HMINEWS.Com – Pengamat ekonomi, Dradjad Wibowo mengatakan kebijakan impor pangan merupakan ironi ekonomi Indonesia. Impor yang berlebihan menunjukkan kegagalan produksi pangan dalam negeri yang seharusnya dibina oleh pemerintah.

“Impor pangan adalah salah satu ironi ekonomi negara ini. Bukan karena impor harus dilarang, tapi karena impor pangan kita sudah berlebihan. Faktor penyebab utamanya adalah kegagalan produksi pangan kita menyamai pertumbuhan permintaan pangan domestik, baik dari kuantitas maupun kualitas,” ujar Dradjad Wibowo, Senin (4/2/2013).

Menurut Dradjad, sejak lengsernya Presiden Suharto, kebijakan produksi pangan dianaktirikan, mulai dari pra produksi, produksi, distribusi hingga stabilisasi harga dan teknologi pertanian dan pangan.

“Terlepas dari kesalahan-kesalahan beliau, Pak Harto menempatkan kebijakan pertanian dan pangan pada prioritas utama. Contohnya, dulu kita punya penyuluh pertanian yang andal, sekarang mereka seperti menjadi warga kelas dua. Dulu kita punya Bimas dan Inmas, sekarang hilang,” jelasnya.

Dradjat memandang kini sudah saatnya kebijakan pertanian dan pangan diprioritaskan, konversi lahan subur menjadi lahan non-pertanian dihentikan dan impor pangan harus ditekan. Hal-hal semacam itu, lanjutnya harus ditempuh melalui intervensi negara, dengan undang-undang maupun instrumen kelembagaan negara.

“Jika hal-hal di atas tidak dilakukan, Indonesia akan terus menjadi bahan lelucon para ahli pertanian dan pangan dunia, serta menjadi pasar yang gemuk bagi produk impor,” cetusnya. [Detik]