Daood Hamdani*

Ottawa – Ketika Muslim Kanada merayakan Maulid Nabi pada 12 Februari lalu, ada sesuatu yang sangat berbeda yang terjadi dalam peringatannya di ibukota negara, Ottawa. Bila biasanya mereka hanya duduk di kursi hadirin, kadang berada di belakang tirai, dan mendengarkan para penceramah lelaki, Muslimah kali ini tampil menjadi pusat perhatian. Dari pembawa acara hingga pembicara kunci, para Muslimah menarik perhatian seisi ruangan – yang terdiri dari para anggota legislatif, diplomat, tokoh masyarakat dan warga Kanada dari semua agama – di Government Conference Centre.

Tanggapan positif yang melimpah setelah acara ini belum pernah terjadi sebelumnya dalam sejarah 30 tahun peringatan Maulid di Ottawa.

Peringatan Maulid Nabi memainkan peran penting dalam membantu komunitas Muslim yang umumnya imigran untuk berbaur dengan masyarakat Kanada yang lebih luas. Acara ini biasanya digelar di masjid atau musala dan jarang menarik minat penganut agama-agama lain. Namun, pada 2002, berkat upaya para tokoh masyarakat dan dukungan beberapa anggota parlemen Kanada,warga Muslim bisa menggunakan gedung parlemen sebagai tempat perayaan.

Menjelaskan arti penting perubahan ini dalam sambutannya, Jaffar Hashmi, Ketua Umum Ottawa Shia Islamic Association dan kordinator acara, mengatakan bahwa, “Peralihan [dari tempat ibadah] ke Gedung Parlemen bukanlah hanya perubahan tempat acara, melainkan lahir dari niatan kami untuk mewujudkan dan menyebarkan nilai-nilai universal Islam kepada masyarakat Kanada yang lebih luas.” Fokus tahun ini adalah kesetaraan gender dan bagaimana kesetaraan ini dipraktikkan dalam keluarga Nabi.

Istri dan putri Nabi Muhammad merupakan tokoh-tokoh kunci di berbagai peristiwa tranformatif dalam sejarah Islam. Misalnya, orang pertama yang Nabi temui untuk konsultasi setelah menerima wahyu pertamanya adalah istrinya, Khadijah. Putrinya, Fatimah, merupakan perempuan pertama sepeninggalnya yang menentang negara dengan mempertanyakan tafsirannya tentang hukum warisan pada masa awal Islam. Perjuangannya menuntut keadilan meretas jalan bagi para Muslimah lain untuk angkat bicara menuntut hak mereka. Banyak tokoh sosial dan politik Muslim, termasuk mantan Ibu Negara Pakistan, Nusrat Bhutto, memetik inspirasi dari putri Rasulullah.

Namun, pengaruh-pengaruh budaya yang tidak dipraktikkan pada masa awal Islam mulai merembes ke dalam keyakinan agama dalam masyarakat Islam konservatif dan menimbulkan pandangan bahwa kebutuhan seorang perempuan akan ketergantungan sebagai seorang istri hanya bisa dipenuhi dengan mengorbankan semua aspirasi lain di luar rumah.

Pandangan-pandangan patriarkal ini kini semakin ditentang oleh umat Muslim di seluruh dunia. Misalnya, para cendekiawan Muslimah seperti Lale Bakhtiar dari Amerika Serikat dan Nevin Reda dari Kanada telah menggugat sebagian penafsiran tradisional atas ajaran Islam, termasuk peran perempuan dalam lembaga-lembaga keagamaan.

Kepemimpinan Muslimah sangat penting dalam mengubah sikap perempuan. Canadian Council of Muslim Women dan Ottawa Muslim Women’s Organisation khususnya telah melakukan berbagai langkah untuk mengubah pandangan perempuan tentang peran mereka dalam masyarakat Kanada. Anggapan-anggapan yang sudah tertanam mulai berubah, meskipun secara perlahan.

Para Muslimah muda menentang representasi peran perempuan secara patriarkal dalam masyarakat. Model keluarga tradisional di mana lelaki menjadi pencari nafkah, sementara perempuan menjadi ibu rumah tangga saja, tidak lagi secara memadai menggambarkan realitas kehidupan umat Muslim di Kanada. Menurut data pemerintah, jumlah ibu-ibu dengan balita di rumah yang masuk ke bursa kerja cukup banyak, menyamai atau melampaui jumlah yang ada di negara-negara Eropa, terkadang mencapai sekitar 50 persen. Bahkan, sebagian perempuan ini adalah pencari nafkah utama dalam keluarga.

Kendati ada kemajuan dalam adaptasi sosial dan budaya, ide untuk mengintegrasikan perempuan dalam acara-acara dan lembaga-lembaga keagamaan masih bisa dikembangkan, sebagian karena banyak pemuka agama lahir dan dididik dalam masyarakat yang konservatif atau yang secara budaya berbeda dan masih bergelut dalam menemukan cara untuk merespon kebutuhan-kebutuhan kontemporerjamaah mereka di Kanada.

Namun demikian, semakin banyak Muslim di Kanada yang terus mengupayakan integrasi perempuan lebih jauh. Dan tak ada kesempatan yang lebih tepat untuk menunjukkan komitmen mereka pada kesejajaran dan kesetaraan gender daripada peringatan kelahiran Nabi, yang mentransformasi masyarakat yang sangat patriarkal dan menghormati hak-hak perempuan yang setara.

*Daood Hamdani adalah penulis buku In the Footsteps of Canadian Muslim Women 1837-2007 dan The Al-Rashid: Canada’s first mosque 1938. (CGNews)