HMINEWS.Com – Diperlukan pemimpin berkarakter Qur’an untuk negeri bernama Indonesia. Seperti apa pemimpin berkarakter Qur’an itu? Berikut hasil Talkshow Pemimpin Berkarakter Qur’an yang digelar oleh Young Islamic Leaders (YI-Lead) pada penutupan Islamic Book Fair (IBF) di Istora Senayan Jakarta, Ahad (10/3/2013).

“Pemimpin haruslah adalah orang-orang yang mempunyai hikmah, sebagaimana tercantum dalam sila keempat Pancasila, Kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan perwakilan. Hikmah itu dari Allah Konsep ini sama dengan konsep bahwa pemimpin selayaknya adalah seorang filosof, sebagaimana sering diterjemahkan bahwa hikmah tersebut merupakan kebijaksanaan dan kearifan tinggi yang dimiliki seseorang. ‘Barangsiapa diberi ilmu hikmah, bearti dia diberi kebaikan yang sangat banyak,” demikian Adhyaksa mengutip ayat Al Quran.

Menurut mantan Menteri Pemuda dan Olahraga tersebut, pemimpin sekarang sudah terlalu jauh menyimpang, tidak sebagaimana era kekhalifahan yang selalu melibatkan ulama dalam menentukan arah pembangunan.

Wakil Menteri Agama, Nasaruddin Umar , menyampaikan, kondisi tersebut terjadi juga karena semakin langkanya para ulama. “Tiap tahun bisa lahir seribu professor, tetapi belum tentu lahir satu orang ulama,” kata Nasaruddin.

Selain itu, lanjutnya, para ulama sekarang kurang bisa menjaga diri (muru’ah), sehingga tidak lagi mampu menjadi panutan umara (penguasa) dan umat. Namun, repotnya, partai-partai Islam yang ada kini, justru di tingkatan elitnya malah menjadi contoh dari para ‘pendusta agama,’ yaitu memperkaya diri sendiri dan tidak peduli dengan kaum miskin dan anak-anak yatim, sementara di kalangan bawah selalu didengungkan sebagai perjuangan. “Di bawah bicaranya jihad, tetapi di atas bicaranya uang,” ujar Syafii Antonio.

Menurut pemaparan Burhanuddi Muhtadi, semua partai politik sekarang bergerak ke tengah, termasuk partai politik ‘Islam’. Semua ramai-ramai mengaburkan ‘jenis kelaminnya’ justru di saat umat membutuhkan figur yang konsisten, sehingga hal menjadikan umat kehilangan teladan. Para elite partai tidak mampu memberi teladan yang baik, karena justru merekalah yang paling berjarak antara omongan dengan perbuatannya.

“Retorika dengan kesehariannya tidak nyambung. Lack of integrity yang mengakibatkan frustrasi massal umat. Padahal dalam Al Qur’an ditegaskan kabura maqtan ‘indallahi an taqulu ma la taf’alun. ‘amat besar murka Allah jika kalian mengatakan apa yang tidak kalian perbuat,” ujar Burhan mengutip ayat.

Kata Bahtiar Nasir, dari berbagai kondisi tersebut, harapannya tinggal pada generasi muda yang mau bergerak menyongsong perubahan. “Kekuasaan itu tidak ditunggu, tetapi direbut. Indonesia merdeka tidak melalui pemilu, naiknya Sukarno tidak melalui pemilu, demikian juga dengan Suharto dan Habibi,” kata dia.