Refleksi Milad HMI ke-66 

Berdasarkan kalender Hijriyah milad Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) jatuh pada  tanggal 14 Robiul Awal 1434, bertepatan dengan tanggal 26 Januari 2013 kemarin. Tanggal tersebut, 12 Rabi’ul Awal, adalah juga merupakan tanggal kelahiran Nabi Muhammad yang menjadi hari yang sangat dikenang oleh seluruh kalangan umat Islam.

Namun pemilihan peringatan milad HMI antara  Hijriyah dengan Masehi bukanlah yang urgent untuk diperdebatkan apalagi sampai harus bersitegang dalam menentukan benar atau salahnya tindakan itu. Karena setiap perdebatan hanya akan menguras energi dan waktu, dan tak jarang  perdebatan tidak menghasilkan apa-apa kecuali menambah permasalahan baru.

Hal yang mungkin lebih baik untuk menjadi perhatian semua orang khususnya kader HMI adalah bagaimana mengembalikan arah gerak HMI sesuai dengan khittah-nya yaitu mampu menjadi inisiator terbentuknya sebuah masyarakat yang penuh dengan keadilan dan persaudaraan dalam bingkai kemuliaan Islam.

Upaya membangun masyarakat yang ideal seperti itu haruslah terlebih dahulu dimulai dari mempersiapkan individu-individu yang berkarakter kuat dengan kapasistas ilmu yang mumpuni. Melalui individu-individu inilah harapannya masyarakat bisa diarahkan dan diberikan pencerahan dalam memandang esensi diri dalam sebuah realitas kehidupan yang pada akhirnya membawa manusia kepada fitrahnya sebagai seorang hamba yang taat dan paham peran dan fungsi di dalam masyarakat.

HMI dalam posisinya sebagai organisasi perkaderan dan perjuangan, harus terus membina segenap manusia agar memastikan tugas keumatan itu suatu saat bisa diinisiasi oleh kader-kader HMI. Namun pertanyaan yang kemudian timbul adalah sejauh mana seorang kader memahami hakikat perkaderan dan perjuangan itu? Sudahkah kader-kader HMI menerapkannya? Kedua pertanyaan ini sebenarnya tidaklah sulit untuk dijawab seandainya setiap kader membaca dan mengkaji isi pedomannya terutama Khittah Perjuangan.

Karena di dalam Khittah Perjuangan HMI telah dijabarkan pengertian hakekat perkaderan dan perjuangan secara jelas. Perkaderan HMI dimaknai sebagai upaya peningkatan kualitas anggota-anggotanya dengan memberikan pemahaman ajaran dan nilai kebenaran Islam secarah penuh hikmah, kesabaran dan kasih sayang. perkaderan tersebut meliputi pembinaan sikap serta penambahan pengetahuan dan keterampilan yang memungkinkan kader HMI tampil sebagai sosok khalifah Allah di muka bumi. Sedangkan hakekat perjuangan HMI adalah kesungguhan melaksanakan ajaran Islam pada kehidupan masyarakat secara bertahap dan konsisten di seluruh aspeknya.

Sehingga, jika merujuk pada penjabaran Khittah Perjuangan di atas maka perkaderan bukanlah hanya kegiatan LK1, LK2, LK3 saja, atau kegiatan-kegiatan yang hanya bersifat formal. Bahkan ketika seorang kader diamanahi HMI dan mampu melaksanakan perannya secara baik dalam sebuah kepengurusan ataupun dalam lingkup yang lebih kecil kepanitian itu sudah dikatakan sebagai sebuah perkaderan. Ikhwanushofa bahkan lebih sederhana memaknai perkaderan, menurut beliau perkaderan itu adalah persoalan mendidik. Baik mendidik diri sendiri maupun mendidik sesama anggota.

Menjalankan perkaderan sama persis sepeti menjalankan sistem pendidikan, ada sistem, ada pihak yang berfungsi sebagai orang yang mendidik/guru dan ada pihak yang sebagai orang yang dididik/murid. Dalam posisi inilah sebenarnya kader-kader yang telah mengikuti Senior Course HMI dan dibaiat menjadi pengader itu berperan besar. Merekalah yang akan mengawal jalannya perkaderan walaupun pada dasarnya perkaderan juga harus dikawal oleh seluruh kader, hanya saja porsi untuk pengader lebih besar.

Pengader bukan saja orang yang diminta untuk berusaha miningkatkan keilmuan dan keterampilan kader tetapi juga merupakan sosok guru di HMI. Sebagaimana seorang guru, pengader haruslah menunjukan keteladanan bagi murid-muridnya. Tidak hanya itu, bahkan Imam Ghazali dalam kitabnya ‘Ihya Ulumuddin’ menggambarkan sosok seorang guru itu harus memperlihatkan kebaikan, simpati dan bahkan empati kepada muridnya serta memperlakukan mereka laksana anaknya sendiri. Penjabaran hakikat perkaderan di dalam Khittah Perjuangan sama persis dengan yang disampaikan oleh Imam Ghazali tersebut.

Karena, hanya dengan sistem dan pemahaman secarah penuh hikmah, kesabaran dan kasih sayang sajalah setiap kader  mampu menangkap apa sebenarnya nilai yang diperjuangkan HMI. Semua itu tidak akan bisa dilakukan dengan sikap keras. Menurut Ibnu Khaldun sikap keras dalam pendidikan dapat berakibat buruk bagi murid. Barangsiapa yang tumbuh dengan dalam kondisi pemaksaan dan penindasan maka hal itu dapat membuatnya menjadi orang keras dan berkepribadian sempit, kurang giat dan tidak bisa tumbuh dengan baik.  Hal ini juga akan membuatnya tidak jujur dengan memperlihatkan sesuatu yang tidak sesuai dengan apa yang ada dalam hati mereka karena khawatir mendapatkan penganiayaan.

Tetapi, sungguh sangat ironis peran pengader yang  cukup vital itu terkadang tidak mampu berfungsi dengan optimal, karena tidak ada yang mau menjadi sosok panutan ini. Kebanyakan orang takut untuk mengemban amanah yang mulia tersebut, padahal betapa berbahayanya ketika regenerasi pengader-pengader itu sudah tidak ada lagi, maka tidak ada lagi yang mampu menjaga sistem perkaderan yang ada, mengharapkan mereka yang hanya lulus LK 1 ataupun LK 2 adalah sulit, karena Seniour Course adalah pelatihan yang menuntut sebuah pilihan sadar dan ikhlas dalam ber-HMI.

Akhirnya, melalui momentum peringatan HMI yang ke 66 ini, kita harus mulai merefleksikan apa yang sedang terjadi dengan gerakan yang sama-sama kita cintai ini, sehingga kedepan kita mampu bersama-sama kembali membawa kemuliaan Islam hadir di tengah-tengah masyarakat tanpa harus takut untuk dicap sebagai fundamentalis, sehingga terbentuknya masyarakat yang diridhoi Allah bukanlan sebuah utopi. Wallau a’lam bisshawab

Rangga Permata

Kader HMI