Erika L. Sánchez

Chicago, Illinois – Istilah “feminis Muslim” boleh jadi terdengar paradoks bagi banyak orang akibat adanya tendensi media untuk memotret perempuan Muslim sebagai korban. Sebagai orang Latin yang sering kali merasa tersisih dari wacana feminis arus utama, saya menjadi tertarik kepada para feminis Muslim ketika saya perhatikan bahwa mereka juga absen dalam publikasi perempuan populer. Untuk memahami suara-suara yang tak terdengar ini, saya melakukan wawancara dengan sejumlah Muslim Amerika pekan lalu dan mendapati bahwa para perempuan ini jauh dari gambaran sebagai korban.

Dalam kenyataan, banyak Muslimah mengidentifikasikan diri sebagai feminis dan secara aktif memperjuangkan hak-hak mereka. Dalam kelompok ini, kita bisa mendapati perempuan-perempuan yang menafsirkan istilah ini secara berbeda-beda, dan terdapat banyak perdebatan seperti halnya yang bisa kita temukan dalam feminisme Amerika arus utama.

“Saya melihat adanya justifikasi [untuk feminisme] dalam agama saya. Dalam Quran dikatakan bahwa kita semua setara di mata Allah,” kata Fatemeh Fakhraie, pendiri Muslimah Media Watch. “Ini berarti bahwa martabat setiap orang itu penting.”

Namun, sebagian perempuan merasa tidak yakin dengan istilah “feminisme” meskipun mereka memperjuangkan kesetaraan gender. Mehrunisa Qayyum, pendiri PITAPOLICY Consulting & Blog, tidak mengidentifikasi diri sebagai seorang feminis Muslim, namun juga tidak menolak istilah ini. “Karena saya bicara tentang isu-isu yang mempengaruhi perempuan, seperti pemerkosaan sebagai kejahatan perang di Syria, misalnya, saya pun ikut dikategorikan. Namun, untuk membela mereka yang mengidentifikasi diri sebagai feminis Muslim, saya kira dua istilah ini bukannya saling berlawanan. Saya hanya menganggapnya mengandung pengulangan.”

Qayyum memberikan contoh dari penghormatan mendalam Nabi Muhammad terhadap istri-istrinya dan fakta bahwa istri pertamanya merupakan seorang pebisnis perempuan yang berhasil.

“Kalau saya disebut feminis Muslim, itu karena konstruksi patriarki,” kata Qayyum. Salah satu keprihatinan utamanya adalah masalah ruang publik bagi perempuan, baik fisik maupun intelektual, di pusat-pusat kegiatan masyarakat. Di sebagian masjid, para perempuan tidak bisa berpartisipasi dalam kapasitas yang sama seperti laki-laki. “Untuk mendapatkan tempat yang bersih, digunakan bersama dan terlindungi saja sudah merupakan tantangan besar,” katanya.

Bagi sebagian Muslimah, feminisme tidak terbatas pada masalah-masalah yang khusus menyangkut Muslim. Shaista Patel, misalnya, berfokus pada rasisme dan hak-hak pribumi. Patel mengidentifikasi diri selaku feminis Muslim anti-rasisme yang terlibat dalam aktivisme seputar pribumi di Kanada. “Tafsir saya lebih bersifat politis,” katanya. Menurutnya, “Tidak ada pemahaman yang tunggal atas feminisme Muslim.” Patel, yang berdarah Pakistan, mengajarkan komunitas Asia Selatan di Kanada tentang isu-isu pribumi. “Tugas saya,” katanya, “adalah mendidik diri saya tentang perjuangan orang-orang pribumi dan mendidik orang-orang yang terlihat seperti saya.”

Menurut Patel, salah satu isu paling kontroversial di kalangan feminis Muslim sekarang adalah pengertian tentang informan asli, yakni para perempuan yang dikenal sebagai pakar otoritatif dalam isu-isu Muslim, seperti apa yang disebut sebagai pembunuhan demi kehormatan. Menurutnya berbahaya bila ada seseorang yang dianggap sebagai seorang pakar yang bisa menjelaskan semua isu Muslim ke seluruh dunia. “Ini meracuni dan sangat merusak,” tandasnya, ketika seseorang dianggap berbicara atas nama seluruh perempuan Muslim.

Safa Samiezade-Yazd, Redaktur Seni, Budaya dan Musik di Aslan Media, dibesarkan sebagai Muslim. Meskipun kini ia tak lagi seorang Muslim yang relijius, ia mengidentifikasi diri sebagai seorang “Muslim kultural” dan mengatakan bahwa ada banyak muatan feminisme dalam Qur’an. Baginya, “Islam itu agama dialog, agama masyarakat.”

Seperti yang ditunjukkan oleh perempuan-perempuan ini, istilah “feminisme Muslim” menantang berbagai cara pandang dan mencakup spektrum pandangan yang luas, yang tak seorang perempuan pun, Muslimah sekalipun, bisa definisikan. Patut diingat bila nanti kita, sebagai pelaku media, menanyakan perspektif seorang Muslimah, yang sebenarnya kita lakukan adalah mewawancarai seorang individu yang dinamis.

Saya pribadi akan berupaya untuk mengungkap wawasan dan sudut pandang mereka ketika menulis tentang isu-isu perempuan. Kita semua bisa memetik manfaat dari penuturan mereka untuk lebih memahami kompleksitas dan keragaman pengalaman seorang perempuan dalam budaya Amerika.

* Erika L. Sánchez, seorang penyair dan penulis lepas yang tinggal di Chicago. Ia kini menjadi kolumnis rubrik konsultasi cinta dan seks untuk Cosmopolitan for Latinas dan kontributor Huffington Post, NBC Latino, dan media-media lain.

Artikel ini ditulis untuk Kantor Berita Common Ground (CGNews) dan mendapat untuk publikasi di HMINEWS.Com.