HMINEWS.Com – Banyak pengamat politik yang salah menganalisis dunia politik Indonesia, dalam hal perbedaan ideologi partai politik, antara Islam dan nasionalis. Penyebabnya tidak lain adalah diaspora alumni Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) ke berbagai parpol dan mampu meraih posisi puncak.

“Banyak pengamat politik salah karena HMI. Mereka katakan bahwa partai Islam telah kalah. Padahal semua parpol sudah sangat Islami, dan nasionalis. Jika Golkar saya dan Akbar Tanjung yang jadi ketuanya, apa bedanya dengan PKB? Jika Demokrat Anas Urbaningrum ketuanya, apa bedanya dengan PAN?,” kata Jusuf Kalla dalam sambutannya pada acara pelantikan KAHMI di JCC, Senayan, Selasa (5/2/2013) malam.

Menurut JK, itulah pentingnya berdiaspora ke segala lini sehingga memungkinkan terjadinya apa yang bisa disebut sebagai ‘islamisasi.’ Sehingga tidaklah dikotomi ‘Partai Islam’ dengan ‘Partai Nasionalis’ kini kurang relevan di zaman kini.

JK menyebut, alumni HMI boleh menyebar ke mana saja, dengan profesi apa pun, namun mereka tetap terikat oleh nafas yang satu, yaitu nafas Islam. Hal itu sebagaimana tujuan berdirinya HMI: menegakkan kemerdekaan Indonesia dan mengembangkan ajaran Islam.

Mantan calon presiden dari Patai Golkar tersebut juga sedikit mengkritik tema pelantikan KAHMI, yaitu ‘Memenangkan Masa Depan Indonesia.’ Menurutnya tidak perlu lama menunggu masa depan, akan tetapi di masa sekaranglah KAHMI harus memenangkan Indonesia.