dengan berhasil. Semoga travelog yang saya tulis hasil pengalaman saya memberi kita semangat dan menguatkan serta meringankan kaki kita untuk terus menjejak ketokohan para ilmuwan atau ulama. Insya Allah kita bertemu lagi dalam misi menjejak ketokohan dan keperibadian Hamka yang akan datang. Yang baik datang dari Allah SWT dan yang buruk datang dari kelemahan diri saya sendiri sebagai seorang manusia yang serba kekurangan. Wassalam.

Azmah Aede, Anggota Eskpedisi Hamka GPTD Unisel Malaysia