Natana J. DeLong-Bas

Revolusi Arab yang dikenal dengan nama ‘Arab Spring’ (Musim Semi Arab) telah menunjukkan kekuatan dan tekad banyak perempuan Arab yang turun ke jalan dan menggunakan internet untuk menyerukan perubahan di pemerintahan dan negara mereka. Stereotip-stereotip tentang ketertindasan dan kepasifan mereka hilang sudah, berganti dengan suara dan wajah harapan, keberanian dan semangat yang gigih, untuk menuntut pergantian rezim dan pemerintahan baru yang inklusif, yang nantinya memberi para perempuan hak dan tempat di negara baru yang bebas dari korupsi.

Namun, Musim Semi Arab sekarang dianggap oleh banyak orang telah berganti menjadi Musim Gugur Arab, setelah berbagai media mempertanyakan apakah pergantian rezim yang sesungguhnya telah benar-benar terjadi. Ada banyak keresahan menyangkut seberapa besar “Islam” memainkan peran dalam pemerintahan-pemerintahan yang baru ini. Dan, dalam proses peralihan ini, hak-hak perempuan pun pada umumnya dipinggirkan, sehingga perempuan kembali ke posisi sebagai subjek negara dan objek dari kebijakan-kebijakannya, dan bukan sebagai aktor dan kontributor.

Tetapi, Bukan Berarti Mereka Tinggal Diam.

Setidaknya dalam dua tahun terakhir ini mereka telah berhasil mengangkat diskusi tentang kesetaraan ke kancah publik di seluruh Timur Tengah. Pelajaran terbesar yang mereka petik adalah kepercayaan diri kolektif yang berasal dari keberhasilan dalam berpartisipasi di ranah publik; keberdayaan karena suara mereka didengar, bahkan di Arab Saudi belum lama ini Raja Abdullah mengumumkan akan melipatgandakan jumlah perempuan yang akan ditunjuk menjadi anggota Majelis Syura (MPR-nya Saudi); pengalaman menjadi agen perubahan positif yang bisa menarik perhatian orang ke berbagai macam isu mulai dari masalah-masalah lingkungan hingga pembangunan kultur kesukarelawanan; dan pengalaman berdampingan dengan laki-laki untuk mencapai tujuan nasional bersama.

Pengalaman-pengalaman ini tidak bisa diremehkan, ataupun dihilangkan dari hati mereka. Pengalaman-pengalaman tersebut menanam benih yang akan terus tumbuh menjadi berbagai tuntutan mengenai hak-hak perempuan, tak peduli bagaimana suramnya situasi di sekitar mereka sejak masa revolusi.

Aktivisme buat mereka bukanlah suatu hobi pribadi atau tindakan iseng semata. Aktivisme ini sangat penting bagi masa depan negara, sehingga mereka akan terus melanjutkannya.

Di Bahrain, sekalipun ada berbagai ancaman dan tindakan pelecehan, aktivis HAM Maryam Al-Khawaja berkicau di twitter berulang kali dalam sehari untuk menyebarkan berita tentang kasus-kasus peradilan, penangkapan dan penggerebekan. Dan jurnalis Reem Khalifa tak menghiraukan pelecehan, ancaman mati dan bahkan granat setrum dari aparat keamanan untuk bisa meliput berbagai aksi unjuk rasa damai pro-demokrasi.

Di Mesir, jurnalis, blogger dan aktivis HAM Nawara Negm menggunakan Twitter untuk mendorong anak muda agar tetap aktif secara politik; aktivis hak-hak sipil dan blogger Esraa Abd ElFattah – yang dikenal sebagai “Gadis Facebook” lantaran postingan-postingan terkininya di Facebook dan Twitter selama bergulirnya revolusi – melanjutkan upayanya dengan Egyptian Democratic Academy, untuk melatih anak muda tentang produksi media dan pemantauan pemilu; sementara jurnalis Rasha Azab berupaya mengekspos kasus-kasus penganiayaan oleh militer.

Di Libya, Rihab Elhaj dan Iya Khalil mendirikan New Libya Foundation untuk membangun masyarakat sipil dari bawah dengan mengajarkan keterlibatan aktif berwarganegara, keterbukaan, dan kerjasama. Magda Sharkasi ikut mendirikan Tibra Foundation untuk memberi penghargaan dan imbalan pada para perempuan muda Libya yang bergerak demi tujuan masyarakat. Sedangkan Libyan Women’s Forum meningkatkan kesadaran dan pengakuan terhadap hak-hak perempuan dan menuntut agar hak-hak itu termaktub dalam konstitusi. Para perempuan Libya sekarang berupaya menangani segala masalah, mulai dari perlindungan lingkungan hingga advokasi HAM, perlindungan situs-situs suci dan bersejarah serta pengumpulan senjata.

Mengapa?

Karena revolusi-revolusi ini bukanlah soal “hak-hak perempuan” saja – melainkan menyangkut hak setiap orang – hak akan demokrasi, kebebasan dan martabat manusia – dan penciptaan iklim politik yang kompetitif dan sehat di mana semua komponen dilibatkan. Sampai semua ini tercapai, revolusi belumlah usai.

Perempuan terus unjuk diri, terus angkat bicara, terus berunjuk rasa dan terus menuntut hak-hak mereka. Dan mereka tidak akan berhenti. Semangat, keberanian dan tekad mereka tidak bisa dihentikan. Mereka telah menyadari kuatnya pengaruh aksi kolektif dan besarnya kekuatan yang bisa dimiliki dengan menyatukan suara mereka.

Ini bukanlah Aljazair pada tahun 1960-an ketika kebutuhan akan adanya suatu negara poskolonial dianggap lebih besar daripada “masalah-masalah perempuan.” Ini tahun 2013, saat isu-isu perempuan merupakan isu setiap orang dan kebutuhan bangsa tidak bisa dipenuhi tanpa menyertakan suara semua warga negara – perempuan dan laki-laki, muda dan tua, dari setiap suku dan agama.

Sama seperti ketika mereka berkolaborasi dan bekerjasama pada masa awal Revolusi Arab, mereka pun terus melanjutkan upaya itu hingga sekarang untuk memastikan bahwa kesetaraan tidak saja termaktub dalam konstitusi yang baru, namun juga diterapkan di lapangan.

***

Dr. Natana J. DeLong-Bas adalah Pemimpin Redaksi The Oxford Encyclopedia of Islam and Women dan pengarang Wahhabi Islam: From Revival and Reform to Global Jihad. Mengajar perbandingan agama di Boston College.

Artikel ini ditulis untuk Kantor Berita Common Ground (CGNews) dan untuk dipublish juga di HMINEWS.Com