HMINEWS.Com – Meninggalnya mahasiswi Universitas Indonesia, Anisa Azward karena tidak mendapat perawatan serius setelah loncat dari angkot. Rumah Sakit Atmajaya tidak menangani Anisa di ICU karena pihak keluarga tidak mampu memberi uang muka Rp 12 juta.

Sebagaimana diketahui, Anisa loncat dari angkot yang ditumpanginya karena tidak melewati jalur biasa, Ahad (10/2/2013). Ia sudah meminta turun, tetapi sopir tetap melajukan angkot tersebut dan membuat gadis Minangkabau tersebut takut diperkosa, mengingat adanya sejumlah kasus perkosaan dalam angkot beberapa waktu lalu.

Anisa ditemukan petugas yang sedang patroli dan dibawa ke RS Atmajaya. Namun di rumah sakit tersebut, karena alasan ekonomi di atas, Anisa lantas dirujuk ke RS Koja, hingga akhirnya menghembuskan nafas terakhir di RS Koja karena luka yang terlalu parah.

Seharusnya pihak rumah sakit mendahulukan perawatan pasiennya daripada selalu menomorsatukan bayaran. Apalagi biaya tersebut sebenarnya bisa diambilkan dari CSR rumah sakit. Menurut Okky Asokawati anggota Komisi IX DPR , Undang-Undang Nomor 44 Tahun 2009 tentang Rumah Sakit, Pasal 29 huruf (f ) menyebutkan, rumah sakit harus melaksanakan fungsi sosial dengan memberikan fasilitas pelayanan pasien tidak mampu atau miskin serta pelayanan gawat darurat tanpa uang muka.

“Namun, dalam praktiknya undang-undang yang sudah demikian adil ternyata mandul. Tidak berfungsi sama sekali,” ujarnya.

Akan tetapi pelaksanaan UU tersebut mandul karena pemerintah belum membuat PP sebagai aturan turunan atau pelaksananya. Sementara rekan Okky dari komisi yang sama, Poempida Hidayatullah, Senin (11/2) menegaskan akan memanggil pihak rumah sakit dan IDI untuk meminta penjelasan masalah tersebut.